JAKARTA-MRnews 
Bukan tanpa sebab jika rangking kampus-kampus RI dalam QS World University Rankings merosot tajam hingga 100 peringkat. Salah satunya, fondasi pendidikan tinggi Tanah Air yang belum terbangun.
Pengamat pendidikan Muhammad Abduhzen menganalogikan kondisi ini seperti kondisi ekonomi Indonesia di masa orde baru (orba). Ketika itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang tinggi. Namun, sebenarnya basis mental ekonomi Tanah Air tidak terlalu kuat. “Begitu juga pada pendidikan tinggi Indonesia. Kita belum memiliki dasar untuk membuat sebuah perguruan tinggi berkualitas,” kata Abduhzen, Selasa (10/9).
Menurut Abduhzen, kualitas dasar yang harus dimiliki Indonesia dalam membangun perguruan tinggi berkualitas adalah kultur akademik. Di sini, kampus harus memiliki tradisi ilmiah di antara civitas akademiknya, mulai dari mahasiswa, dosen, hingga birokrat kampus. Selain itu, ungkap Abduhzen, perguruan tinggi juga harus membangkitkan budaya riset. Sementara dari segi interaksi, polanya harus diubah menjadi lebih cair. Hal ini berlaku untuk interaksi antara pimpinan, staf akademis, dosen dan mahasiswa.
Kampus pun harus berani mengembangkan pola pergaulan yang penuh diskusi ilmiah. Saat ini, manajemen di kampus sangat berorientasi birokratis.”Implikasinya pada sistem pengajaran yang dibangun dosen. Dosen jadi seperti pejabat, bukan orangtua yang ngemong ke anaknya. Seharusnya gap antara dosen dan mahasiswa tipis sehingga diskusi yang sifatnya mengembangkan daya pikir dan semangat ilmiah terbangun,” ujar Abduhzen.
Faktor lain yang menyebabkan peringkat RI turun drastis di tengah naiknya pamor kampus Asia di dunia adalah kesalahan strategi. Menurut Abduhzen, Indonesia tidak memiliki strategi pembangun dan pengembangan perguruan tinggi secara ajeg dan jelas sehingga menjadi panduan penyelenggara perguruan tinggi. “Masing-masing perguruan tinggi mengembangkan diri sendiri dan arahnya tidak jelas,” imbuhnya.(mr)
