by

Tolak Teken Surat dari TNI-AU, Warga Tawiri Duduki Jalan Menuju Bandara

AMBON,MRNews.com,- Puluhan warga Negeri Tawiri Dusun Kampung Pisang (Kampis) Kecamatan Teluk Ambon menduduki jalan raya dari arah desa Tawiri menuju bandara Pattimura, Rabu (29/9).

Aksi itu dilakukan terkait protes terhadap TNI Angkatan Udara (Lanud Pattimura) yang mengklaim tanah yang mereka tempati adalah milik negara dalam hal ini Lanud Pattimura, yang kemudian menyodorkan surat pernyataan untuk diteken warga.

Menurut Steven Andries, warga RT 004/RW 004 Negeri Tawiri, awal warga memblokir jalan karena beberapa personil Lanud Pattimura mendatangi masyarakat dusun Kampis dengan maksud menemui beberapa purnawirawan TNI AU yang tinggal disitu.

Tetapi dalam pelaksanaannya berbeda. Beberapa anggota TNI AU itu justru datangi rumah warga yakni bapak Eli Titin, bapak Antoni Ola dan beberapa rumah warga lain untuk meminta tanda tangan diatas kertas pernyataan yang sudah tertera tulisan dan dibubuhi materai 10.000.

“Tidak ada masyarakat yang berkenan menandatangi surat pernyataan tersebut dengan alasan tidak sesuai permintaan atau fakta,” sebutnya.

Buntutnya, masyarakat yang merasa tidak terima karena didalam surat tersebut tertera bahwa tanah yang dihuni rumah warga Kampis adalah milik negara/Lanud Pattimura langsung menuju kantor Negeri untuk protes.

Selesai protes di Kantor Negeri, warga Kampis menuju ke jalan utama penghubung antara Negeri Tawiri dengan Negeri Laha tepatnya di Dusun Wailawa ujung Bandara Pattimura Ambon, untuk melakukan aksi memblokade dan tidur di jalan raya untuk menutup akses jalan.

Aksi warga sempat membuat macet total jalan raya. Namun beberapa waktu kemudian, blokade jalan dapat dibuka setelah aparat Polsek Bandara, Babinsa dan Babinkantibmas tiba di TKP untuk menenangkan warga.

Warga pun diarahkan balik ke kantor Negeri untuk mengikuti mediasi serta penyelesaian sementara permasalahan tersebut oleh Sekretaris Saniri Abraham Patty, Saniri Toni Titahena, Sekretaris Negeri Mario Latulola,
Babinpotdirga (Lanud Pattimura), Babinsa dan Babinkantibmas.

Hasil mediasi, kata Sekretaris Negeri Mario Latulola, warga dusun Kampis dan Wailawa tidak akan melepaskan tanahnya karena mereka memiliki sertifikat tanah yang mereka simpan sendiri.

Masyarakat mengklaim tidak ada yang bisa menguasai tanah tersebut karena dari pihak Lanud Pattimura hanya memiliki surat hak pakai, sementara masyakarat sudah punya sertifikat tanah.

“Masyarakat juga inginkan ada tenang, tidak ada intimidasi dari siapapun selama masalah tanah belum usai,” terangnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed