AMBON,MRNews.com,- Untuk memilih saham, setiap orang harus bisa jeli untuk melihat kondisi pasar, sebab ketika harga naik maka akan mendapatkan keuntungan begitu pula jika turun otomatis memberikan kerugian. Karena itu, pentingnya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak tergiur dengan investasi-investasi bodong yang dapat merugikan diri sendiri.
“Masyarakat harus jeli ketika ingin berinvestasi, saya mau katakan bahwa di Maluku Utara banyak yang tertipu akibat investasi bodong, contohnya saja seperti Bitcoin. Jadi saya sangat berharap bahwa masyarakat Maluku harus berhati-hati,” himbau kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Cabang Ambon, Alberto Dachi kepada awak media pada kegiatan workshop wartawan dengan tema “Market Update Pasar Modal Indonesia” di 27 Cafe, kota Ambon, Rabu (14/8/19).
Untuk memberi pengenalan kepada masyarakat tentang pasar modal maka BEI Cabang Ambon sebut Alberto selalu melakukan berbagai kegiatan, mulai dari sekolah pasar modal dan workshop dan lain sebagainya. “Menjadi nasabah sangat mudah, makanya kita selalu memberikan edukasi kepada siapa saja yang ingin mengikuti pelatihan-pelatihan sehingga mereka bisa berinvestasi. Karena dengan berinvestasi akan bisa memberikan kemajuan perekenomian,” ujarnya.
Lebih lanjut kata Alberto, untuk pasar modal Maluku terus mengalami peningkatan, dimana tahun 2016 jumlah investor di Maluku 435 investor, angka ini terus meningkat di tahun 2018 yakni 1.649 investor atau tumbuh 783 investor. Sedangkan tahun 2019 ini pada triwulan I mengalami perlambatan yakni jumlah investor saat ini 1.907 investor artinya baru 258 investor. Namun harapannya diakhir tahun 2019 bisa mencapai target 100 persen.
“Untuk jumlah transaksi investor di Maluku tahun 2019 pada triwulan I saat ini sebanyak Rp 104,5 miliar. Yang mana di tahun 2018 sebesar Rp 147,6 miliar. Saat ini masyarakat khususnya pelajar sangat tertarik dengan pasar modal. Yang menjadi kegemaran mereka adalah pada jual beli saham dan juga reksadana,” ungkapnya.
“Rata-rata itu mayoritasnya dari karyawan baik itu PNS maupun swasta yang berusia 25 sampai 40 tahun. Namun kalau di jual beli saham lebih banyak adalah mahasiswa, karena mereka sangat suka berinvestasi jual beli saham sebab mudah dilaksanakan,” sambung Alberto. (MR-02)
