by

Ekspedisi Perahu Padewakan Wujud Persahabatan Indonesia-Australia

-Kab.MTB-335 views

AMBON,MRNews.com,- Ekspedisi dalam rangka Napak Tilas Perahu Padewakang turut singgahi kota Saumlaki Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) sebelum menuju ke Darwin, Australia.

Perahu Padewakang sebagai replika perahu para pelaut Bulukumba abad 17 – 18 dinakhodai Anton Daeng Tompo dengan sembilan anak buah kapal (ABK) sejak awal bertolak dari Makasar, Galesong, Tanaberu, Birah, Selayar, Pulau Kalao, Pulau Madu, Larantuka, Adonara, Lembata, Pantar, Alor, Wetar, Marsela, Saumlaki dan pelabuhan terakhir yang dituju yakni Darwin Australia.

Dimana ekspedisi itu untuk membawa Merah Putih ke Australia sebagai bentuk persahabatan antara Indonesia dan Australia yang sebenarnya sudah terjalin dari ratusan tahun silam. Hal itu diakui Mr. Horst Liebner seorang peneliti dan sejarahwan dari Jerman yang juga turut dalam ekspedisi tersebut.

Sekretaris Daerah (Sekda) KKT Piterson Rangkoratat bersama Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Kemaritiman dan Investasi Safri Burhanudin melepas ekspedisi napak tilas perahu Padewakang di Pelabuhan Kelas II Saumlaki, Tanimbar, Jumat (24/1/2020). Wakil Konjen Australia di Makasar, Forkopimda, Pimpinan SKPD turut hadiri acara tersebut.

“Tanimbar memiliki budaya yang dikenal sejak dahulu dan nenek moyang suku Tanimbar dikenal pelaut ulung karena keberaniannya mengarungi laut nusantara. Dapat dibuktikan dengan benda-benda adat Tanimbar seperti gading gajah dan emas yang sejatinya benda-benda tersebut tidak ada di Tanimbar melainkan didapat dengan cara barter saat pelayaran tersebut. Ekspedisi ini mengingatkan kita pada pelaut Indonesia tempo dulu yang berlayar hingga ke mancanegara,” ungkap Sekda dalam rilis Humas Setda KKT, Jumat (24/1).

Sementara, Safri Burhanudin mengatakan, ekspedisi ini sudah disepakati sejak tahun lalu bersama pemerintah Australia guna meningkatkan budaya maritim kedua negara. Kedatangan timnya selain untuk melepaskan kapal ekspedisi Padewakang juga ingin melihat langsung potensi kemaritiman di KKT khususnya dalam bidang budidaya perikanan dan pariwisata yang diyakini bisa mendongkrak perekonomian di daerah ini.

“Mencermati luasnya laut di KKT, sangat berpotensi untuk mengembangkan perikanan budidaya yang cenderung tidak diminati masyarakat nelayan kita. Padahal jika model ini dikembangkan justru jauh lebih untung dibanding perikanan tangkap. Kedepan kami bersedia memberi bantuan jika Pemkab ingin kembangkan potensi perikanan budidaya, tentu dengan menyediakan data yang cukup. Sayang, jika luasnya laut Tanimbar dengan potensi beragam, belum semuanya dikelola maksimal bagi kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Sebagai pulau terdepan di wilayah perbatasan lanjutnya, tidak boleh ada perbedaan signifikan antara masyarakat yang ada di Tanimbar dan Australia. Karena itu dua hal yang perlu dikembangkan adalah perikanan dan pariwisatanya.

Diketahui, pelepasan ekspedisi ditandai dengan penyerahan abu sisa pembakaran (untuk memasak) diatas perahu yang menurut tradisi pelaut Bulukumba tidak boleh dibuang ke laut tetapi harus ditanam dibawah pohon saat mereka tiba di daratan. Para pelaut juga berpesan agar abu yang diserahkan kepada Pemda dan Lanal Saumlaki dapat dijaga dengan baik karena menyangkut keselamatan pelayaran mereka.

Juga dilakukan penyerahan kain tenun ikat Tanimbar kepada perwakilan ABK yang juga merupakan tradisi para pelaut Bulukumba di abad ke-18 untuk menjadi cinderamata bagi masyarakat Aborigin di Australia. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed