Baim Wong buka-bukaan soal adegan kasar di Suamiku Lukaku: ditampar langsung oleh Acha Septriasa

Baim Wong Ungkap Tantangan Jadi Pasangan Kasar di Film Suamiku Lukaku, Rela Ditampar Acha Septriasa

Maret 16, 2026

Menjalani adegan kasar di depan kamera ternyata memicu dilema batin bagi Baim Wong. Saat menghadiri peluncuran trailer dan soundtrack film Suamiku Lukaku di Jakarta (13/3), aktor itu mengaku bergulat antara kebutuhan artistik dan batas kenyamanan saat adegan fisik dilakukan secara nyata.

Baim mengatakan ia kerap berdoa sebentar sebelum adegan yang melibatkan kontak fisik, karena tak mudah baginya menyakiti rekan kerja meski hanya dalam peran. Untuk mengejar ekspresi yang autentik, ia memilih menerima tamparan sungguhan dari lawan mainnya, Acha Septriasa, daripada mensimulasikannya.

Menurut Baim, penerapan cara itu bukan tanpa pertimbangan. Ia sengaja tidak memberi tahu secara detail gerakan tamparan kepada Acha agar reaksi yang muncul tampak spontan dan intens, dan sering cukup satu atau dua kali take untuk mendapatkan momen yang diinginkan.

Profesionalisme dan pengaturan di lokasi syuting

Meskipun adegan dilakukan nyata, Baim menegaskan semua tindakan berlangsung di bawah pengawasan ketat tim produksi. Diskusi soal seberapa jauh kontak fisik diperbolehkan menjadi bagian rutin sebelum pengambilan gambar.

Dia menjelaskan adanya pemantauan yang intens dari sutradara—disebutnya Putri—serta pembicaraan terbuka antara pemain untuk menetapkan batasan. Langkah-langkah ini memastikan bahwa improvisasi tetap berada dalam koridor rasa aman bagi semua pihak.

  • Konsensual: Persetujuan eksplisit antara pemain sebelum melakukan adegan fisik.
  • Pembatasan gerakan: Menentukan sejauh mana kontak diperbolehkan (mis. satu langkah maju, sentuhan ringan).
  • Arbitrase sutradara: Sutradara memutuskan apa yang boleh dan tidak saat take.
  • Jumlah take minimal: Mengurangi pengulangan untuk meminimalkan risikonya.
  • Jeda saat cut: Memberi ruang emosional dan fisik setelah adegan intens.

Pengaturan semacam ini menunjukkan bagaimana tim produksi berusaha menyeimbangkan kebutuhan sinematik—mencapai keaslian emosi di layar—dengan tanggung jawab terhadap keselamatan dan kenyamanan pemeran.

Di luar tekniknya, pengalaman Baim menyoroti perdebatan yang lebih luas di industri perfilman Indonesia: sampai sejauh mana realisme fisik dibenarkan demi efek dramatis, dan bagaimana menjaga etika kerja tanpa mengorbankan kualitas artistik. Untuk penonton, hasilnya nanti akan terlihat di layar; bagi para pelaku, itu soal menjaga profesionalisme di balik adegan paling menantang.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  MERAH PUTIH: Di-Remake Netizen, Respons Sutradara

Tinggalkan komentar

Share to...