AMBON,MRNews.com,- Sepak terjang pengurus Majelis Latupati Maluku selama ini tak terdengar. Ada konflik antar Negeri bertetangga yang marak di tanah Raja-raja, tapi Majelis Latupati yang diisi para Raja-raja seantero Maluku tak lantang bersuara ke pemerintah.
Tetiba mereka muncul dengan pemberian gelar adat “Inalatu Maluku” kepada isteri Gubernur Maluku, Widya Pratiwi Murad, bertepatan dengan peresmian sekretariat Majelis Latupati di Negeri Passo Kecamatan Baguala yang telah lama berdiri namun seakan tak berpenghuni, Senin (13/2).
Pemberian gelar adat “Inalatu Maluku” untuk Widya Pratiwi itu lantas memantik reaksi publik (Netizen) yang menilai Majelis Latupati dibawah pimpinan Ibrahim Wokas dan Decky Tanasale “cari muka”, karena tidak tepat gelar “sakral” itu disematkan ke seorang Widya.
Dalam postingannya di media sosial Facebook, Senin (13/2), Ketua Komunitas Kalesang Maluku, Vigel Faubun mengaku, Majelis Latupati Maluku adalah sebuah lembaga yang dibentuk untuk mempermainkan adat dan budaya Maluku.
“Sejak didirikannya lembaga ini, belum pernah lembaga Majelis Latupati Maluku melakukan aksi untuk melindungi adat dan budaya Maluku. Namun sebaliknya, lembaga ini hanya mempermalukan adat dan budaya di Maluku,” tegasnya.
Dia lantas mencontohkan, tanah adat bermasalah (Abio, KKT, Sapalewa, Nuaulu, Bati, Seram Timur) mana ada Majelis Latupati mengangkat suara untuk membela hak adat. Bahkan simbol adat dipasang di Trotoar pun Majelis Latupati diam dan sengaja menghindar serta pura-pura buta tidak tau apa-apa.
“Organisasi cari muka, cari kepeng cari posisi aman itu yang harus disandang Majelis Adat Latupati Maluku. Maka sangat disayangkan bila organisasi ini masih selalu ada namun untuk mempermalukan Maluku,” tandas Faubun lagi.
Selaku masyarakat adat, Faubun merasa bahwa, Gubernur yang memiliki jabatan pangkat adat terbanyak di Indonesia mungkin satu-satunya adalah Gubernur Maluku yang notabenenya tidak punya itikat baik untuk membangun Maluku, hanya cari gelar saja.
“Ko semakin banyak hobi kasi gelar adat eee. Maluku eeeee siioooooooooo, apa tempo mau sadar. #SaveAdatMaluku,
SaveMaluku, #BangsaAdatAlifuru. Ini rintihan hati anak adat,” terang lulusan FKIP Universitas Pattimura (Unpatti) itu.
Ditambahkan lebih lanjut dalam postingannya yang kemudian dicopy paste warganet, Ellen N Kurmasela di beranda Facebook miliknya, Faubun menilai seorang Widya Pratiwi Murad tidak pantas diberi anugerah sebagai Inalatu Maluku.
“Beta sebagai putra Maluku sekaligus sebagai anak adat Maluku yang juga merupakan turunan dari salah satu raja-raja di Maluku tidak setuju dan menolak diberikan penganugerahan itu. Dan kalau sudah terlanjur dilakukan, itu tidak sah,” ujarnya.
“Tidak sahnya karena memang beliau tidak pantas dan tidak layak disebut sebagai yang tercantum diatas (Inalatu Maluku-red). Kenapa, beliau siapa?? Apa karena alasan isteri Gubernur? Itu bukan alasan,” tegas Faubun.
“Kriterianya apa??. Maaf. Jangan karena kepentingan terselubung, adat yang orang tatua dolo2/Tete Nene Moyang su biking “Diperjual-belikan” Iko suka, hati2. Jang karja takaruang!!! Ini Negeri Adat!!! Jang Injak2 beta pung Adat!!!,” sambungnya lagi.
Dirinya lantas beberkan sejumlah nama “Srikandi” Maluku yang sebetulnya lebih layak menerima gelar adat “Inalatu Maluku” karena sudah banyak berbuat bagi tanah ini, namun kurang diperhatikan.
“Mangkali Inalatu thu par Ibu Mercy Barends ka, Ibu Saadiah Uluputty, Ibu Olivia Ch Latuconsina ka, Ibu Ayu Hasanussi ka, Ibu Costavina Vonny Litamahuputty atau Tokoh2 perempuan hebat yang ada di Maluku yang su berbuat banyak dari dolo tp orang zn meku,” tukasnya.
Postingan tersebut lantas “diserbu” warganet yang memberi komentar beragam. Seperti Pegiira Soplanit yang mencuit ” antua sabet sgala yg ada di provinsi ni. Jabatan terbanyak antua 2 yang pegang akang”.
Ada lagi netizen dengan nama Facebook Narendra yang ikut berkomentar. “Setuju, mau koleksi gelar adat banya-banya, ketika masyarakat adat terpuruk di Kariu, Tual dll, pura-pura lupa, heheehe,” timpalnya.
Kemudian netizen J Paulus Tangkilisan juga tak mau kalah dengan komentarnya. ” Kekuasan, arogansi” merusak budaya/adat istiadat Maluku. Su z batul ini,” celotehnya.
Mengikuti warganet lainnya, akun dengan nama Facebook I’chat Sahetapy juga mengulas panjang komentarnya merespons pemberian gelar adat Inalatu Maluku ke Widya Pratiwi Murad oleh Majelis Latupati.
“Latu pati dari desa adat mana yg kasih gelar itu??? Apakah seluruh latu pati Maluku yg berikan gelar itu???.
Kalopun hanya sebagian Latu pati dari beberapa desa adat yg berikan gelar itu maka jangan menyebutkan dia Ina Latu Maluku.. sebut saja Ina Latu Jasirah atau wilayah mana.. ini luar biasa,” cetusnya.[13/2 23.16] My Phone Oppo: “Kontribusi apa yg sangat signifikan sampai ia bisa lolos dalam kriteria Ina Latu dan dikasih gelar kehormatan tersebut??. 2024 sudah dekat ni bikin org cari gelar yg rupa-rupa macam. Gelar Raja Besar sampe Ina Latu dong dapa akang lalu karja bangun negeri ni bikin apa saja…???,” tanya dia. “Raja besar dan Ina Latu sanang saja sedangkan jumlah masyarakat yg miskin makin bertambah. Raja besar manyanyi dan Ina Latu joget maka rakyat mati lapar. palias akang,” tegasnya lagi. (MR-02)







Comment