AMBON,MRNews.com,- Walikota Ambon, Richard Louhenapessy tidak tahu besaran anggaran yang dipakai pemerintah kota (Pemkot) Ambon untuk berkunjung ke Betlehem, Palestina, Sabtu (24/11/18) meski digunakan dari anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) tahun 2018. “Anggaran keberangkatan ke Palestina dari APBD kota Ambon. Soal berapa, itu teknis lah saya nggak tahu. Yang pasti itu tiket PP, hotel dan uang saku. Itu pasti,” jelas Walikota kepada awak media di Balai Rakyat Belso, Kamis (22/11/18).
Bukan saja Walikota, ketua DPRD James Maatita yang akan berangkat bersama Pemkot pun tak tahu nilainya. Padahal DPRD bersama Pemkot yang membahas dan mensahkan APBD 2018 serta APBD perubahan 2018 dalam waktu panjang dan melelahkan. “Saya tidak tahu. Karena itu urusan Pemkot bukan DPRD. Karena tidak ada perjalanan ke luar negeri di DPRD. Yang ada hanya di Pemkot,” tandas Maatita, Rabu (21/11).
Meski tak tahu besaran anggarannya, tapi walikota menilai keberangkatan itu bukan bagian dari pemborosan anggaran tapi dengan tujuan baik. “Tidaklah, itu hanya persepsi. Kalau mau dapat bubara, tidak mungkin pancing dengan gete-gete. Kalau mau makan lompa, pake gete-gete terus saja,” ujar seraya memberi pengandaian.
Dirinya menceritakan tentang kunjungan ke Palestina sebagai kunjungan balasan. Dimana beberapa waktu lalu ada kunjungan dari anggota parlemen Palestina yang juga mantan Walikota Betlehem ke Ambon dalam rangka salah satu even internasional gereja di Ambon. Setelah beliau melihat dan mendalami ternyata kota Ambon memiliki tipikal dan ciri hampir sama dengan Betlehem terutama di Palestina. Kesamaannya yakni toleransi yang sangat istimewa dan luar biasa.
“Itu yang terjadi. Melihat kondisi ini, beliau kembali dan menyampaikan kepada pemerintah Palestina. Ternyata menteri pariwisata Palestina mengundang Pemkot bersama-sama parlemen kota Ambon, kalau boleh bikin kunjungan kehormatan kesana. Mungkin bisa dijejaki sebuah sister city dari aspek city of peace, kota damai. Lalu mereka siapkan waktu tanggal 24 atau 25 November, kita kesana untuk bertemu sejumlah menteri di Palestina. Dengan spesifikasi kita city of peace dan ikonnya toleransi,” bebernya.
Dia melanjutkan, di Palestina 72 persen muslim, 28 persen Kristen. Tapi dalam konstitusinya disebutkan sejak Presiden Yaser Arafat, sembilan walikota Kristen dan sampai sekarang tidak ada masalah, walau jadi walikota ditengah-tengah mayoritas umat muslim.
“Nah ini satu sikap toleransi luar biasa, yang setelah beliau ke Ambon dan lihat hampir sama. Bisa nggak kita jejaki untuk menjadi contoh bagi dunia. Kira-kira begitu. Apalagi, itu juga sejalan dengan konsep Pemprov Maluku menjadikan Maluku sebagai laboratorium kerukunan antar umat beragama di Indonesia dan inilah implementasinya,” paparnya.
Tentang utusan kota Ambon ke Palestina, Walikota menyebut ada tiga pimpinan DPRD, ketua-ketua fraksi dan Sekwan. Sementara dari Pemkot hanya yang terkait dengan kepentingan komunikasi dan kerjasama yaitu Sekkot, kepala BPPRD dan pemerintahan. Dan selama seminggu bakal berada disana. (MR-02)
