AMBON,MRNews.com,- Seorang perempuan ketika menjadi pemimpin, sudah harus mampu mengalahkan rasa dengan rasio dalam pengambilan suatu keputusan. Dengan begitu, akan menjadikannya perempuan yang memiliki integritas tinggi.
“Setiap manusia dilahirkan punya rasa dan rasio. Apalagi perempuan, faktor rasa sangat kuat. Namun, saat sudah jadi pemimpin yang memimpin banyak orang dengan karakteristik berbeda-beda, maka rasa harus dikalahkan dengan rasio. Terutama dikala membuat keputusan penting dan strategis. Dengan demikian orang menilai, perempuan itu tangguh, berintegritas tinggi (kata dan perbuatan sejalan), komitmen. Hal ini yang harus dimaknai kartini masa kini di Maluku,” ungkap Ketua BPD HIPMI Maluku, Jaqueline Margareth Sahetapy kepada media usai menyampaikan materi dalam diskusi tematis bertemakan Kartini masa kini, relevansinya dengan pemberdayaan perempuan yang digagas GMKI Cabang Ambon di Aula PGSD Unpatti, akhir pekan kemarin.
Apalagi, kata Sahetapy, bila belajar dari sosok Raden Ajeng Kartini selaku pahlawan emansipasi wanita dan Martha Christina Tiahahu, kartini masa kini, maka perempuan sepatutnya dalam konsep pemberdayaan, penting mempunyai kepercayaan diri tinggi. Selain itu, harus tampil apa adanya. Karena yang bisa merubah sesuatu hanya diri sendiri. Dengan begitu, perempuan akan mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan laki-laki, bahkan lebih jika memiliki kemampuan itu.
“Kemandirian diri, kemauan dan dan motivasi tinggi sangat penting dimiliki perempuan. Harus juga mempunyai mimpi besar, berdoa, meyakini dan bertindak tepat. Serta bagaimana memiliki kekuatan membangun jaringan/networking. Sebagai pelaku yang menapaki perjalanan dari bawah hingga ke titik ini dan dalam kesadaran dimampukan menjalani semua itu secara sungguh dengan fokus di dunia enterpreunership. Selanjutnya, bagaimana kita berupaya merubah mindset perempuan lainnya untuk maju dan memberdayakan dirinya,” tegas Wakil Ketua DPD Demokrat Provinsi Maluku itu.
JMS demikian sapaan akrab Sahetapy, lantas mengapresiasi GMKI Cabang Ambon yang berupaya membangun paradigma bahwa perempuan harus bangkit, bergerak maju melawan keterpurukan, ketidakadilan, keterbatasan akses di ruang publik, melalui diskusi. Artinya, progress dalam bergerakan terus ditunjukkan terutama dalam menjawab tantangan di medan masyarakat. Dengan harapan, diskursus semacam ini tetap terbangun, dengan melahirkan pikiran-pikiran konstruktif.
Sementara itu, Kepala Dinas Pembedayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Maluku, Meggy Samson menilai, saat ini saling mendukung sesama perempuan sangat kurang. Sehingga penting membangun persepsi yang sama akan satu tujuan, kemajuan perempuan Maluku khususnya. Salah satunya tingkat pendidikan yang harus didorong secara baik, sebagai salah satu faktor pendukung majunya perempuan.
“Apresiasi tinggi bagi GMKI Cabang Ambon atas diskusi ini, satu langkah maju. Prinsipnya, dimulai dari mahasiswa selaku pionir untuk pembaharu mentransfer program pemerintah, karena mereka generasi milenial yang peka lewat program DP3A, one student one save family. Dimana kita akan memberikan motivasi, arahan, penataran tentang bagaimana pengentasan kekerasan terhadap perempuan. Sehingga ketika mereka turun KKN, bisa mensosialisasi kepada masyarakat luas,” demikian Samson. (MR-05)
