Uskup Mandagi: Jangan Lagi Ada Perbedaan Agama
Maluku 

AMBON,MRNews.com.- Aksi teror yang terjadi pada beberapa daerah di Indonesia, membuat luka dan keprihatinan yang mendalam bagi seluruh rakyat di negeri ini. akibat aksi tetoris ini, banyak jiwa yang melayang termasuk nyawa anak-anak yang tak bersalah. menyikapi hal tersebut pimpinan keuskupan Amboina di Ambon yakni, Uskup Diosis Amboina, MGR. P.C Mandagi,MSC kepada awak media di kantornya menyatakan dengan tegas umat Khatolik mengutuk keras perbuatan para teroris yang akibat perbuatan tersebut, banyak manusia yang korban.

” Perbuatan mereka melawan kemanusiaan alias biadap Tidak ada agama apapun yang mengajarkan perbuatan biadap seperti ini Kalau ada orang. khususnya kalau ada politisi yang secara diam-diam mendukung perbuatan Teroris ini. maka mereka itu juga adalah biadap,” tegas Uskup.

Dirinya mengajak, aga partai-partai politik di Indonesia membersihkan partai mereka dari orang-orang biadap

“Kami umat Katolik Keuskupan Amboina turut berdukacita bersama dengan orang-orang yang menjadi korban perbuatan teroris, Doa kami ialah supaya mereka yang meninggal kini hidup berbahagia di surga dan semoga mereka yang terluka cepat sembuh,” ucapnya.

Kekerasan tambah Uskup, bukanlah jalan untuk mengatasi masalah-masalah dalam hidup. Kekerasan apapun justru semakin menciptakan masalah, sebab kekerasan berasal dari setan, sumber segala masalah Jalan yang paling tepat untuk mengatasi masalah adalah cinta kasih khususnya dialog. Masyarakat Maluku sudah belajar dari pengalaman tragedi manusiaan.

“Jangan lagi ada kekerasan di Maluku
nya karena ada perbedaan khususnya
perbedaan agama Hati-hati dan
waspadalah, jangan memberi kesempatan kepada orang-orang atau partai politik yang hanya mau mendapatkan kekuasaan pada waktu Pemilihan Kepala daerah, sehingga menciptakan kebencian dan kekerasan antar orang Maluku,” Demikian ucap orang nomor satu pada jajaran Khatolik di daerah ini. (MR-06)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *