by

Kuti Kata; JANG AMBE LEBE LANGGAR KAHAROSANG! (Kel. 16:13-21)

AMBON,MRNews.com,- Dalam hidup ini “biar deng kurang-kurang, yang penting ada” (=walau seadanya, yang penting cukup) itu sudah cukup. Karena “ambel labe jua mau simpang di mana” (=mengambil lebih juga tidak tahu mau simpan di mana).

Kita tidak punya tempat untuk menyimpan segala hal secara berlebihan, karena “lebe jua kalu tar makang, akang basi, busu la buang, ayang tetu, bardosa” (=yang lebih pun kalau tidak dimakan menjadi basi, busuk dibuang dan dimakan ayam, semuanya sia-sia dan menjadi dosa).

“Jang ambe labe langgar kaharosang” (=jangan mengambil lebih melanggar ketentuan).

Ungkapan ini biasa disampaikan saat “ator hahalang di kabong” (=mengatur pikulan di kebun), misalnya “ambe kasbi, kaladi, ubi, pisang, kayo bakar” (=mengambil ubi kayu, keladi, ubi, pisang, kayu bakar), atau saat panen duriang (=duren), langsa (=langsat), manggustang (=manggis).

Mengingat jauhnya letak dusun dan rumah, maka “kaharosang” yang dimaksud adalah sesuai kemampuan kita “hala pikolang” (=memikul beban).

Ukuran kemampuannya sangat simpel, yaitu “kalu kuat angka sandiri taru bahu, brarti mampu” (=jika bisa mengangkat pikulan itu sendiri ke bahu, berarti mampu), namun “kalu orang yang kas nai bahu, loko bae jang paksa par biking susah di tengah jalang” (=jika orang yang membantu menaikkan ke bahu, sebaiknya jangan dipaksakan karena bisa susah di tengah jalan).

“Paksa lai la pohong kancing patah” (=jika memaksa ada efek ke pinggul). Jadi “jang ambel lebe langgar kaharosang”.

Ungkapan “jang ambel lebe langgar kaharosang” juga bermaksud mengingatkan waktu kerja.

Misalnya “bameti sore” (bameti adalah aktivitas mencari ikan, siput, dlsb di saat air laut surut, ada kawasan yang biasa mencari tempat untuk beraktivitas di pesisir).

Tanda waktu berhenti yaitu “aer su mulai nai” (=air mulai pasang), atau “matahari su mau maso” (=matahari hampir terbenam). Bila pada waktu itu masih ada yang “gale bia, tikang gurita, ka antohu” (=mencari sipit, mencari gurita, memancing ikan dalam lubang kecil), itu tanda sudah mulai “langgar kaharosang”.

Hal itu merupakan tanda “taku kurang, atau tar mau kurang” (=takut hasil yang didapatinya kurang dibandingkan orang lain).

Kritik terhadap perilaku ini biasa muncul dalam ungkapan seperti “uui, ada eso lai” (=masih ada esok) atau “uui, bia tar lari” (=siput tidak lari dari tempatnya/melarikan diri), atau “uui, akang tar linyap” (=semua itu tidak akan lenyap).

Jadi selalu kita diingatkan untuk “puas deng yang su dapa” (=puas dengan apa yang sudah diperoleh).

“Ambe lebe langgar kaharosang” merupakan kritik ketika ada orang yang “buang-buang makanang” (=membuang sisa makanan).

“Timba labe tar ukur-ukur poro” (=timba makanan melebihi kemampuan makan; ungkapan ini dialamatkan kepada orang yang mengambil makanan berlebihan), karena “inga orang blakang lai” (=ingat orang yang belum makan; yaitu anggota keluarga yang lain).

Atau kepada mereka yang “basimpang barang par busu” (=suka menyimpan makanan sampai busuk) sebagai tanda “sakakar” (=kikir).

Jadi “puas deng apa yang ada la iko mampu sa” (=berpuaslah dengan apa yang ada dan ikut kemampuan kita) jauh lebih baik.

Rabu, 23 Juni 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed