by

Kuti Kata; BETA NIH JUA! (Yes. 6:8-10)

AMBON,MRNews.com,- “Kalu memang su seng ada lai, mo beta nih jua” (=jika memang tidak ada orang lagi, ini saya). Biasanya jika untuk melakukan suatu hal, dan “su tar ada yang mau” (=sudah tidak ada yang bersedia), “loko biar beta jua” (=biarkan saya saja).

“Suruh apa sa, beta biking, mar jang bale blakang dar’ beta e” (=disuruh apa pun saya kerjakan, asalkan jangan tinggalkan saya).

Ini bentuk “kas’ diri par karja orang banya pung hal” (=penyerahan diri untuk mengerjakan kepentingan umum).

Totalitas seperti ini selalu muncul pada orang-orang yang “seng biasa tola kalu su dapa kas’ suara” (=tidak bisa menolak ketika diminta) untuk melayani kepentingan umum.

Ungkapan ini sering muncul karena kebiasaan “baku tola la laeng unju laeng” (=menolak dan suka menunjuk orang lain) karena “diri sandiri tar mau korban” (=tidak mau rela berkorban).

Dalam situasi seperti itu selalu saja ada yang “mau kas’ diri” (=memberi diri). Orang yang “kas’ diri” ini bukanlah tipe yang “cari muka” (=mengejar kehormatan), jadi “kasih diri deng sungguh” (=memberi diri dengan tulus) “tagal par samua pung bae” (=karena untuk kepentingan semua orang).

“Beta nih jua” juga bukanlah ungkapan dari orang yang “cuma par batanding/balaga” (=hanya untuk sekedar pamer/sombong) padahal “konci rekeng topu dada parsis teteruga” (=yang pada gilirannya tepuk dada seperti kura-kura) “padahal par tulung diri sa tar bisa apapa satu lai” (=padahal tidak bisa melakukan apa pun termasuk untuk menolong dirinya sendiri).

“Beta nih jua”, ini ungkapan dari orang yang “su ukur-ukur diri lai” (=sudah memperhitungkan kemampuan dirinya juga). Jadi bukan “tar guna apapa” (=tidak mampu), tapi “kalu palang-palang pasti bisa” (=lambat laun pasti bisa).

Jadi “seng paksa diri tuh jua” (=memang tidak memaksakan diri), tetapi juga “seng bisa tola” (=tidak bisa menolak) karena “masih bisa la” (=bisalah).

“Beta nih jua”, sebuah ungkapan yang lahir dari hati karena “kalu samua tar mau, la baku tola, la brekeng dapa apa, mo beta nih jua” (=bila tidak ada yang mau, saling menolak, memperhitungkan untung apa, maka biarlah saya saja).

Jadi dalam mengerjakan hal itu “tar tanya dapa apa, yang penting kasi diri” (=tidak menanyakan upah/imbalan, yang o
penting penyerahan diri).

Rabu, 7 Juli 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Tulukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed