AMBON,MRNews.com,- Meninggalnya Presiden Republik Indonesia (RI) ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie Rabu (11/9/19) pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta dalam usia 83 tahun mendatangkan duka mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa kecuali. Jenazah almarhum pun telah dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta berdekatan dengan pusara sang istri.
Duka tersebut karena mengenang pengabdian, loyalitas dan kerja baik untuk bangsa dan negara secara khusus pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, bahkan dalam komitmen cinta sejati dengan pasangannya, almarhuma Hasri Ainun Besari/Habibie yang sudah lebih dahulu meninggalkannya. Termasuk oleh walikota Ambon Richard Louhenapessy pun mengenang sosok yang dijuluki bapak Dirgantara dan Bapak Demokrasi.
Menurut walikota, ada satu hal yang membuatnya sangat respek dari almarhum. Kalau soal cerdas semua orang tahu Habibie orangnya cerdas, soal pentokohan pun demikian semua orang tahu, tapi satu hal luar biasa yang dilakukan almarhum buat Indonesia yaitu beliau meletakan demokrasi moderen buat Indonesia. Karena untuk pertama kali, sejarah demokrasi zamannya beliau menjadi Presiden, almarhum mampu melaksanakan sebuah mekanisme pemilihan yang betul-betul sangat terbuka dan demokratis.
“Jadi sebuah kekuatan, sebuah nilai, yang menurut saya sampai saat ini kita warisi. Kalau kali ini kita warisi dengan mekanisme pemilihan langsung, itu diawali oleh sebuah dasar yang kuat yang diletakan oleh pak Habibie,” tukas walikota saat ditemui di Balaikota Ambon, Kamis (12/9/19).
Kemudian lanjutnya, bagaimana almarhum menempatkan diri dalam posisi-posisi yang benar selaku kepala negara maupun kepala pemerintahan, terutama dalam menjaga kewibawaan pemerintahan itu.
“Misalnya saya ingat, dalam sejarah kan juga pada waktu laporan pembahasan pertanggung jawaban Presiden, beliau hadir sendiri di DPR. Padahal tidak perlu untuk hadir. Kenapa karena beliau ingin memberikan contoh kepada pemimpin di daerah supaya menempatkan nilai-nilai demokrasi secara betul-betul efektif,” kenang Louhenapessy.
“Itu yang saya belajar dari beliau yang saya lihat, selain banyak orang kagum beliau dan secara umum saya kagum. Tetapi ini menurut saya nilai yang tidak pernah saya dapat di kepemimpinan Presiden sebelumnya,” sambung politisi Golkar.
Meski almarhum yang juga senior partai Golkar dalam ingatan belum pernah datang ke kota Ambon, tetapi diakuinya, tentu apa yang dilakukan almarhum bagi perjalanan bangsa Indonesia tercatat dengan tinta emas dan selalu terukir manis bagi anak cucu kelak. “Belum terlalu saya ingat. Saya tidak tahu beliau pernah ke Ambon atau tidak. Saya lupa. Tetapi memang beliau sebagai tokoh yang luar biasa menurut saya dan tidak ada duanya untuk Indonesia,” tuturnya. (MR-02)
