by

Di Semarang, Walikota “Beber” Ambon Kota Inklusif & Toleran

-Kota Ambon-36 views

AMBON,MRNews.com,- Walikota Ambon Richard Louhenapessy berperan sebagai keynote speaker atau pembicara utama dalam seminar bertajuk membangun kota inklusif dan toleran yang diselenggarakan LPPM UNIKA-Semarang, Senin (26/8/19). Disitu, dirinya membeberkan bagaimana pemerintah kota (Pemkot) membangun Ambon menjadi kota inklusif dan toleran yang kemudian dijadikan sebagai role model untuk kota-kota lainnya di Indonesia.

“Seminar ini merupakan forum untuk berbagi pengetahuan tentang bagaimana Ambon sebagai kota multikultur, multietnis dan multiagama, membangun dirinya dari situasi konflik menuju damai yang inklusif melalui penguatan negeri dan masyarakat adatnya yang menjadi ciri khas dan kekuatan sosial kota Ambon,” tandas Kepala LPPM UNIKA Soegijapranata-Semarang Dr Berta Retnawati saat pembukaan seminar.

Walikota pada kesempatan itu menungkapkan, bahwa sebagai kota multikultul dan multietnis serta multiagama, sejak dulu kota Ambon yang dianggap pusat rempah-rempah, kemudian menghantarkan bangsa asing datang ke Ambon dan menjadikan Ambon sangat pluralis. Kemudian, ada dua peristiwa penting yang menjelaskan mengapa Kota Ambon mampu menata dirinya, pertama pra reformasi dan kedua saat era reformasi.

“Pra reformasi, terdapat penyeragaman pranata adat secara nasional akibat sentralisasi, hal ini kemudian dirasakan tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya di daerah sehingga terjadi distorsi yang puncaknya terjadi konflik sosial. Sementara di era reformasi, kearifan lokal dikedepankan. Disinilah Ambon mulai berbenah dengan mengedepankan nilai-nilai budaya pela gandong yang sudah ada sejak dulu. Nilai itu kemudian kita angkat dan perkuat sebagai perekat antar masyarakat lintas agama,” jelasnya dalam rilis yang diterima media ini, Senin (26/8/19).

Walikota kemudian mencontohkan bagaimana nilai pela-gandong dipraktektan dalam kehidupan warga kota Ambon melalui beberapa even keagamaan besar yang melibatkan dua komunitas yang ada di Ambon. “Pada saat MTQ, baik panitia maupun pendukung acara, ada yang beragama Kristen Protestan dan Katolik, sebaliknya ketika even Pesparawi maupun Pesparani, ada umat Muslim Kota Ambon juga turut terlibat dalam acara tersebut,” bebernya.

Apa yang telah dilakukan Pemkot dan warganya lanjut Louhenapessy, kemudian mendapat apresiasi dari pemerintah pusat melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI berupa penghargaan sebagai salah satu kota dengan tingkat toleransi tertinggi di Indonesia pada Januari 2019, bertepatan dengan hari amal bakti (HAB) Kemenag.

“Tepatnya pada bulan Januari tahun 2019, Kota Ambon dinobatkan sebagai Kota dengan tingkat toleransi tertinggi,” kata Walikota.

Tak lupa Walikota juga memberikan apresiasi bagi UNIKA yang lewat kegiatan bakti sosial maupun penelitian tentang Ambon yang mampu membawa nilai positif bagi bangsa. “Kalau tidak demikian, mungkin kita juga tidak menyadari bahwa sesungguhnya kita memiliki potensi yang menjadi sumbangsih bagi bangsa dan negara,” demikian Walikota.

Diketahui, selain Walikota Ambon, pembicara lain yang turut diundang dalam seminar tersebut antara lain Prof. David Bamford dari Flinders University, Andreas Pandiangan serta Yulita Titik Sunarimahungsih. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed