Merasa Dizalimi, BST Gunakan Panggung Hebat Sindir “Mantan”

AMBON,MRNews.com,- Ada hal menarik dari kampanye terbatas yang dilakukan oleh pasangan calon Gubernur-Wakil Gubernur Maluku nomor 3, Herman Koedoeboen-Abdullah Vanath (Hebat) di Lorong Coker, Kudamati Ambon, Sabtu (3/3).

Dari sejumlah nama yang berorasi politik, menariknya saat orasi politik oleh mantan kader PDI Perjuangan serta mantan bupati MTB dua periode, Bitsael Silvester Temmar (BST). Dimana BST yang dipecat PDI Perjuangan karena alasan membangkang perintah partai, “menyindir” berulang kali perlakuan sang mantan yang dinilai sewenang-wenang. Sehingga, bentuk dirinya melawan kesewenang-wenangan, sehingga harus ditendang keluar dari partai berlambang banteng moncong putih itu.

Bukan itu saja, BST menyindir pula perlakuan demikian terhadapnya tatkala 24 tahun mengabdi sebagai pengajar di Unpatti, tapi hanya sekali naik pangkat tanpa tahu alasan sehingga tidak pernah naik lagi dan sampai dirinya berhenti hingga terjun ke pentas politik, menjadi anggota DPRD Maluku dua periode.

“Sulit menemukan pemimpin punya hati. Dari kampus, ke DPRD, ke MTB dan kembali lagi kesini. Sejarah saya adalah perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. 24 tahun hanya bisa menikmati pangkat 3b, naik 1 kali dan tidak pernah naik pangkat lagi, sampai saya berhenti. Saya lawan itu. Demikian pula, ketika masuk dunia politik dan beberapa waktu lalu saya dipecat partai hanya karena melawan kesewenang-wenangan. Itu yang terjadi sepanjang hari-hari perjuangan saya,” ungkap BST.

Menurut BST, tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan, selama bertugas sebagai petugas partai, dirinya mengkhianati perjuangan partai. Bahkan, dirinya menjadi biang perjuangan partai dan tidak ada sedikit pun penghormatan atau penghargaan terhadapnya.

“Ketika menerima surat pemecatan, di hadapan konstitusi partai, saya berdiri setegak-tegaknya sambil menerima penghinaan ini,” kesannya.

Belajar dari perlakuan partai itu, BST memastikan akan terus melawan kesewenang-wenangan apapun bentuknya demi pendidikan politik yang baik dan kemajuan negeri Maluku. Karenanya, dipandang negeri ini butuh pemimpin yang punya hati dan pemimpin harus berubah. Namun, pemimpin berubah saja tidak cukup, rakyat pun harus berubah. Sehingga kalau kedua belah pihak berubah, membawa negeri ini lebih baik bukanlah sebuah kemustahilan. Bahkan tambah BST, saat pendaftaran awal Cagub, dirinya dan Herman juga mendaftar di mantan partai. Namun, akibat setoran kecil, keduanya tidak mendapat perhatian dan pintu ditutup, dan pihak yang setor besarlah yang diperhatikan. Selaras, pada tahun 2001, ketika ikut Pilkada MTB, dirinya sudah kantongi 12 dari 25 kursi DPRD, yang artinya hanya butuh 1 kursi lagi untuk terpilih. Manakala, tiga hari jelang Pilkada, disuruh beli 1 kursi namun ditolak. Sehari masuki Pilkada, tawaran naik dan tetap menolak. Artinya, tetap dengan 12 kursi dan lawan mendapat 13 kursi dan menjadi bupati.

“Dalam hati saya bilang, sampai disini jua. Sebelumnya, diujung pemerintahan di MTB, saya disuruh memilih pemimpin yang hanya bekerja untuk diri mereka sendiri dan saya lawan. Akibatnya saya dipecat partai. Untung Tuhan menggerakan Hery-Dullah, datang meminta dukungan rakyat di Maluku yang tahu kesulitan masyarakat. Para pemimpin berubah, mencari kekuasaan dengan cara terhormat, meraih kekuasaan melalui cara bermartabat,” tegas BST.

Berangkat dari sana, diakui BST kekuasaan diperoleh dengan cara-cara tidak rasional dan kekuasaan hanya mendatangkan koruptif belaka. Apalagi ketika kekuasaan dapat dibeli, hanya berguna bagi diri sendiri, tidak untuk siapapun. Sehingga, saat ini penentu di rakyat karena rakyatlah pemilik kedaulatan dan tidak boleh sembarangan menyerahkan kepada orang yang tidak bisa bertanggungjawab. Salah satu program yang buatnya tertarik berada dalam perjuangan ini tambah BST, Herman-Vanath ingin mendistribusikan keadilan bagi semua rakyat Maluku. Karenanya, tidak ada pilihan lain bagi negeri ini, kecuali membersihkan pemerintahan, menegakkan hukum. Dalam artian, ini saatnya memperbaiki pemerintahan yang bersih dan anti korupsi. Sehingga, keduanya dihantar dan ditawarkan kepada masyarakat.

“Kita hantarkan pemimpin yang punya hati. Jangan serahkan kedaulatan kepada yang tidak bertanggungjawab. Kehormatan keduanya bukan terletak pada uang, otak tapi hati. Jadi terserah bapak/ibu, kalau mau keadaan generasi mendatang jauh lebih baik, ini tawaran terbaik. Secara etika, saya berani berteriak karena ada masalah. Ini tantangan kita. Saya percaya, Hebat dapat mengerjakan tugas kemanusiaan bagi kehormatan dan kemajuan negeri,melalui kepercayaan bagi keduanya,” kunci BST. (MR-05)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *