by

Kuti Kata; MAU HARAP SAPA? (Mzm. 71:5)

AMBON,MRNews.com,- “Mau harap sapa?” (=Mau berharap kepada siapa?) Ungkapan ini sudah biasa kita dengar ketika “dalang susah pun sanang” (=dalam susah atau pun senang). Ini diucapkan karena sering kita “tanggong susah sandiri” (=menanggung kesusahan sendiri).

Ungkapan ini sering “par kas inga hidop basudara” (=mengingatkan pentingnya hidup bersaudara). Ada banyak kondisi yang menjadi semacam konteks makna ungkapan ini, semisal:

Satu: “mau hidop kapala batu, turut sanang sandiri, la tar meku basudara cuma tagal hal bodo-bodo” (=mau keras kepala, mengikuti kesenangan sendiri, tidak mau peduli kepada saudara hanya karena hal sepele).

“Bagitu tatumbu susah, mau harap sapa?” (=Begitu mengalami kesusahan, mau berharap pada siapa?). “Orang tuh orang sa, sudara tuh biar busu-busu sudara jua” (=orang ua tetap orang, tetapi saudara, jelek-jelek tetap saudara). “Mau kuat tahang Kapala batu brapa lama? Mau manyangkal kandong? Dosa.

Tagal itu, bale la pi cari sudara sana. Jang tahang deng ton bodo tuh” (=sampai kapan mau tetap keras kepala? Mau menyangkal kandungan mama? Berdosa. Karena itu kembalilah kepada saudaramu. Jangan tinggal dengan kelakuan bodoh).

Dua: “dalang susah nih sondor ada yang meku par sadiki lai” (=dalam susah, tidak ada orang yang peduli sedikit pun).

“Jadi mau harap sapa?” (=Mau berharap pada siapa?) “Urus diri sandiri saja jua, jang bagantong di pohong jaga karing” (=uruslah diri sendiri saja, jangan bergantung pada dahan kering).

“Mangkali dong jua ada deng parlu jadi seng bisa mangente ale” (=mungkin mereka juga ada dengan keperluannya jadi tidak bisa mengunjungimu).

Namun kadang ada semacam krisis kepedulian, “susah par tulung orang” (=susah menolong orang lain) “tagal taku susah lai” (=karena takut bakalan susah juga).

Tiga: “Mau harap sapa?” “Jang sampe se ada biking salah kapa?” (=Jangan sampai anda ada melakukan satu kesalahan). “Tagal itu dong bambang ale lai” (=karena itu mereka membiarkan anda begini).

“Jadi coba kaca diri, kalu ada salah, pi minta ampong sa” (=koreksi diri juga, jika ada salah pergilah dan mohon keampunan).

Ampa: “ini yang par sasaja, mau harap sapa? Dong parlu ale par dong pung parlu sa. Abis itu dong bale blakang dari ale.

Su abis parlu” (=ini yang sering terjadi, mau berharap kepada siapa? Mereka memerlukanmu untuk kepentingan mereka saja. Ketika tercapai mereka berbalik badan terhadapmu karena keperluannya sudah selesai).

“Jadi jang harap gampang, jang bagantong par orang macang itu” (=jadi jangan gampangan, jangan bergantung kepada tipe orang seperti itu). “Se lebe dong skrobi la bale deng kaki tangang ampa” (=anda lebih mereka mengusirmu pulang dengan tangan hampa).

Jadi, “pegang Antua kuat-kuat. Bagantong par Antua sa. Harap Antua itu lebe bae” (=berpeganglah teguh pada Tuhan. Bergantunglah hanya kepadaNya. Berharap kepadaNya itu lebih baik).

“Dunya bri-ku loba, Huwa sajalah bri-ku laba” (=dunia memberiku loba, tetapi Tuhan memberiku laba).

Kamis, 12 Agustus 2021
Pastori Ketua Sinode GPM Jln Kapitang Telukabessy-Ambon
Elifas Tomix Maspaitella (Eltom). (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed