AMBON,MRNews.com,- Kontingen dari Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), Sumatera Utara (Sumut), Daerah Istimewa Jogyakarta (DIY) dan Jawa Timur menjadi grup perform terbaik seni-budaya selama panggung rakyat Maluku Expo tahun 2018 dalam rangka pesta paduan suara gerejani (PESPARANI) Katholik Nasional pertama, 27 Oktober-01 November 2018.
Hal tersebut disampaikan Ketua bidang penyelenggara Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN), Susetyo Edi Prabowo saat pengumuman perform terbaik saat malam penutupan Maluku Expo, di lapangan Tahapary Tantui, Rabu (31/10).
Berdasarkan penilaian LP3KN, kontingen Kaltara menjadi perform terbaik untuk hari pertama Maluku Expo dari berbagai kontingen yang tampil mengisi acara. Untuk hari kedua, kategori terbaik diraih oleh Sumut. Sedangkan hari terakhir, kontingen DIY yang tampil memukau dengan membawakan lagu khas Maluku berjudul Kalwedo dan Jawa Timur dengan tari wayang topengnya berhasil meraih predikat perform terbaik.
“Apresiasi terhadap kontingen perfom terbaik seni-budaya selama Maluku Expo ini akan diberikan oleh LP3KN pada malam penutupan, Kamis (1/11/18). Tentu ini agar menjadi motivasi bagi daerah lain untuk juga menampilkan seni dan budayanya pada Pesparani mendatang, sekaligus promosi daerahnya,” tandasnya.
Wakil Gubernur Maluku sekaligus Ketua Umum Panitia Pesparani, Zeth Sahuburua yang hadir dan menutup Maluku Expo pun lantas mengapresiasi dan berterima kasih atas penampilan kontingen Jogyakarta, bersama Ketua PKK Maluku, Retty Assagaff, Sekretaris Panitia, Titus Renwarin dan Ketua LP3KN, Adrianus Meliala, langsung naik ke panggung dan menyalami satu per satu anggota kontingen paduan suara dewasa campuran (PSDC) yang menyanyikan lagu Kalwedo tersebut.
“Penampilan Jogya dengan lagu Kalwedo ini tidak mudah dan pengucapannya fasih sekali. Luar biasa. Patut kita apresiasi karena jarang. Ini penghargaan bagi kita Maluku,” ujar Wagub.
Sedangkan dirigen PSDC Jogyakarta, Irene Vista mengaku, lagu Kalwedo tersebut pihaknya belajar menyanyikan dan lafalannya selama dua bulan di Jogya dan di Ambon selama 2-3 hari.
Inspirasi lagu ini sehingga dinyanyikan karena artinya, perdamaian.
Di malam penutupan expo, sejumlah kontingen menampilkan seni dan budaya khas daerahnya yakni Provinsi Papua, Kalimantan Tengah dengan Tari Gelang Dadas, Dayak), Tari Molulo (Sulawesi Tenggara), Sahureka-reka, Totobuang dan Orlapey (Maluku), Tari inspiratif dari Nyai Dasima dan paduan suara Cantus Firmus (DKI). (MR-02)
