AMBON,MRNews.com,- Majelis Pekerja Klasis (MPK) GPM Kota Ambon meminta sejumlah isu penting yang marak terjadi beberapa waktu belakangan ini menjadi perhatian pelayan dan umat dalam persidangan XXIV Jemaat Syaloom. Isu-isu ini bukan saja dialami dan dimaknai klasis kota Ambon, tapi juga semua locus pelayanan dan daerah lain.
“Beberapa isu penting yang perlu mendapat perhatian peserta sidang ini diantaranya pengaruh buruk media sosial dan handphone, maraknya berita Hoax, persoalan lingkungan, rendahnya tingkat pendidikan, pemberdayaan umat yang minim,” tandas anggota MPK GPM Kota Ambon, Penatua M.J. Saptenno dalam arahannya sebelum membuka persidangan XXIV Jemaat Syaloom, Minggu (25/2).
Dikatakan Saptenno, media sosial dan handphone selain berdampak positif tapi juga besar pengaruh buruk bagi kehidupan masyarakat dan umat apalagi bagi anak-remaja, misalnya saling hujat antara satu dengan lain, menyebarkan berita tidak benar/hoax/fitnah atas suatu kejadian yang sebenarnya tidak pernah terjadi.
Selain itu, advokasi masalah lingkungan harus diseriusi. Dimaksudkan, mempengaruhi kebijakan pemerintah, persoalan peningkatan kualitas pendidikan, dan upaya pemberdayaan ekonomi umat oleh pelayan yang belum maksimal sehingga berpengaruh ke pendapatan jemaat. Serta, anak-anak perlu didorong orang tua untuk les atau studi bahasa inggris atau bahasa asing lain guna hadapi blok Masela dan lainnya.
“Sidang juga penting mengevaluasi sejauh mana implementasi program bagi perubahan perilaku umat. Itu lebih penting, bukan soal kuantitas partisipasi jemaat. Kalau tidak, semua yang dilakukan sia-sia. Jangan lihat persoalan teknis, tetapi apa kekurangan untuk dievaluasi, dilengkapi lebih baik kedepan,” tegas Rektor Universitas Pattimura (Unpatti) itu.
Sementara itu, Ketua Majelis Jemaat GPM Syaloom Pendeta Dirk Picauly menegaskan, persidangan adalah amanat konstitusi yang tidak bisa diabaikan. Kali ini, sidang ketiga kalinya untuk evaluasi pasca penetapan renstra jemaat. Tentu harapannya melalui program yang dibahas, visi misi jemaat Syaloom dapat tercapai. Bahwa kekurangan menjadi kelengkapan dan acuan dalam sidang guna evaluasi renstra tahun kedepan.
“Garis besar, 96,15 persen realisasi program tahun kemarin dengan 82 persen realisasi kegiatan. Program yang tidak jalan karena berbagai aspek mendasar. Salah satu realisasi program melalui kerjasama dengan RT/RW guna penataan lingkungan dan peningkatan Kamtibmas. Adapun tiga aspek yang jadi perhatian selaras dengan sub tema, yakni fokus tim advokasi bukan saja masalah hukum, tapi juga pendidikan, lingkungan, ekonomi. Merupakan tanggungjawab bersama semua pihak untuk merawat dan membela kehidupan serta pemberdayaan potensi pemuda guna menjawab tantangan kekinian dan kedepan,” terang Picauly dalam pidatonya.
Sedangkan, Camat Sirimau, Megi Lekatompessy mengakui, pengaruh buruk IT di zaman now atau milenial ini sangat kuat. Karenanya, penting dibatasi pemakaian HP oleh anak-anak dari orang tua termasuk nonton TV berlebihan tetapi anak harus didorong untuk belajar. Terkait itu, termasuk Gereja harus juga berperan aktif dalam pembinaan spiritual umat.
Lekatompessy pun berharap sidang perlu merancang program yang terfokus melihat masalah lingkungan serta perkuat kapasitas masyarakat hadapi bencana karena rentan alami bencana maupun pembinaan dan pemberdayaan umat.
“Beberapa kegiatan nasional akan dilakukan di kota Ambon yaitu HUT Damkar pada 1 Maret, 6-9 Maret Kongres Musik Nasional, Pesparani di bulan Oktober dan Pilkada Maluku Juni 2018. Menyoal Pilkada, dipertegas pilihan boleh berbeda tapi tidak lantas harus gontok-gontokan, terjadi perpecahan. Tanamkan pemahaman kita sebagai orang basudara.
Karenanya, mari ciptakan situasi dan keamanan di Pilkada. Sejumlah even ini, perlu dukungan semua masyarakat untuk sukses, bukan saja pemerintah,” demikian Lekatompessy. (MR-05)











Comment