by

Kuti Kata; JANG BAGITU, SKANG KATONG SUSAH RAME-RAME (Kej. 12:10-20)

AMBON,MRNews.com,- “Coba kalu ale su mangaku yang batul dari kamuka, beta seng akan biking barang nau-nau nih” (=seandainya sejak awal anda mengaku yang benar, saya tidak akan melakukan kesalahan ini).

Ungkapan ini sangat terkait dengan “kalu ale pung, mangaku sa, jang katong tanya ale bilang bukang, la katong kira bisa ambel par milik, la konci rekeng katong susah rame-rame” (=jika itu milik anda, katakanlah, jangan ketika kami bertanya anda katakan bukan, akibatnya kita semuanya susah).

Ada “atorang” ( hukum-hukum) “pamali” dalam semua masyarakat, salah satunya “jang baringing yang bukang pung/yang orang pung” (=jangan mengingini yang bukan milik kita/yang adalah milik orang lain).

Melanggari itu “dapa susah” (=ditimpakan kesusahan), karena dalam masyarakat “seng boleh biking sabarang-sabarang” (=tidak boleh melakukan hal yang salah).

Tujuannya “laeng hormat laeng” (=untuk saling menghormati), dan “seng baringing” (=tidak mengingini milik sesama).

Di sisi lain, ada pula “atorang” (=hukum/aturan) tentang “mangaku” (=mengakui). Artinya “jang sambunyi-sambunyi” (=jangan menyembunyikan dalam arti merahasiakan sesuatu).

Karena “barang bagus tuh tetap samua mau sa” (=yang baik itu tetap diingini siapa saja).

Jadi “kalu memang itu ale pung, mangaku. Jang beta inging ka beta su ambel baru beta yang dapa susah” (=jika memang milik anda, katakanlah. Jangan saya sudah ingin dan mengambilnya, dan saya alami kesusahan).

Dalam dua hal itu “seng ada yang mau kanal denda” (=tidak ada yang mau kena sanksi). Walau sebenarnya “orang yang suka mamancang ada tambong” (=orang yang suka coba-coba ada banyak).

Jadi “kalu su kanal denda, mo bayar tuh jua” (=jika sudah kena sanksi, harus dibayarkan), sebab:

Satu: “Sapa mau tanggong malu” (=siapa mau menanggung malu). “Kanal denda tuh biking malu keluarga basar/mata rumah” (=dikenakan sanksi membuat keluarga malu).

Karena itu tidak ada yang mau melakukan kesalahan yang berujung “denda”. Orang lebih suka menjaga “keluarga pung nama bae” (=nama baik keluarga).

“Tagal itu orangtotua su janji sagala” (=karena itu orang tua sudah menjanjikan segala sesuatu) yang “musti turut deng pri teguh” (=harus dituruti dengan teguh).

Dua: “Sapa mau hidop susah” (=siapa mau hidup susah). Sebab “dapa denda tuh bayar tambong, salah jaga kasih dusung la ana cucu nganga orang makang” (=banyak yang mesti dibayarkan, bisa berdampak pada penyerahan dusun yang membuat anak cucu tidak dapat makan).

Karena itu orang tua selalu menjanjikan “biking apapa tuh pikir dua kali” (=berpikirlah sebelum bertindak). “Jang turut snang la katong susah rame-rame” (=jangan demi kesenangan akibatnya kita semua yang susah).

Tiga: “Sapa mau tanang akar pait lama-lama” (=siapa mau menanam akar pahit).

“Biking satu kesalahan par oras nih, awas jang akang jadi akar pait par turunan” (=melakukan kesalahan saat ini, waspadalah jangan sampai itu menjadi akar pahit untuk keturunanmu).

Jadi “orangtotua ajar, kalu ada salah, biking abis kase barsih” (=nasehat orang tua, jika ada kesalahan, tuntaskan ke akar-akarnya).

“Jang eso lusa anana susah la cari akar pait lai akang tatanang su kadalang” (=jangan kelak anak kita susah mereka mencari akar pahit yang sudah sangat dalam tertanam).

Senin, 2 Agustus 2021
Rumah Rakyat, Masohi
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed