Konser bertajuk “Pranayama” oleh gitaris Dewa Budjana akan digelar di Jakarta pada 10 April 2026, hanya dua hari dari sekarang, menawarkan pengalaman mendengarkan yang sengaja dirancang untuk suasana lebih dekat dan personal. Penyelenggara menempatkan kesempatan ini sebagai upaya memberi pengakuan nyata kepada pekerja musik sekaligus menghadirkan format pertunjukan yang berbeda dari konser besar biasa.
Acara berlangsung di Deheng House, sebuah ruang pertunjukan yang menekankan kualitas audio dan intimasi antara artis dengan penonton. Ruang konser utama, yang disebut DeConcert Room, dilengkapi sistem suara profesional, pencahayaan terkontrol, dan layar LED untuk mendukung aspek visual tanpa mengaburkan fokus pada musik.
Alasan konser ini penting sekarang
Dalam konteks industri musik yang masih menata ulang model pertunjukan langsung, konser kecil seperti ini menawarkan dua hal: pertunjukan berkualitas bagi penikmat dan saluran pendapatan alternatif bagi musisi. Penyelenggara menilai format intim juga memungkinkan interaksi artistik yang lebih mendalam, sesuatu yang sering hilang di arena besar.
Pendiri Deheng House, Lexi M. Budiman, menyatakan bahwa inisiatif ini merupakan bentuk penghargaan bagi musisi yang telah aktif memberi warna pada kancah musik nasional. Selain itu, Dewa Budjana juga dikenal aktif dalam program sosial Gitaris Untuk Negeri, yang menggalang bantuan untuk korban bencana di berbagai wilayah Indonesia.
Detail praktis dan apa yang bisa diharapkan
- Tanggal dan lokasi: 10 April 2026, Deheng House, Jakarta.
- Konsep: konser intim dengan kapasitas terbatas untuk pengalaman akustik yang lebih personal.
- Fasilitas panggung: sistem suara profesional, pencahayaan artistik, dan visual LED pendukung.
- Harga tiket: mulai Rp 300.000 hingga Rp 500.000; dijual lewat platform penjualan resmi.
- Nilai tambah: kesempatan menyaksikan karya Dewa Budjana dari jarak dekat dan mendukung kegiatan sosial musisi.
Karena jumlah penonton dibatasi, penyelenggara mengingatkan calon penonton untuk memperoleh tiket melalui kanal resmi dan menghindari pembelian lewat pihak ketiga yang tidak jelas. Format yang kecil ini juga berarti suasana lebih hening dan fokus—kurang cocok bagi penonton yang mencari pengalaman keramaian atau keriuhan besar.
Perspektif singkat
Model konser seperti “Pranayama” mencerminkan adaptasi sektor live music terhadap preferensi penikmat yang menginginkan kualitas mendengarkan selain sekadar hiburan massal. Bagi musisi, format semacam ini membuka ruang apresiasi yang berbeda; bagi penonton, ini kesempatan langka untuk merasakan performa dari dekat. Perjalanan penjualan tiket dan respons publik dalam beberapa hari ke depan dapat menjadi indikator minat untuk format serupa ke depan.
Artikel serupa :
- Serbu Sekarang! Tiket Konser 20 Tahun The Changcuters: Cek Link dan Harga di Sini!
- Whisper of strings hangatkan malam Cipasung meski rintik hujan
- Yura Yunita Gelar Konser Bingah Yura: Cek Harga Tiket, dari Festival hingga Narateutama!
- Hari Musik Nasional 2025: Isu Royalti Memanas, Ini Harapan Para Musisi!
- Noise Tangsel: M. Ramdhani sulap kebisingan kota jadi pertunjukan audio

Sebagai jurnalis televisi yang telah berkarier selama lebih dari delapan tahun,
Rizky Aditya dikenal karena kepiawaiannya dalam menyajikan laporan
langsung dan investigasi mendalam.






