AMBON,MRNews.com,- Sebanyak 25 jurnalis media cetak, elektronik dan online dari berbagai daerah di Indonesia diantaranya Kota Ambon, Makassar, Lombok, Bali serta Jakarta ikut dalam kegiatan Interfaith Training Journalist, Keimanan dan Media dengan tema “ Sebuah Dialog Antar Agama Bagi Jurnalis Indonesia” sejak tanggal 2-4 November 2018 di Santika Hotel Premiere, Ambon. Kegiatan tersebut merupakan kerjasama Deutsche Welle (DW) Academie Germany dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI).
Trainer internasional DW Academie, Antje Bauer menegaskan, fakta pemberitaan beberapa media massa tentang topik agama masih belum objektif. Padahal, itu sangat penting, meski harus didukung verifikasi narasumber, keberimbangan, akurasi dan validasi informasi atas suatu peristiwa. Sehingga kegiatan ini ada sebagai wujud mendapatkan fakta pemberitaan itu sekaligus melatih jurnalis menjadi agen keimanan lewat tulisannya. “Munculnya pemberitaan tanpa melakukan prinsip-prinsip jurnalis yang baik akan berdampak terhadap pembaca terutama menyangkut topik sensitif seperti agama,” tegas Antje dalam kesempatan pelatihan.
Hesthi Murthi, Direktur Eksekutif AJI Indonesia mengaku, pelatihan ini diselenggarakan untuk membekali jurnalis skill melakukan peliputan konfilik dan Kota Ambon dipilih sebagai salah satu kota karena pernah mengalami konflik sosial tahun 1999. “Pemahaman jurnalis terhadap akar masalah konflik menjadi penting agar tidak menghasilkan peliputan yang bias dan sebaliknya menghasilkan liputan-liputan yang mendorong perdamaian dan kehidupan lebih baik bagi semua pihak,” katanya yang turut diamini Ayu Purwaningsih, trainer nasional DW Academie.
Pelatihan yang sama juga telah terlaksana di Bandung, Palembang, Pontianak, Manado. Karena itu, Hesti harapkan, lewat pelatihan ini peserta mendapatkan kesempatan memperluas pengetahuan tentang dasar konstitusi, politik dan sosial pluralisme beragama di Indonesia dan tantangan nantinya dari ekstremisme agama jelang Pemilu 2019. “Pelatihan ini dalam upaya mendorong jurnalis di daerah yang tingkat potensi konfliknya tinggi agar dapat menyajikan berita yang tidak memprovokasi masyarakat dan meruncing konflik melainkan mendorong untuk resolusi dengan informasi menyejukan,” terang Hesti
Sebelumnya, salah satu pembicara, M. Yani Kubangun menerangkan, prinsip independen jurnalis menjadi point penting dalam peliputan dan penulisan pemberitaan. Namun, di Kota Ambon, saat penulisan berita-berita konflik saat ini atau isu agama yang sensitif, harus ada strategi menampilkan fakta agar tidak memicu ketegangan dan konflik. Pasalanya, Ambon memiliki pengalaman masa lalu yang pahit. Sebagai seorang jurnalis senior di Maluku, Yani mengaku, terlibat dalam peliputan konflik Maluku dari tahun 2000-2006. Sehingga banyak hal yang telah dipelajari dalam dimensi konflik tersebut, salah satunya bagaimana menyikapi pemanfaatan media untuk kepentingan politik kelompok tertentu.
“Ambon Ekspress saat konflik 2011, memilih mengambil strategi untuk melakukan sensor pemberitaan termasuk tidak terbit, karena kami menilai peristiwa konflik jika diterbitkan bisa memicu ketegangan di tengah masyarakat. Keputusan tidak terbit didasari dengan alasan kuat untuk melokasir konflik,” papar Wakil Pimpinan Redaksi Ambon Ekspress itu.
Adapun materi yang didapatkan dalam pelatihan adalah, memahami standar dan etika profesional dari jurnalisme sensitivitas konflik dan tak bias. Mengembangkan kemampuan dalam mencari fakta dan mengembangkan cerita untuk menghasilkan karya jurnalistik yang profesional, seimbang dan menarik bagi audiens dengan berbagai latar belakang. Juga mendapat pengalaman bertukar ide mengenai cara menghadapi intoleransi keagamaan, menjalin hubungan jangka panjang dengan rekan seprofesi dengan latar belakang agama yang berbeda, serta latihan membuat outline peliputan keimanan. (MR-02)












Comment