AMBON,MRNews.com,- Balai Kesehatan Paru Masyarakat (BKPM) Ambon telah menjadikan Desa Batu Merah, sebagai awal implementasi program unggulan Desa Peduli TBC Mandiri dari Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) dan mendukung program Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tentang eliminasi TBC tahun 2030, sejak bulan Mei 2018 lalu. Kebijakan BKPM Ambon ini pun diapresiasi Ketua Umum ARSABAPI, dr Moh. Ali Toha.
“Kita apresiasi dan dukung penuh jika sudah jalan di Ambon, karena tujuannya baik untuk pemberantasan TBC, dengan menggerakan peran serta masyarakat. Apalagi gagasan awal untuk membuat model Desa Peduli TBC Mandiri itu lahir dari Plt Kepala BKPM Ambon, dr Samsila Mona Rumata dan jajarannya,” tandas Ali kepada media dalam press conference di sela-sela Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Rumah Sakit dan Balai Kesehatan Paru Indonesia (ARSABAPI) tahun 2018, Jumat (13/7/2018) di Hotel Santika, Ambon.
Menurut Ali, ide Desa Peduli TBC Mandiri sesuai dengan peran fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) Paru khususnya Balai Kesehatan Paru dalam menjalankan fungsi usaha kesehatan masyarakat (UKM) secara lebih nyata. Karenanya, perlu diwujudkan secara komprehensif dalam mendukung program pemerintah. Pasalnya, pelaksanaan program ini membutuhkan dukungan lintas sektor khususnya jajaran Pemerintah Daerah dan diharapkan akan membantu tercapainya program eliminasi TBC 2030.
“Pengurus ARSABAPI dan seluruh Fasyankes anggotanya berharap program itu dapat digaungkan agar berkembang ke seluruh pedesaaan di Indonesia, tentu dengan pengayaan pada beberapa aspeknya dan akan menjadi sasaran program unggulan ARSABAPI 2018-2019. Rakernas menjadi forum menselaraskannya. Bahkan secara khusus guna mendukung program Kemenkes untuk mencapai Elminasi TBC tahun 2030, tema Rakernas ARSABAPI 2018 yakni “Peran Fasyankes Paru Dalam Mendukung Sustainable Development Goal’s”,” ujar Ali.
Disamping itu, tambah Ali, memperhatikan makin meningkatnya jumlah penderita asma dan perkembangan teknologi diagnosis dan penanganan pasien asma, pada Rakernas juga diadakan seminar dan workshop tentang asma. Sehingga kemajuan dalam pengobatan penyakit asma ini bisa lebih dipahami tenaga kesehatan agar lebih baik lagi dalam mendorong masyarakat. Kegiatan lainnya yaitu lomba senam asma, lomba video kreatif penyuluhan kesehatan dan lomba banner kesehatan paru.
“Setiap tahun ARSABAPI menggelar Rakernas yang bertujuan mengevaluasi pelaksanaan program pembinaan Fasyankes Paru dan menyusun rencana kerja tahun berikutnya. Sejak 2015, Rakernas menyusun rencana kegiatan yang berorientasi pada pemberdayaan Fasyankes Paru melalui rangkaian program penguatan organisasi dan peningkatan peran dalam bidang pelayanan kesehatan Paru. Berbagai seminar, simposium dan wokrshop diorientasikan pada penguatan Fasyankes Paru. Rakernas juga menjadi ajang silaturahmi para pimpinan Fasyankes Paru seluruh Indonesia,” ungkap Ali.
Sementara itu, Plt Kepala BKPM Ambon, dr Samsila Mona Rumata, mengaku, program Desa Peduli TBC Mandiri di Desa Batu Merah, didesain ada pojok peduli TBC Mandiri. Dimana kader dilatih guna menginformasikan kepada masyarakat tentang TBC dan permasalahannya serta penanggulangan atau cara mencegahnya. Serta keterlibatan masyarakat dalam program ini pun terjadi, dengan tugasnya masing-masing, terutama tiap keluarga, karena sasarannya minimal satu orang tahu tentang informasi TBC sebagai penyakit menular yang sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, sehingga perlu dieliminasi.
“Batu Merah karena ada di pusat ibukota provinsi dan aksesnya mudah dijangkau. Bukan tidak mungkin tahun depan juga Desa Peduli TBC Mandiri ada di desa lainnya dan di 10 Kabupaten/Kota, tergantung pembiayaan karena didanai dari APBD. Percontohan di Desa Batu Merah karena kita lihat juga dari jarak rumah penduduk dengan tingkat penularan tinggi dan angka prevalensi/kesakitan tinggi serta bisa ditekan. Kita ambil contoh 5 orang di 1 RT yang terinfeksi TBC pada 2017 dan 2018, sembuh. Jadi indikatornya, kesadaran masyarakat untuk berobat sudah baik dan teratur,” terang Rumata.
Sekadar diketahui, ARSABAPI dideklarasikan pada 15 Juli 2011 di Bukit Tinggi, sebagai upaya menyatukan sikap dan langkah fasilitas layanan kesehatan (Fasyankes) Paru se-Indonesia guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat dan produktif. Dalam perkembangannya, asosiasi perkumpulan Fasyankes Paru yang melaksanakan program usaha kesehatan perorangan (UKP) dan usaha kesehatan masyarakat (UKM) ini secara terus menerus berusaha meningkatkan perannya agar bisa membantu pemerintah dan masyarakat dalam memelihara kesehatan dan mengatasi masalah kesehatannya. (MR-02)
