AMBON,MRNews.com,- Kelompok orchestra asal Spanyol, OCAS menghipnotis masyarakat Kota Ambon yang hadir di Lapangan Merdeka untuk melihat penampilan mereka di konser penutup dalam Vinculos for Indonesia 2018 di Kota Ambon, Sabtu (4/8/18) malam. Lewat kolaborasi harmonis dengan 70 musisi muda paduan alat music dari Tahuri Negeri Hutumuri, Leitisel yang dipimpin Carolis Elias Horhoruw, mereka menyajikan tiga lagu khas Maluku; Ayo Mama, Huhate dan Goro-Gorone. Beberapa jam sebelumnya di hari itu, OCAS juga sukses menunjukkan kelas bermusik orchestra di Taman Budaya.
Dalam konser itu, OCAS menampilkan 10 lagu termasuk 3 lagu khas Maluku. Mereka juga menunjukkan sejumlah komposisi klasik Spanyol, Kuba dan lagu bernuansa tari flamengo dengan pengaruh musik Gypsy dari Andalusia yang digubah dua bersaudara anggota OCAS; Javier dan Pablo Carmona, berjudul Fuente de las Lagrimas, Itimad dan Malaguerias. Diiringi tari flamengo penuh gairah jadi pengalaman pertama tak terlupakan bagi masyarakat Ambon. Suasana demikian hangat, casual dan bersahabat, berbeda lazimnya sebuah konser musik orchestra di ruang tertutup.
Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI, Nadjamuddin Ramly, mengaku, kegiatan Vinculos untuk Indonesia 2018 di kota Ambon dengan tema “Menebarkan semangat solidaritas, perdamaian, persatuan dalam kemajemukan (solidarity, peace and unity in diversity)”, sebagai upaya mendukung ditetapkannya Ambon sebagai kota musik dunia oleh UNESCO di tahun 2019 mendatang. “Sangat tepat kita memilih Kota Ambon, yang kaya dengan seni dan musiknya. Ambon memang layak menjadi kota music dunia oleh UNESCO pada tahun 2019,” ujarnya.
Sementara itu, staf Kedutaan Besar Spanyol untuk Indonesia, Beatriz Chivite berterima kasih dan merasa terhormat hadir di Ambon dalam suasana perayaan 60 tahun hubungan diplomatik antara Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Spanyol. Lawatan OCAS ke Ambon sebagai cerminan hubungan kedua negara yang semakin harmonis dan kuat. “Walaupun kedua negara memiliki bahasa begitu berbeda, namun bahasa musik sekali lagi terbukti mampu mengatasi halangan yang ada untuk mempererat hubungan, tidak hanya negaranya namun juga orang-orangnya, seperti malam indah ini,” terangnya.
Walikota Ambon, Richard Louhenapessy dalam sambutannya mengaku, Ambon telah bekerja keras, tentu dengan dukungan penuh pemerintah pusat dalam menghelat konser Vinculos for Indonesia di kota Ambon, untuk memperlihatkan Ambon patut dinobatkan sebagai kota musik dunia oleh UNESCO tahun 2019 nanti.” Saya sampaikan terima kasih khusus kepada kelompok orkestra OCAS yang telah mengunjungi Ambon, serta kepada pemerintah kerajaan Spanyol atas terjalinnya hubungan diplomatik selama 60 tahun,” papar Walikota.
Sedangkan, direktur sekaligus konduktor musik orkestra OCAS, Manuel Vasquez mengaku, penampilan mereka bersama musisi Tahuri Hatumuri adalah pengalaman paling berkesan, karena melalui proses cukup rumit. “Konser penutup ini dirasakan begitu seru dan berhasil mempersembahkan harmoni dari dua dunia berbeda. Ambon punya banyak potensi musik yang demikian istimewa. Salah satunya sanggar musik Kakoya Hutumuri, yang para musisinya mampu berkolaborasi dengan OCAS. Ambon harus miliki orchestra baik dan bagus. Saya juga sangat mendukung Ambon jadi kota musik dunia,” papar Manuel.
Untuk diketahui, OCAS memulai rangkaian konser orchestra di kota Ambon, Maluku sejak 31 Juli hingga 4 Agustus. Selanjutnya, OCAS akan melanjutkan lawatan musiknya ke Kabupaten Parigi Moutong, Kabupaten Sigi dan Kota Palu, Sulawesi Tengah pada 5-14 Agustus 2018, Pekanbaru di Riau dan DKI Jakarta, berkolaborasi juga dengan musisi-musisi lokal. Bakal diisi dengan workshop, kunjungan sosial, flash mob dan konser kolaborasi bersama Palu Percussion yang akan diselenggarakan di Taman Hutan Kota Kaombona serta konser di Festival Vula Dongga di Kabupaten Parigi Moutong. (MR-02)
