Pada 9 Desember 2025, sebuah monolog tunggal di Museum Kebangkitan Nasional kembali menyalakan perdebatan seputar tragedi klasik Shakespeare—namun dengan cara yang terasa sangat kontemporer. Dalam gelaran BUDAmFEST, Iskandar GB menyuguhkan “Liar Lear”, sebuah pembacaan baru yang memindahkan pusat narasi dari istana ke ruang pengasingan dan menempelkan kembali pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya menggerakkan runtuhnya kekuasaan.
Sebuah ulang-baca yang menggeser fokus
Alih-alih menyusun kembali keseluruhan epik King Lear, Iskandar GB—dikenal juga sebagai Alek—memilih jalur monodrama untuk menyorot momen-momen paling rawan dari kisah itu: kesunyian, keraguan, dan dialog batin seorang penguasa yang tersingkir. Teknik ini memberi ruang bagi penonton untuk mendengarkan perubahan perspektif yang selama ini tertutupi oleh intrik istana.
Melalui pendekatan yang disebutnya Bongkar Muat, Alek memecah struktur tradisional cerita dan memasukkan elemen-elemen baru yang menegaskan aspek psikologis dan politis. Hasilnya bukan sekadar ringkasan; ini adalah reinterpretasi yang menantang pembaca untuk menegaskan kembali siapa aktor intelektual di balik tragedi tersebut—apakah itu figur luar, sistem, atau fragmen dari diri sang raja sendiri.
- Pertunjukan: Liar Lear — monodrama oleh Iskandar GB
- Waktu & tempat: 9 Desember 2025, Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta
- Metode: Bongkar Muat — membongkar struktur klasik lalu memuat ulang ide
- Fokus tematik: pengasingan, ambiguitas kebenaran, aktor intelektual dalam kejatuhan kekuasaan
- Signifikansi: membaca ulang tragedi klasik dengan lensa politik dan psikologis masa kini
Apa yang berubah ketika panggung menyempit
Dalam ruang yang terbatas dan tanpa pemeran pendukung, setiap kata, jeda, dan gerak menjadi penentu. Keheningan panggung di Liar Lear bukan sekadar latar; ia berfungsi sebagai alat pencerahan. Penonton dipaksa mengisi celah-celah narasi, sehingga interpretasi atas penyebab kejatuhan Lear menjadi lebih personal dan lebih politis.
Konsep ini juga menempatkan tanggung jawab narasi pada satu tubuh aktor. Ketika Alek memerankan berbagai suara dan motif, ia menuntut audiens untuk mempertimbangkan kemungkinan bahwa penyebab runtuhnya tidak hanya berasal dari konspirasi eksternal, tetapi juga dari keputusan internal—ketidaktahuan, ego, atau ambivalensi moral sang penguasa.
Relevansi untuk penonton sekarang
Kenapa pertunjukan seperti ini penting hari ini? Karena pembacaan ulang karya klasik sering merupakan cermin dari kegelisahan zaman. Ketegangan antara kebenaran publik dan permainan kekuasaan yang dieksplorasi dalam Liar Lear menyentuh tema-tema yang masih aktual: akuntabilitas pemimpin, manipulasi narasi, dan bagaimana masyarakat memahami penyebab kegagalan institusi.
Untuk penikmat teater, reformulasi semacam ini memperkaya wacana seni pertunjukan di Indonesia—mendorong percobaan bentuk, memperkuat peran monodrama, dan membuka ruang refleksi kolektif. Bagi khalayak luas, adalah pengingat bahwa kisah-kisah lama bisa menawarkan alat analitis untuk membaca dinamika kekuasaan sekarang.
Iskandar GB memainkan Liar Lear dalam BUDAmFEST 2025, 9 Desember 2025. Foto: dok. AB Asmarandana
Artikel serupa :
- BUDAmFEST 2025 LTC: intip program dan peluang kolaborasi yang berdampak hari ini
- Azmi Bahron eksperimen AI dalam monolog Hutan Ladaya: buka luka lama
- Akhir Tahun Spektakuler dengan Mahalini: Cek Jadwal Lengkap Desember 2024!
- Film kerajaan China wajib tonton akhir pekan: 6 judul siap streaming di Vidio
- Ngaos Art pameran Jakarta: karya bertema made in China angkat rindu anak pada ayah

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.





