AMBON,MRNews.com, Setelah sebelumnya penjahit lokal digandeng untuk menjahit alat pelindung diri (APD) ribuan masker kain, kembali mereka diajak kerjasama oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon melalui Gugus Tugas (Gustu) Percepatan Penanganan COVID-19 Kota Ambon untuk menjahit baju pelindung atau Hazmat.
Juru Bicara (Jubir) Gustu Covid-19 Kota Ambon Joy Adriaansz katakan, digandengnya para penjahit lokal dalam upaya mengantisipasi kekurangan APD secara khusus Hazmat. Sebab kebutuhan bagi para medis dan petugas di Puskesmas kurang lebih 15 ribu, sementara stok yang ada hanya 850 buah.
“Kebutuhan kita saat ini kurang lebih sekitar 15 ribu baju Hazmat bagi paramedis dan petugas yang tersebar di 22 unit Puskesmas yang ada di Kota Ambon. Sementara yang kita miliki melalui bantuan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) maupun Pemerintah Provinsi (Pemprov) hanya 850 buah,” kata Joy.
Gustu kata dia, mengambil kebijakan dengan memanfaatkan sanggar jahit yang dilatih khusus untuk menangani penjahitan baju Hazmat. Mengingat para petugas pun tidak mengetahui kondisi pasien yang datang untuk diperiksa di Puskesmas.
“Sesuai apa yang kita rencanakan, dalam waktu dekat kurang lebih 400 buah Hazmat bisa terselesaikan. Pemerintah mengambil langkah-langkah pengamanan sedini mungkin terhadap para petugas paramedis serta seluruh petugas yang ada di puskesmas,” tukasnya kepada awak media via WaG, Kamis (30/4).
Nantinya kata Joy, 400 buah baju Hazmat tersebut diperuntukkan khusus bagi cleaning service dan supir yang bertugas di Puskesmas. Pemkot tidak bisa menunggu bantuan dari pusat, melainkan harus mengambil langkah agar pelayanan terhadap para pasien tetap berjalan baik dan tidak terhambat.
“Baju Hazmat itu harus dan wajib digunakan seluruh petugas di Puskesmas baik dokter, perawat, apoteker, cleaning service maupun supir. 400 buah itu kita akan berikan ke cleaning service dan supir. Stok yang 850 buah dari Kemenkes dan Pemprov akan digunakan para dokter dan perawat,” imbuhnya.
Terkait bahan, menurut Joy, sesuai standar atau bahan yang sama dengan baju Hazmat yang dikeluarkan Kemenkes RI yaitu Spunbond Polietilena. Alasannya, lebih baik menyediakan dengan kualitas jahit yang mungkin berbeda dengan bantuan dari Kemenkes (namun dengan bahan standar yang sama), tapi bisa selamatkan nyawa petugas secara khusus cleaning service dan supir.
“Baju Hazmat hanya untuk sekali penggunaan. Yang berarti setelah dipakai harus segera dimusnahkan. Misalnya petugas mulai pakai dari jam 8 pagi sampai sore hari, maka setelah dilepaskan, baju itu tidak bisa lagi digunakan dan harus dimusnahkan dan diganti yang baru,” tutup Kadis Kominfo-Sandi Ambon itu. (MR-02/MC)











Comment