by

Bangga & Jatuh Hati, Widya Siap Wadahi Penenun Tanimbar

-Kab.MTB-52 views

SAUMLAKI,MRNews.com,- Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi Maluku Widya Murad Ismail merasa bangga sebagai ibu orang Maluku, termasuk ibu masyarakat Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT). Selain bangga, dirinya juga jatuh hati dan cinta pada tenun asal Tanimbar karena motif dan kekhasannya.

Alasannya di semua kegiatan dan acara yang diikutinya selama berkunjung ke KKT, kain tenun selalu dominan menjadi bahan pakaian masyarakat. Hal ini pula yang mendorongnya ingin menjadikan KKT sebagai kabupaten kreatif berbasis tenun ikat dan siap mewadahi perempuan penenun Tanimbar. Sebab Ambon dikenal kota musik, sehingga tak salah jika tenun ikat Tanimbar dipromosikan, apalagi sudah membudaya dan banyak motif.

“Saya rasa bangga sebagai ibunya orang Maluku, termasuk ibunya masyarakat disini. Ini bentuk tanggungjawab saya sebagai istri Gubernur. Mau tidak mau, saya harus hadir di tengah-tengah masyarakat. Saya juga jatuh hati pada tenun asal Tanimbar karena motif dan kekhasannya. Saya akan dorong KKT sebagai kabupaten kreatif berbasis tenun ikat,” ujar Widya saat datangi para penenun ikat Tanimbar di Pulau Matakus KKT, Kamis (29/8/19).

Ia mengatakan, bila industri kreatif ini dikelola dengan baik, maka para penenun yang merupakan kaum perempuan bisa ikut menopang perekonomian keluarga. Widya berencana membentuk wadah yang bisa mengakomodir seluruh pengrajin tenun ikat Tanimbar maupun Maluku Barat Daya (MBD) yang juga memiliki banyak pengrajun tenun ikatnya. Melalui wadah itu, akan diketahui berapa banyak potensi penenun di Maluku termasuk diketahui permasalahannya.

“Saya sangat suka tenun ikat. Semoga ada wadah khusus buat penenun, terkhususnya tenun ikat Tanimbar dan MBD, dan mereka yang kebanyakan adalah perempuan bisa berdaya dan ikut membantu ekonomi keluarga,” harapnya. Bahkan, dirinya ingin agar para penenun tidak lagi memikirkan bahan baku, dan hanya fokus untuk memproduksi bahan tenun ikat.

“Saya ingin semuanya senang. Penenun tidak lagi pikir bahannya darimana, ibu-ibu buat saja, nanti biayanya berapa? Tapi jangan setelah punya uang banyak, lalu jadi malas. Jangan saat lagi banyak uang lalu stop tenun, tidak ada uang baru tenun lagi,” tegasnya.

Widya ingin adanya komitmen bersama untuk menjadikan KKT sebagai kabupaten kreatif berbasis tenun ikat. “Mari rajin menenun, hasilnya di tabung. Mari kita rubah pola pikir. Semua orang tidak diberikan talenta untuk menenun. Jadi ibu-ibu harus bangga punya keahlian ini,” katanya memberikan semangat.

Widya lantas membuka dialog dengan para penenun. Salah satu perwakilan penenun asal desa Tumbur Martina Fenanlampir mengatakan, dia dan sejumlah penenun sudah mendapat dukungan pemerintah melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan berupa benang katun, bahan baku dari kain tenun. Hanya, mereka masih butuh pendampingan untuk mengelolah keuangan dari hasil penjualan.

Titi Munubi dari desa Olilit, menyampaikan, adanya regenerasi penenun membuat mereka kekurangan perangkat alat tenun. Pihaknya juga masih butuh pelatihan, khususnya dalam menggunakan alat pewarna benang. “Alat tenun kami kurang karena anak-anak muda sekarang juga banyak yang bisa menenun,” ungkapnya.

Menjawab masukan dan persoalan para penenun, Widya mengaku akan membuat wadah agar persoalan yang dihadapi para penenun bisa dicarikan solusinya. “Untuk itu kita akan buat wadah. Tentang teknik pewarnaan, kita akan bantu dengan pelatihan. Soal bahan baku, kita upayakan,” janji ketua tim penggerak PKK Maluku. (**)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed