AMBON,MRNews.com,- Setelah begitu lama terhambat pembangunannya akibat terjadi polemik, akhirnya tugu adipura yang berlokasi di depan pintu masuk bandara internasional Pattimura, Desa Laha, Kecamatan Teluk Ambon pun tuntas dikerjakan dan diresmikan oleh Walikota Ambon, Richard Louhenapessy, Sabtu (29/12/18) malam. Penyelesaian seluruh tahapan pembangunan tugu adipura memakan waktu 120 hari kalender, dengan anggaran bersumber dari APBD Kota Ambon tahun 2018.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Persampahan (LHP) Kota Ambon, Lucia Izaak mengatakan, adipura merupakan penghargaan dari pemerintah pusat terhadap pengelolaan kebersihan dan penataan lingkungan. Dan Kota Ambon sudah enam kali mendapatkannya. Adapun pembangunan tugu adipura ini bertujuan menginspirasi masyarakat kota Ambon dalam pengelolaan lingkungan perkotaan dan akan selalu mengingatkan masyarakat akan pentingnya pemeliharaan lingkungan demi kehidupan berkelanjutan.
Pilihan lokasi pembangunan tugu adipura tepat di pintu masuk bandara internasional Pattimura tentu kata Lucia, dilandasi pemikiran bahwa bandara Pattimura sebagai beranda terdepan Kota Ambon. Olehnya tugu adipura secara tidak langsung telah menginformasikan kondisi sosial masyarakat kota Ambon kepada siapapun yang datang dan pergi. Sejalan terselesaikannya pembangunan tugu adipura, tentu tak lepas dari peran semua pihak lebih khusus komandan pangkalan udara Lanud Pattimura Ambon serta General Manager dan jajaran PT Angkasa Pura I Persero cabang Bandara Pattimura.
“Desain dan konstruksi tugu adipura terdiri dari tiga bagian utama yakni bagian pertama kaki kolam air yang mewakili unsur kekayaan laut Kota Ambon. Kolam terbuat dari bahan beton dengan finishing batu andesit atau batu alam pada sisi luar. Sisi dalam kolam dipasang 4 buah air mancur yang dikombinasikan dengan lighting untuk mendukung estetika di siang atau malam hari. Bagian kedua merupakan badan dari tubuh berbentuk piramid yang mewakili unsur pegunungan Kota Ambon. Bentuk piramid ini sengaja didesain tanpa kepala untuk merefleksikan semangat dan perjuangan masyarakat kota Ambon dalam menjaga dan melestarikan alam yang dianugerahkan Tuhan,” tukas Lucia.
“Struktur piramida terbuat dari material komposit fiberglass dan baja, difinishing dengan cat, sedangkan pada dinding piramid diberi ornamen Maluku sebagai identitas lokal. Bagian ketiga merupakan kepala, pada bagian ini diletakkan tropi adipura yang merupakan puncak dari piramida ini. Merefleksikan keberhasilan yang diraih kota Ambon dalam pengelolaan lingkungan perkotaan guna mewujudkan kehidupan yang berkelanjutan keberhasilan kerjasama antara masyarakat pemerintah dan dunia usaha. Desain tropi adipura terbuat dari material fiberglass sedangkan logo adipura pada trophy terbuat dari kuningan,” lanjutnya.
Sementara Walikota Ambon, Richard Louhenapessy saat resmikan tugu adipura mengaku, dibangunnya tugu adipura ini jadi simbol atas sebuah kinerja masyarakat dan pemerintah daerah terhadap komitmennya bagi pengelolaan lingkungan.
“Kita pernah dapat Adipura pada zaman almarhum Walikota Decky Wattimena kemudian zaman almarhum Walikota Johanes Sugiono. Tapi kurang lebih 17 tahun, kota ini tidak pernah lagi mendapat apresiasi dari pemerintah pusat atas prestasi lingkungan. Namun 6 tahun terakhir, akhirnya kota Ambon kembali mendapat apresiasi itu. Dengan sertifikasi adipura yang diberikan 6 tahun lalu, setelah itu berturut-turut selama 5 tahun kita mendapat tropi adipura. Jadinya kita raih adipura sudah 5 kali dalam bentuk trophy dan sekali bentuknya sertifikat,” tuturnya.
Selain itu dipastikan juga kata Walikota, tahun depan Ambon akan dapat lagi adipura tapi bulan Januari baru menerimanya. Tentu capaian itu tidak mudah, karena persyaratan utama ketat. Dimana cara untuk mendapat kota-kota yang telah merumuskan dan menetapkan rencana strategi lingkungan dibuat dalam bentuk namanya Jastrada, kemudian diberi kesempatan persentasi dan diuji oleh para pakar. Maksudnya untuk mengetahui sejauh mana kepala daerah dan dinas lingkungan hidup komitmen menjaga kebersihan dan penataan lingkungan demi wujudkan kota maju dan berkembang.
“Dibangunnya tugu adipura ini sebagai simbol komitmen kita terhadap lingkungan di mana kita berada. Hal itu juga lantas semakin berat tantangan dan tanggungjawab kita bukan semakin ringan. Dengan peka terhadap masalah sampah dan lingkungan bagi anak cucu kelak. Semua itu harus terimplementasi lewat perilaku kita. Jangan nantinya ternyata tidak sesuai dengan itu artinya sia-sia. Mari kita komitmen lewat pembangun tugu adipura ini untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan bagi kepentingan anak cucu kita kedepan,” harap Walikota.
Hadir dalam kesempatan itu, perwakilan Danlanud Pattimura, Danramil, Kapolres Pulau Ambon, perwakilan PT Angkasa Pura, Ketua Klasis Pulau Ambon Utara, pimpinan OPD, aktivis lingkungan hidup, mahasiswa, camat, lurah, kepala sekolah dan kewang. (MR-02)
