Malam 14 Februari 2026 di Cipasung, Tasikmalaya, menyuguhkan sebuah pertemuan musik yang bukan sekadar hiburan. Komunitas lokal menggelar konser bertajuk “Romantic Nite: Whisper of Strings” untuk menghidupkan kembali minat terhadap **musik gitar klasik** dan mempererat ikatan antarpelaku seni di wilayah tersebut.
Hujan gerimis sempat hadir sebelum acara dimulai, membuat suasana menjadi lebih tenang dan menegaskan nuansa intim yang diharapkan penyelenggara. Lampu jalan dan genangan air memantulkan siluet penonton, sementara denting senar membuka malam dengan kelembutan yang kontras dari hiruk-pikuk musik populer.
Diwan Masnawi, penggerak acara dari Komunitas Kuluwung, menyatakan acara itu punya dua agenda utama: reuni bagi para musisi lama dan wadah edukasi bagi publik. Menurutnya, konser seperti ini penting untuk memperkenalkan kembali bahasa musikal yang bekerja tanpa lirik, agar masyarakat lebih akrab dengan kehalusan bunyi instrumental.
Nama yang mendapat sorotan malam itu adalah Fikri Binarsukma, gitaris klasik yang kembali tampil setelah penampilan lamanya pada 2015 dalam sebuah konser musikalisasi puisi di kawasan Priangan Timur. Kehadirannya dipandang sebagai jembatan antara generasi musisi yang berbeda di komunitas setempat.
Penampilan pembuka dibawakan oleh kelompok Imong and Friends — Eki Naufal Fauzi, Firman Imong, Wawan Kurniawan, dan Rizal ZA — yang membawakan susunan karya folk klasik seperti “Eleanor Plunkett” dan “Scarborough Fair” dengan aransemen yang merunduk pada keintiman nada. Petikan bergantian dan harmoni sederhana berhasil menarik tepuk tangan hangat dari penonton.
- Waktu dan lokasi: 14 Februari 2026, malam hari, Cipasung, Kabupaten Tasikmalaya.
- Penyelenggara: Komunitas Kuluwung.
- Pemain kunci: Fikri Binarsukma sebagai penampil utama; Imong and Friends sebagai pembuka.
- Repertoar: komposisi era Romantik dan petikan folk yang akrab di telinga publik.
- Tujuan acara: reuni, nostalgia, dan pengenalan musik instrumental kepada masyarakat lokal.
Beberapa implikasi lokal dari konser ini cukup jelas: pertama, acara sederhana seperti ini memperkuat ekosistem seni di level desa/kota kecil, memberi ruang bagi musisi non-mainstream untuk tampil; kedua, kegiatan pendidikan budaya yang dilakukan lewat pertunjukan langsung cenderung meningkatkan minat audiens terhadap bentuk-bentuk musik yang jarang diperdengarkan di media arus utama.
Penonton yang hadir tampak antusias, menyimak tanpa kegaduhan dan memberi apresiasi hangat di akhir tiap nomor. Untuk komunitas setempat, respons ini menjadi indikator bahwa upaya memperkenalkan kembali **musik instrumental** masih relevan dan berpotensi berkembang jika didukung agenda berkala serta keterlibatan generasi muda.
Penonton menikmati konser “Whisper of Strings” oleh Komunitas Kuluwung, Cipasung (14/02/2026).
Artikel serupa :
- Yura Yunita Gelar Konser Bingah Yura: Cek Harga Tiket, dari Festival hingga Narateutama!
- Hari Musik Nasional 2025: Isu Royalti Memanas, Ini Harapan Para Musisi!
- Serbu Sekarang! Tiket Konser 20 Tahun The Changcuters: Cek Link dan Harga di Sini!
- Akhir Tahun Spektakuler dengan Mahalini: Cek Jadwal Lengkap Desember 2024!
- Terap Festival #2 Guncang Bandung: “Caang Mumbul Dina Batok”, Perayaan Spektakuler Kota Kreatif!

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






