by

Kuti Kata; TAR KARJA, TAR MAKANG (2 Tes. 3:6-15)

AMBON,MRNews.com,- “Sapa tar karja tar makang te” (=siapa tidak bekerja tidak makan), karena “makanang tar datang sandiri” (=makanan tidak datang dengan sendirinya).

Ini pengajaran tentang melawan “orang muka pamalas” (=pemalas) dan “tukang harap gampang” (=manusia gampangan).

Sejatinya “samua orang tuh bisa karja” (=semua orang bisa bekerja), “mar kalu pamalas su nai diri, orang lia loko parang sa, mar sampe dusung kumpul wango-wango par user agas deng nyamu sa” (=bila dasarnya malas, dilihat orang menenteng parang ke kebun, tetapi setiba di sana hanya mampu menyiapkan api untuk mengusir agas dan nyamuk).

Ini merupakan suatu gambaran tentang orang yang sebenarnya memiliki dusun besar tetapi tidak mengerjakan apa-apa, lalu “harap tatanamang tua sa” (=berharap dari tanaman umur panjang yang sudah ditanami orang tua).

Cara mengajarkan anak untuk rajin adalah juga dengan bekerja. Banyak orangtua jika mau anaknya belajar menanami cengkih, “su taru ana cengke di tiris-tiris lalu kasih pasang, pulang skolah pikol akang iko tata di dusung e” (=sudah mempersiapkan anakan cengkih di samping rumah dan berpesan agar sepulang sekolah, anaknya memikul anakan itu ke dusun).

Biasanya setiba di dusun, orangtua “su gale lobang” (=sudah mempersiapkan lubang tanam) dan meminta anaknya “isi akang di situ” (=tanamilah di situ).

Di Porto (Pulau Saparua), ada “tampa pele” (=istilah ini menunjuk pada satu lokasi sebagai batas terdekat dengan kampung.

Biasanya di sini orangtua meletakkan hasil kebun yang dipikul dari kebun, dan setelah jam sekolah, anak-anak mereka ke tempat itu untuk membawanya ke rumah).

Karena jarak kebun jauh dari rumah, maka “pagi-pagi buta lai papa dong su ka kabong ba-belo” (=sejak subuh orangtua sudah ke kebun untuk ba-belo/menanam umbi-umbian).

Kemudian mereka “biking pikolang, lalu pikol sampe di tampa pele” (=mempersiapkan pikulan, biasa berisi keladi, dan lainnya dan memikulnya ke tempat tersebut).

Jika “pikolang barat” (=berat pikulannya) biasanya “katong ade kaka baku bage” (=dibagikan kepada kami adik berkakak), tetapi kalau “ana yang basar bisa hala, maka dia hala” (=anak yang besar bisa memikulnya, dia memikulnya langsung).

Pada keluarga nelayan, anak diajari “ika matakael” (=cara mengikat kail), “manjai jareng” (=menjahit jaring), “ika bubu” (=membuat bubu/perangkap ikan) sampai pada “panggayo, lia tanoar, iko komu, timba la’or, deng sagala rupa hal” (=mendayung perahu, membaca tanda alam, mengejar ikan komu, menimba la’or/cacing laut, dlsb).

Semua ini mengajarkan kita tentang “ajar anana par karja lai” (=mengajari anak cara bekerja). Artinya, “orang tua unju jalang par anana iko” (=orang tua menunjuk keteladanan untuk diikuti anaknya).

Biasanya ada ungkapan “tata dong masih ada nih, jang dong cuma dudu-dudu, musti ajar karja skali, kalu tata su tar ada, dong seng tada tangang di orang ka pi maniso di orang arumbae” (=selagi papa masih ada, jangan hanya duduk bermalasan, belajarlah untuk bekerja, karena jika papa sudah tiada, kalian tidak menadah tangan/meminta-minta pada orang atau berkerumun di arumbae/perahu orang).

“Tagal kalu sapa tar karja, dia seng makang te” (=karena siapa tidak bekerja, tentu dia tidak makan). “Jadi, pi karja sana pi” (=jadi, ayo pergilah bekerja), “jang panta barat” (=istilah ini berarti malas dan susah diajak bekerja).

“Tar karja la makang wa” (=tidak bekerja lalu membuka mulut menelan angin).

Salamat Har’ Jumat, 2 Juli 2021
Par basudara Salam, jang lupa sambayang
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed