AMBON,MRNews.com,- Jelang hari raya Natal dan Tahun Baru, tiket pesawat sejumlah rute penerbangan dari dan ke Ambon untuk semua maskapai melambung jauh hingga Rp 3 juta lebih. Hal ini mendapatkan kritikan tajam dari fraksi PDI perjuangan DPRD Kota Ambon karena seiring dengan banyaknya keluhan masyarakat sebagai transportasi udara.
Ketua Fraksi PDIP, Jafri Taihuttu menilai, banyak keluhan warga masyarakat bukan baru sekarang tapi jelang Pesparani Katholik nasional beberapa waktu lalu di Ambon, hingga sampai saat ini untuk flight ke Ambon tidak pernah harga turun dibawah Rp 2juta, Ambon-Jakarta dan sebaliknya serta Ambon ke daerah lain PP, mahal.
Padahal kata dia, harusnya hal utama maskapai harus membantu kepentingan masyarakat. Tetapi juga mesti membantu pemerintah daerah dalam urusan mudahnya dan terjamin investor masuk. Meskipun
perusahaan pasti punya orientasi profit atau mendatangkan keuntungan tapi wajib memperhatikan dua hal itu. Apalagi bulan depan sudah arus mudik jelang Natal dan tahun baru.
“Ini sangat memberatkan. Bayangkan saja kalau satu keluarga punya dua atau maksimal tiga anak, pasti sangat memberatkan. Kalau tiket Rp 2 jutaan lebih maka PP Rp 5 jutaan. Kalau ada dua anak berarti Rp 10 jutaan. Makanya saya kira maskapai penerbangan mesti toleran terhadap situasi dan kondisi masyarakat.
Padahal beberapa kali saya naik Batik Air via Halim ke Ambon tiketnya mahal tapi didalam pesawat kosong,” bebernya.
Dikatakan, dalam kepentingan DPRD merumuskan kegiatan macam apapun, yang berkaitan dengan visit Ambon 2020 atau tahun kunjungan ke Ambon maupun sekarang ini upaya menuju Ambon kota musik dunia, kalau tidak diback up maskapai penerbangan maka targetnya sulit tercapai. Padahal, orang di Jakarta mau ke Singapura, hanya butuh Rp 1 juta bolak balik
bahkan Rp 500-600 ribu dengan Air Asia pulang pergi (PP), demikian pula dari Jakarta-Bali Rp 600-700 ribu saja, ke Makasar juga murah dari Surabaya maupun sebaliknya. Tapi kalo dari Surabaya ke Ambon-Surabaya atau Ambon ke Makasar, sekarang sudah naik jauh.
“Saya lihat kenaikan ini konstan atau tidak menurun. Padahal prediksinya ketika ada momen Pesparani semua orang dari seluruh Indonesia datang ke Ambon tiketnya murah tapi lain cerita tiket mahal dan setelah itu tidak turun tapi mahal sekali. Karena itu saya bilang tadi harus membantu masyarakat tetapi juga membantu pemerintah supaya orang rame-rame datang ke Ambon. Kalau tidak, mungkinkah teman-teman organisasi kepemudaan, KNPI dan lainnya datang dan segel saja kantor maskapai sebagai bukti protes karena tiket yang terlalu mahal dan menyusahkan hati masyarakat khususnya,” tegasnya.
Ditambahkan, pihaknya ingin maskapai membantu terutama masyarakat dan pemerintah. Karena kalau tiket masih mahal akan membuat orang enggan berkunjung ke Ambon atau Maluku kalau tiketnya mahal. Percakapan ini di DPRD sudah ada. Bahkan DPRD meminta pemerintah daerah pun agar membicarakan dengan maskapai buka jalur rute langsung dari Bali ke Ambon, biar wisatawan tidak lagi lewat Makasar atau dari China atau Australia langsung masuk ke Ambon. Hanya tergantung pemerintah daerah memperjuangkannya.
“Komisi pasti bersikap lagi tetapi sebagai anggota DPRD hal seperti ini harus dibilang, yang namanya pegawai, dewan, pejabat lain ke Jakarta tidak masalah karena perjalanan dinas ada SPPD-nya. Tapi kalau mau pulang liburan Natal, tahun baru dan lain-lain lalu tiketnya Rp 2 jutaan- Rp 3 jutaan itu ribet dan masalah. Apalagi selisih kelas ekonomi dan bisnis tidak jauh beda di semua maskapai. Ini menjadi otokritik penting bagi maskapai. Kalau sudah mahal lalu kenyamanan dan keslamatan penumpang pun harus diperhatikan, jangan lalai,” tutupnya. (MR-02)












Comment