Penutupan Lanjong Art Festival 2025 di Kutai Kartanegara menampilkan sebuah karya performatif yang membuat penonton terdiam: sebuah pertunjukan Butoh dari seniman Singapura, Xue, yang menguji batas-batas suara dan gerak dalam ruang gelap. Aksi singkat itu menegaskan pergeseran praktik seni pertunjukan di kawasan—dari karya representasional menuju eksperimen berbasis pengalaman langsung.
Di bawah sorot lampu sempit, penonton pertama kali melihat sosok putih yang menggulung tubuhnya di lantai. Tubuh itu dilapisi cat, berpakaian serba putih—stoking, korset, dan cawat—sehingga setiap rupa kontras dengan bayangan sekitarnya.
Suara menjadi alat utama: ada desah elektronik seperti mesin yang bermasalah, tetesan air yang jatuh berirama seperti pengingat waktu, serta bunyi lonceng dan derap kaki yang menandai pergeseran aksi. Gerakan Xue berjalan dari lambat ke terputus-putus; beberapa detik tampak membeku, lalu melaju dalam rangkaian stakato.
Tepat di momen yang memecah konsentrasi, sosok itu lenyap dari lingkaran cahaya dan muncul kembali dengan perubahan kecil namun signifikan—tangan terbungkus sarung bulat yang menyamarkan jari-jarinya, menambah unsur ketidakpastian visual pada narasi gerak.
Rangka waktu pertunjukan tidak panjang—sekitar 16 menit 47 detik—namun intensitas dan pilihan material audio-visual menciptakan efek yang bertahan lama pada ruang setelah lampu padam dan musik berhenti.
| Elemen | Detail |
|---|---|
| Judul | A Short History of Almost |
| Perupa | Xue (seniman Butoh, Singapura) |
| Lokasi & tanggal | Penutupan Lanjong Art Festival, Kutai Kartanegara — 27 Agustus 2025 |
| Durasi | 16 menit 47 detik |
| Unsur penting | Cat tubuh putih, pakaian serba putih, sarung tangan yang menyamarkan jari, suara mekanik, tetesan air, lonceng |
Beberapa poin singkat yang perlu diperhatikan oleh pengamat seni dan publik:
- Pertunjukan ini menempatkan suara sebagai elemen struktural, bukan sekadar latar—mengubah cara penonton membaca gerak.
- Pilihan pakaian dan cat putih memperkuat efek visual yang kontras dengan kegelapan teater, menciptakan fokus pada ritme tubuh.
- Momen kemunculan dan lenyapnya tubuh di panggung menyoroti aspek ketidakhadiran dan penanggalan identitas dalam bahasa pertunjukan kontemporer.
Xue bukan sekadar penari; praktiknya adalah lintas disiplin yang berupaya membangun kerangka eksperimental—serangkaian pengaturan ruang dan waktu yang diuji dalam konteks langsung. Di wilayah Asia Tenggara, pendekatan seperti ini menunjukkan adanya dialog yang semakin aktif antara gerak, suara, dan instalasi ruang.
Kenapa ini penting sekarang? Pertunjukan seperti yang ditampilkan Xue menandai pergeseran kuratorial dan publik terhadap karya yang menuntut partisipasi sensori serta refleksi—bukan sekadar konsumsi visual cepat. Untuk penyelenggara festival, kurator, dan penikmat seni lokal, praktik semacam ini membuka peluang kolaborasi lintas negara dan memperkaya ekosistem seni pertunjukan di kawasan.
Setelah lampu padam pada malam itu, ada kesan bahwa karya singkat dapat menyisakan pertanyaan panjang tentang cara kita menghadapi tubuh, suara, dan ruang di panggung kontemporer—dan bahwa dialog itu kini berlangsung lebih intens di peta seni regional.
Artikel serupa :
- Monolog Ngaos Art mengusik ego dan tubuh lewat narasi provokatif
- Noise Tangsel: M. Ramdhani sulap kebisingan kota jadi pertunjukan audio
- BUDAmFEST 2025 LTC: intip program dan peluang kolaborasi yang berdampak hari ini
- Terap Festival #2 Guncang Bandung: “Caang Mumbul Dina Batok”, Perayaan Spektakuler Kota Kreatif!
- Larissa Umayta hadirkan musik Brasil yang menyatukan dua benua

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






