AMBON,MRNews.com,- Berbagai kritik terhadap ketua umum partai Golkar, Airlangga Hartarto dalam hari-hari belakangan ini karena dinilai suara partai berlambang pohon beringin pada pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan Presiden-Wapres (Pilpres) 2019 mengalami penurunan cukup signifikan, mendapat pembelaan dari kader Golkar Maluku, Ridwan Rahman Marasabessy.
Menurut Ridwan, terlalu prematur dan “ambisius” untuk menganggu keberadaan partai Golkar. Bila berangkat dari kesepakatan Desember 2017 lalu, tatkala Airlangga diberi amanah menggantikan Setya Novanto karena tersangkut persoalan hukum, sebagian besar pengurus Golkar menginginkan Airlangga memimpin Golkar hingga Desember 2019. Karena itu, Airlangga harus didukung sebagai bentuk konsistensi atas kesepakatan yang telah diambil.
“Sebagai salah satu inisiator pemenangan Airlangga Hartarto di tahun 2017, kesepakatan dukungan hingga Desember 2019 merupakan jalan terbaik, untuk menghindari keretakan lebih luas. Selain itu, kondisi ini juga untuk menjaga ritme kesepakatan sebagai bentuk tanggung jawab moral pengurus Partai Golkar patuh pada kesepakatan yang telah diambil,” tandas mantan anggota DPRD provinsi Maluku itu kepada media ini di Ambon, Rabu (31/7/19).
Demikian halnya pertemuan antara Airlangga dengan Surya Paloh di Gondangdia, bagi Wan sapaan akrab Ridwan, merupakan kebijakan pimpinan dan aktivisme ketua umum yang normal. Tentu perlu dukungan moral, sehingga apapun yang dilakukan Airlangga memberi implikasi positif bagi keberadaan partai Golkar. Pasalnya, selaku ketua umum partai besar, tak mungkin masa depan partai digadaikan untuk sebuah pertemuan semacam “silaturahmi politik.
Bahkan, munculnya beragam wacana tentang pelaksanaan musyawarah nasional luar biasa di tubuh Golkar, bagi Ridwan merupakan hal biasa. Wacana yang demikian riuh itu menunjukkan bahwa dinamika Golkar sangat terawat dengan baik. Semarak wacana dari berbagai sisi terhadap Golkar memperlihatkan partai ini sangat demokratis dalam menjaga keseimbangan perbedaan pendapat. Demikian halnya revitalisasi pengurus Golkar, sejujurnya percayakan kepada Airlangga bila itu dipandang perlu.
“Maka semua langkah yang dilakukan Airlangga, jangan terlalu dipolitisir, apalagi dikaitkan dengan pencalonannya sebagai ketum partai Golkar. Apa yang dilakukan Airlangga sebagai upaya melakukan pembenahan. Tentu harus dipahami, bahwa Airlangga bukanlah tipe pemimpin “krasak-krusuk” dalam memutuskan suatu kebijakan, apalagi berkaitan dengan keberadaan partai,” tukas wakil ketua DPD partai Golkar Maluku ini lagi.
Seharusnya, menurut Ridwan, partai Golkar tentu bersyukur, dalam waktu singkat, dua tahun, partai ini mampu keluar sebagai pemenang kedua di parlemen, pasca ditimpa prahara besar beberapa tahun lalu. Dimana langkah-langkah yang dilakukan Airlangga dalam waktu tersebut merupakan suatu keberhasilan yang patut direspon pengurus Golkar di seluruh Indonesia.
Diketahui, intern Golkar saat ini diterpa “badai kencang” dari berbagai penjuru, terutama elit dan politisi senior, meski jadi pemenang kedua Pileg dan partai pengusung Jokowi-Maruf Amin yang berhasil menangi Pilpres. Yorrys Reweyai, kader senior Golkar pun menilai Golkar saat ini kehilangan orientasi dan visi membawa partai menjadi lebih baik. Sehingga perlu evaluasi atas perolehan suara yang turun.
Politisi senior Golkar, Freddy Latumahina juga tak menampik adanya gap antara kader dan elit Golkar. Elite tak cukup kemampuan merespon dan mengelola tuntutan dinamika demokratis di tubuh partai. Pengamat politik turut serta memberi justifikasi atas persoalan internal partai ini. Terlebih pertemuan Airlangga Hartarto dengan Surya Paloh dan kawan-kawan beberapa waktu lalu di Gondangdia, dinilai berpotensi membawa konflik baru di internal Golkar. (MR-02)










Comment