by

Kuti Kata; LIA ANANA YATIM PIATU LAI (1 Raja. 2:7)

AMBON,MRNews.com,- “Ingatang! Musti lia anana yatim piatu lai” (=ingatlah! Haruslah kau perhatikan anak-anak yatim piatu juga).

“Dong pung orangtotua su tar ada, hidop sabatangkara” (=orangtua mereka sudah tiada, hidupnya sebatangkara), “panongka su patah kiri kanang” (=tidak ada penopangnya lagi), “jadi kalu katong tar lia dong la sapa?” (=jadi kalau kita tidak memperhatikan mereka, siapa lagi?).

“Apalai, sio dolo-dolo, biar deng kurang-kurang, dong pung papa deng mama tuh tulung sagala rupa macang orang” (=apalagi, dahulu, walau dengan keterbatasannya, papa dan mama mereka suka menolong siapa saja).

“Asal bilang sa, tetap dong dua front muka” (=asal dibilang saja, mereka tampil di depan).

“Baru karja seng tau brekeng lala la sondor sungutan apapa paskali” (=lalu bekerja tanpa memperhitungkan apa pun dan tanpa pernah bersungut/mengeluh).

“Anana tuh kalu katong lia dong, berkat tar kurang” (=anak-anak itu bila kita memperhatikan mereka, tidak akan berkekurangan).

“Jang lupa, dong pung bageang ada di samua yang katong tarima” (=jangan lupa, bagian mereka ada dalam apa yang kita terima), “jadi musti kasi” (=jadi harus diberikan), “tagal tahang akang jua mau isi di mana?” (=Karena kita menahannya pun, mau dimasukkan ke mana?).

Ungkapan ini sebenarnya bermakna “jang makang sandiri” (=jangan makan sendiri), “kasih apa yang jadi anana yatim piatu pung bageang” (=berilah apa yang menjadi bagian anak yatim piatu).

“Kalu ale biking itu tida, eso lusa ale tampa kaki babunga” (=jika anda melakukan hal tersebut, kelak jejak anda mengeluarkan berkat). “Ale anana cucu tar susah eso lusa” (=anak cucumu tidak akan kesusahan di kemudian hari).

“Lia anana yatim piatu” itu semacam perintah yang sumbernya dari atas. “Itu Tuhan pung mau” (=itu perintah Tuhan). “Jadi jang maeng-maeng deng akang” (=jadi jangan dianggap sepele).

“Tagal itu, dolo pas sisi sagu di goti, biking tumang kacil par yatim piatu deng balu lai” (=karena itu dahulu ketika mengambil hasil olahan sagu, harus dibuat satu tumang kecil untuk anak yatim piatu dan janda; tumang adalah wadah tempat pati sagu/sagumantah yang dibuat dari anyaman daun sagu).

“Orang pulang redi, kalu ada balu deng anana yatim piatu di pinggir pante, lego saloko saloko par dong” (=orang pulang menjaring ikan, jika ada janda dan anak yatim piatu di tepi pantai, berilah bagian mereka juga).

“Bagitu lai isi kabong tuh, kalu mau pi gale, panggel dong, mangkali dong bisa bawa pulang kasbi sa isi” (=demikian pun hasil kebun, jika hendak dipanen, ajak mereka, mungkin mereka bisa pulang dengan seisi ubi kayu).

Ini pelajaran tentang “jang sakakar, jang culas, jang makang sandiri” (=jangan kikir, jangan berbohong dalam arti menyembunyikan berkat, jangan makan sendiri).

Tetapi hidup ini harus “barbage, tau kas’ makang orang lai” (=berbagi, tau melayani orang lain), sebab “biking bae par dong itu, dapa berkat di sagala tampa” (=berbuat baik kepada mereka, diberkati di berbagai tempat).

Jumat, 30 Juli 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed