by

Ortu Korban Harap Pelaku Pemukulan di Rumdis Wagub Diproses Hukum

AMBON,MRNews.com,- Orang tua (Ortu) korban pemukulan, Wemmy Likumahua berharap, para terduga pelaku pemukulan terhadap anaknya, Fenly Likumahua (22) dapat diproses secara hukum.

Karena itu dia meminta kejadian pemukulan yang diduga dilakukan kerabat Wakil Gubernur (Wagub) Maluku terhadap anaknya saat malam tahun baru di rumah dinas Wagub bisa menjadi atensi Kapolda dan Kapolresta Ambon.

“Laporan sudah dilayangkan sejak waktu pemukulan, 1 Januari 2023 lalu dan tidak ada itikad baik dari keluarga terduga pelaku agar setidaknya datang dan besuk korban yang terbaring di rumah sakit,” jelasnya kepada awak media di Ambon, Rabu (4/1/23).

Diakui Wempy, Selasa (3/1), pihak dari Serse Polresta Ambon sudah datangi rumah sakit Bhayangkara Tantui-Ambon, tempat anaknya dirawat untuk ambil keterangan terkait laporan yang sudah dilayangkannya.

“Mungkin hari ini (kemarin-red) mereka lakukan penangkapan terhadap terduga pelaku yang aniaya kecil. Informasi dari internal keluarga Wagub, diduga pelaku utama itu anak mantan Sekda MBD tapi ada lain juga karena lebih dari satu orang yang pukul,” jelasnya.

Wemmy harapkan sebenarnya ada itikad baik keluarga terduga pelaku pemukulan untuk meminta maaf dan melihat kondisi anaknya. Namun bila itu urung dilakukan, maka sebagai warga negara yang baik dan taat hukum, adalah baiknya ikuti proses hukum yang berlaku.

Terpisah, saat diminta tanggapan terkait dugaan pemukulan pada Fenly Likumahua yang juga pengurus DPC Hanura Kota Ambon, Sekretaris DPD Hanura Maluku Alfred Lelau merespon diplomatis.

Dikatakan, partai Hanura di Maluku selalu menjaga harmonis dengan semua stakeholder termasuk bersama Pemerintah Daerah (Pemda) Maluku. Karena itu, baginya, kejadian yang terjadi di Rumdis Wagub merupakan kesalahpahaman personal yang kebetulan korbannya ialah kader Hanura.

“Selaku partai tentu pasti kami melakukan pendampingan untuk korban hingga persoalan hukumnya. Maka kami himbau penegak hukum agar serius tangani masalah ini agar tidak terjadi bisa di ruang publik bahwa Hanura benturan dengan pihak manapun, itu tidak ada,” tegasnya.

Dilain sisi, pihaknya kata Lelau, tidak menutup kemungkinan agar jalan damai bisa ditempuh. Tentu dengan tidak mengabaikan kepatuhan terhadap hukum yang berlaku di negara dan proses hukum yang sedang berjalan.

“Siapapun yang bermasalah hukum, tentu kita berikan pressure, pengawalan terhadap penegakan hukum agar benar-benar tegak lurus, lakukan tindakan hukum sesuai aturan yang berlaku. Jadi tegasnya ialah tidak ada masalah partai dengan Wagub atau siapapun,” pungkasnya.

Sebagaimana diberitakan, Fenly Likumahuwa, Pemuda 22 tahun dihajar hingga babak belur saat malam tahun baru di Rumdis Wakil Gubernur Maluku bilangan Karang Panjang, Ambon, Minggu (1/1/2023).

Pemukulan ini membuat kondisi memar di sekujur tubuh korban, bahkan sampai telinganya mengeluarkan darah. Fenly pun harus mendapat perawatan medis di RS Bhayangkara Tantui Ambon.

Korban, Fenly Likumahuwa menuturkan, awal terjadi pemukulan oleh orang tak dikenal (OTK) awalnya ketika ia diajak teman perempuannya, Aprilia ke rumah dinas Wagub Maluku, untuk merayakan malam tahun baru.

Sesampainya disana, ternyata baru ia ketahui kalau Aprilia ini juga diajak salah satu pria bernama Frenly yang diduga salah satu Satpol PP yang bertugas di rumah dinas.

“Sampai disana, orang yang ada di kediaman sudah pada mabuk, mungkin hanya beta (saya) yang masih stabil. Beta juga sempat ditawari untuk sama-sama cicipi minuman keras oleh salah satu OTK, tidak diketahui namanya,” ungkap korban yang masih terbaring lemas, Selasa (3/1).

Kebersamaan merayakan malam tahun baru itu awalnya sebenarnya berjalan dengan baik. Akan tetapi, ketika korban hendak pulang sekitar pukul 05.00 pagi, tiba-tiba ada yang memukulnya dari belakang dan mengenai area bagian telinga kiri..

“Tanpa sebab dan tak tahu apa-apa, tiba-tiba pukulan masuk. Beta tidak tahu alasannya apa, tapi beta yakin mereka lakukan begitu karena mau beta pulang sama-sama dengan Aprilia,” beber korban.

Menghindari hal buruk yang menimpanya, korban sempat melarikan diri untuk meminta pertolongan ke Satpol PP yang sedang berjaga di pos kediaman. Namun tidak ada satupun yang membantu.

Korban akhirnya dibantu salah satu anggota
kerabat Wagub, Noce yang kebetulan mengenal orang tuanya.

“Saat beta sebut beta papa punya nama, barulah ada satu orang Satpol PP yang kenal lalu amankan beta. Antua nama kaka Noce, dia yang bantu selamatkan beta lalu meminta rekannya, Nando untuk antar beta pulang ke rumah,” terangya.

Menurutnya, Nando ini juga menyaksikan saat korban dihajar sekelompok orang yang diduga merupakan keluarga dekat Wagub.

Akan tetapi, ketika ditanyai keluarga korban terkait para pelaku yang sudah melakukan tindakan tak terpuji itu, Nando mengaku saat itu ia sementara tidur dan tidak tahu kejadian sebenarnya.

“Setelah keluarga cari tahu, ternyata mereka semua disitu bukan hanya teman tapi mereka semua saudara,” ceritanya.

Korban mengaku tidak mengenali pasti identitas terduga pelaku. Namun dirinya ingat wajahnya dan menyakini terduga pelaku lebih dari satu orang dan merupakan keluarga dekat Wagub.

“Untuk yang pukul namanya beta tidak tahu, tapi wajahnya beta ingat dan pasti dia itu saudara sepupu anaknya pak Wagub. Yang pukul juga lebih dari satu orang mungkin karena keluarga jadi ikut-ikutan,” tuturnya.

Sebagai tindak lanjut, keluarga korban sudah melaporkan kejadian memilukan ini ke SPKT Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease 1 Januari 2023 lalu.

“Sampai di rumah, beta sampaikan langsung ke keluarga, dan saat itu juga keluarga langsung lapor ke Polresta Pulau Ambon. Hasil visum juga sudah dibawa kesana,” beber korban.

“Beta dipukul di bagian kepala, badan, serta di bagian telinga. Yang mana menyebabkan memar, bengkak dan mengeluarkan darah,” pungkasnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed