AMBON,MRNews.com,- Membicarakan moderasi beragama adalah tentang sesuatu yang visioner dan butuh keberanian untuk keluar dari zona nyaman atau “Passing Over”. Tidak bisa lagi melihat sesuatu yang dibelakang.
“Sejarah konflik di Maluku salah satunya ajarkan kita bahwa ekslusivisme itu tidak terbentuk begitu saja. Tapi ada satu prakondisi yang memungkinkan kita berpikir eksklusif, bertindak introver,” sebut Wakil Rektor III UKIM Pendeta Dr. Steve Gaspersz saat menjadi narasumber di TOT Moderasi Beragama IAKN Ambon, Rabu (7/12).
Pasca konflik Maluku, kata dia, yang perlu disadari ketika bicara moderasi beragama dalam konteks Maluku dan Indonesia, maka residu konflik paling besar yaitu masih meninggalkan warisan segregasi wilayah pemukiman. Perjumpaan yang terbatas, bukan lintas pergaulan.
“Inilah persepektif visioner moderasi beragama. Terhadap itu, butuh keberanian untuk passing over (pergi keluar dari zona kita ke wilayah orang lain) untuk belajar sesuatu dan kembali bukan lagi jadi pribadi yang sama tapi yang sudah tercerahkan,” jelasnya.
Ditambahkan, agama-agama harus memberi perhatian serius kepada aktivitas kebudayaan keseharian. Antropologi pengalaman, itulah yang harus jadi sumber bagi munculnya diskursus, komunikasi antar komunitas yang hidup dalam segregasi wilayah berbasis identitas primordial.
Selain Gaspersz, sejumlah narasumber akan juga hadir pada kegiatan yang berlangsung dua hari tersebut yakni Dr Abdul Manaf Tubaka, MSi dan Dr Sipora B Warella, M.PdK (landasan teologi moderasi beragama dalam perspektif Islam dan Kristen), Prof. Dr Yance Rumahuru, MA (Asumsi membangun perspektif dan sketsa kehidupan beragama di Indonesia).
Kemudian Dr. Wardah Nuroniyah, MSi (Analisis sosial dengan perangkat gunung es serta ketrampilan menjadi trainer), Dr. A.Ch. Kakiay, MSi (Ekosistem Moderasi Beragama dan strategi penguatan moderasi beragama) serta Dr. Sudirman Simanihuruk, M.Th (Wawasan Kebangsaan).
Sementara itu, Wakil Rektor III IAKN Ambon, Dr. Agus Gaspersz, M.Sn menyebut, konsistensi IAKN Ambon yang fokus bicara moderasi beragama sebagai bentuk komitmen untuk membangun harmoni dan keragaman yang jadi tagline IAKN.
Dimana penguatan moderasi beragama menjadi program prioritas Kementerian Agama yang wajib ditindaklanjuti setiap lingkungan kampus.
“IAKN Ambon sudah implementasi nilai Moderasi Beragama dengan menyediakan rumah moderasi beragama, melakukan kegiatan internal dan eksternal lintas daerah dan budaya serta kini lakukan ToT, melatih para trainer untuk jadi agen moderasi beragama dalam ruang sosial,” tandas Gaspersz.
Dikatakan, keragaman perbedaan masyarakat di Maluku khususnya menjadi kekayaan tetapi juga dapat menjadi masalah. Masalah keterbukaan, penerimaan, toleransi antar umat beragama, menjadi faktor yang memberi kontribusi konflik yang mesti diminimalisir.
“Saya berharap lewat kegiatan ToT ini, akan lahir para trainer/tenaga yang mampu menjadi untuk melatih lagi trainer baru agar terus membumikan moderasi beragama sebagai sebuah fakta yang harus kita seriusi. Dan pengalaman masa lalu menjadi pijakan kita,” demikian Gaspersz.
Sebelumnya, Ketua Panitia ToT, Dr Sipora B Warella, M.Th dalam laporannya katakan, kegiatan yang bertujuan membentuk wawasan moderat untuk hasilkan tenaga ToT Moderasi Beragama ini selain hadirkan narasumber, juga peserta dari dosen, mahasiswa dan pemuda lintas iman sebanyak 100 orang. (MR-02)











Comment