Baru-baru ini band Asteriska merilis sebuah karya bersama tokoh adat Dayak yang menancapkan pesan kuat: menjaga bumi bisa dimulai lewat musik. Lagu berjudul Suara Tanah Kita dirancang sebagai seruan kolektif untuk memperkuat kesadaran lingkungan dan pengakuan hak-hak adat di tengah tekanan perubahan lahan.
Kolaborasi ini menggabungkan bahasa lirik kontemporer dengan elemen budaya lokal, bukan sekadar gimmick artistik. Keterlibatan tokoh adat memberi bobot nilai sejarah dan kultural, sementara aransemen musik diarahkan agar mudah diakses generasi muda yang aktif di platform streaming.
Momen yang relevan
Kenapa proyek ini penting sekarang? Isu deforestasi, perluasan perkebunan, dan eksploitasi sumber daya terus memicu ketegangan di wilayah berpenduduk adat. Lagu seperti Suara Tanah Kita hadir di tengah perbincangan publik tentang tata kelola lahan dan hak-hak komunitas lokal, sehingga potensi dampaknya lebih dari sekadar estetika.
Secara praktis, produksi musik yang melibatkan pemimpin komunitas adat dapat membuka ruang dialog baru: menyampaikan pengalaman lokal ke audiens luas, mengedukasi pendengar, dan mendorong perhatian pembuat kebijakan tanpa harus bergantung pada retorika konvensional.
- Pesan utama: perlindungan lingkungan dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
- Target: generasi muda pengakses musik digital dan publik kota yang lebih luas.
- Media: rilisan audio, video klip yang menampilkan elemen budaya, dan kemungkinan penampilan panggung kolaboratif.
- Potensi efek: meningkatnya kesadaran, dukungan untuk advokasi hak adat, dan perbincangan kebijakan lokal.
Respon dan konsekuensi
Sejumlah pengamat budaya menilai pendekatan berbasis seni memberi nuansa berbeda dalam kampanye lingkungan: lebih emotif, mudah diterima, serta mampu menembus batas demografis. Namun efektivitasnya bergantung pada kesinambungan—apakah proyek ini diikuti oleh aksi nyata atau berhenti sebagai saat viral semata.
Sisi lain yang perlu diperhatikan adalah representasi. Keterlibatan tokoh adat harus disertai proses yang adil dan transparan, agar suara komunitas tidak hanya jadi hiasan artistik. Jika dikelola baik, kolaborasi seperti ini bisa memperkuat posisi masyarakat adat dalam merumuskan solusi pengelolaan wilayah mereka sendiri.
Apa yang bisa dilakukan pembaca
Bagi pendengar, ada beberapa langkah sederhana yang dapat memberi dampak lebih besar dari sekadar menikmati lagu:
- Dengarkan dan sebarkan karya pada sumber resmi untuk memastikan dukungan finansial sampai ke pemangku kepentingan.
- Cari informasi lebih lanjut tentang isu lahan dan hak adat di daerah terkait—pemahaman lokal penting sebelum bersuara.
- Dukung inisiatif yang menjembatani seni dan advokasi lingkungan melalui partisipasi di acara atau diskusi publik.
Kolaborasi antara Asteriska dan tokoh adat Dayak lewat Suara Tanah Kita menegaskan satu hal: musik masih bisa jadi medium efektif untuk mengangkat isu serius tanpa kehilangan daya tarik budaya. Ke depan, publik dan pembuat kebijakan perlu melihat apakah gelombang ini diterjemahkan menjadi langkah konkret — atau sekadar momen artistik yang cepat berlalu.
Artikel serupa :
- Lirik KTM Koalia Tok Mai Abio Salsinha: lagu viral angkat musik Tetum di Indonesia
- Gunung Susuru Ciamis jadi sorotan komunitas budaya: makna situs diartikan ulang
- Teater Tasikmalaya: Qobiltu Hatedu tampilkan ijab kabul di perayaan seni dunia
- Hari Musik Nasional 2025: Isu Royalti Memanas, Ini Harapan Para Musisi!
- VVONDERLAND hadir kembali: kolaborasi dengan Alyssa Ananta di single Blanket & Moon

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.





