Xue, butoh Singapura: karya a short history of almost pelihara memori lewat gerak tubuh

Xue, Seniman Butoh Singapura: A Short History of Almost, Menjaga Ingatan Lewat Tubuh

Maret 12, 2026

Penutupan Lanjong Art Festival 2025 di Kutai Kartanegara menampilkan sebuah karya performatif yang membuat penonton terdiam: sebuah pertunjukan Butoh dari seniman Singapura, Xue, yang menguji batas-batas suara dan gerak dalam ruang gelap. Aksi singkat itu menegaskan pergeseran praktik seni pertunjukan di kawasan—dari karya representasional menuju eksperimen berbasis pengalaman langsung.

Di bawah sorot lampu sempit, penonton pertama kali melihat sosok putih yang menggulung tubuhnya di lantai. Tubuh itu dilapisi cat, berpakaian serba putih—stoking, korset, dan cawat—sehingga setiap rupa kontras dengan bayangan sekitarnya.

Suara menjadi alat utama: ada desah elektronik seperti mesin yang bermasalah, tetesan air yang jatuh berirama seperti pengingat waktu, serta bunyi lonceng dan derap kaki yang menandai pergeseran aksi. Gerakan Xue berjalan dari lambat ke terputus-putus; beberapa detik tampak membeku, lalu melaju dalam rangkaian stakato.

Tepat di momen yang memecah konsentrasi, sosok itu lenyap dari lingkaran cahaya dan muncul kembali dengan perubahan kecil namun signifikan—tangan terbungkus sarung bulat yang menyamarkan jari-jarinya, menambah unsur ketidakpastian visual pada narasi gerak.

Rangka waktu pertunjukan tidak panjang—sekitar 16 menit 47 detik—namun intensitas dan pilihan material audio-visual menciptakan efek yang bertahan lama pada ruang setelah lampu padam dan musik berhenti.

Elemen Detail
Judul A Short History of Almost
Perupa Xue (seniman Butoh, Singapura)
Lokasi & tanggal Penutupan Lanjong Art Festival, Kutai Kartanegara — 27 Agustus 2025
Durasi 16 menit 47 detik
Unsur penting Cat tubuh putih, pakaian serba putih, sarung tangan yang menyamarkan jari, suara mekanik, tetesan air, lonceng

Beberapa poin singkat yang perlu diperhatikan oleh pengamat seni dan publik:

  • Pertunjukan ini menempatkan suara sebagai elemen struktural, bukan sekadar latar—mengubah cara penonton membaca gerak.
  • Pilihan pakaian dan cat putih memperkuat efek visual yang kontras dengan kegelapan teater, menciptakan fokus pada ritme tubuh.
  • Momen kemunculan dan lenyapnya tubuh di panggung menyoroti aspek ketidakhadiran dan penanggalan identitas dalam bahasa pertunjukan kontemporer.

Xue bukan sekadar penari; praktiknya adalah lintas disiplin yang berupaya membangun kerangka eksperimental—serangkaian pengaturan ruang dan waktu yang diuji dalam konteks langsung. Di wilayah Asia Tenggara, pendekatan seperti ini menunjukkan adanya dialog yang semakin aktif antara gerak, suara, dan instalasi ruang.

Kenapa ini penting sekarang? Pertunjukan seperti yang ditampilkan Xue menandai pergeseran kuratorial dan publik terhadap karya yang menuntut partisipasi sensori serta refleksi—bukan sekadar konsumsi visual cepat. Untuk penyelenggara festival, kurator, dan penikmat seni lokal, praktik semacam ini membuka peluang kolaborasi lintas negara dan memperkaya ekosistem seni pertunjukan di kawasan.

Setelah lampu padam pada malam itu, ada kesan bahwa karya singkat dapat menyisakan pertanyaan panjang tentang cara kita menghadapi tubuh, suara, dan ruang di panggung kontemporer—dan bahwa dialog itu kini berlangsung lebih intens di peta seni regional.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini
BACA  8 Film Horor Terbaik Bulan Ini di Cinema XXI: Siapkan Nyali, Termasuk "Rumah Teteh: Story of Helena"!

Tinggalkan komentar

Share to...