Vanath Beberkan Bukti Dugaan Polisi Pasang Spanduk Baileo
Maluku 

AMBON,MRNews.com,- Calon wakil Gubernur Maluku nomor 3, Abdullah Vanath di akhir debat publik kedua pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur (Pilgub) Maluku, di Baileu Siwalima, Rabu (20/6/2018), membeberkan dan menunjukkan ke publik secarik kertas berisikan bukti foto dugaan adanya anggota polisi yang memasang spanduk pasangan Baileo di salah satu daerah di Maluku. Terjadi saat sesi tanya jawab dengan pasangan nomor dua, Murad Ismail-Barnabas Orno (Baileo). Sembari berharap tanggapan dan jawaban Murad Ismail, sebagai mantan Kapolda Maluku.

“Ada oknum anggota polisi, yang memasang spanduk pasangan Baileo di beberapa daerah. Pertanyaan kepada pa Murad, sebagai mantan Kapolda, bagaimana tanggapan bapak terhadap hal itu,” tanya mantan Bupati Kabupaten SBT itu.

Menanggapi hal tersebut, Murad Ismail menegaskan, sebenarnya dirinya tidak perlu menjawab pertanyaan itu, karena sudah keluar dari konteks debat. Dengan nada yang agak emosi, dirinya lantas menghardik balik Vanath atas pertanyaan tersebut.

“Saya mau bicara ke pa Vanath, di setiap ketemu dengan masyarakat, pa Vanath selalu mengatakan, Murad Ismail itu tidak pernah memimpin. Pa Vanath tahu, saya sekolah AKABRI lulus tahun 1985, PTIK tahun 1992, Sespim tahun 1998 dan Sespati tahun 2010. Saya tidak jelas pa Vanath sebenarnya siapa? dan waktu jadi bupati SBT 10 tahun, apa yang dibuat?. Hampir semua SKPD pa Vanath masuk penjara. Ini yang perlu saya jelaskan kepada masyarakat,” tanya Murad kesal.

Terhadap itu, pendamping Vanath yang juga Cagub, Herman Koedoeboen mengaku, bicara pembangunan sumber daya manusia (SDM) maka aspek demokratisasi juga dibutuhkan, sisi positifnya harus dilihat. Karena tidak mungkin SDM rendah akan membangun suatu demokrasi yang sehat, bermartabat, tergantung SDM yang bukan saja dilihat dari dimensi intelektual. Tapi kecerdasan emosional dan sosial. Artinya, jangan dilihat aspek politik sebagai contoh kasus yang dikemukakan Vanath.

Tak cukup disitu, respons pun datang dari Barnabas Orno yang mengaku, mungkin saja foto yang ditampilkan Vanath sebagai rasa terima kasih anggota terhadap pemimpinnya tanpa disuruh. Hal kejam, kalau berpolitik merusak demokrasi dengan isu memilih karena satu agama, suku. Padahal, Maluku beragam agama, suku dan budaya.

“Kita nggak tahu, masa kamu (wartawan-red) tanya saya. Nggak tahu foto dia itu betul atau tidak, itu khan kita nggak tahu. Itu khan fotocopi. Tidak ada perintah apa-apa. Nggak. Polisi dari mana itu. Tanya aja sama dia, dia yang ngomong masa ke saya,” tambah Murad dengan kesal saat diwawancarai media usai debat.

Vanath pun mengaku, memiliki beberapa dokumen dan baru ditunjukkan satu. Apalagi, fotonya benar dan sudah dilaporkan ke Bawaslu. Namun dirinya enggan menyebut kapan,dimana dan oknumnya. “Ada bukti laporannya tidak, kalau sudah lapor. Siapa melapor, tidak ada. Belum ada laporan,” jelas komisioner Bawaslu Maluku, Paulus Titaley menanggapi pengakuan Vanath dan timnya soal sudah layangkan laporan. (MR-05)

News Reporter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *