AMBON,MRNews.com,- Lima (5) tokoh atau pimpinan umat beragama di Provinsi Maluku menebarkan pesan damai untuk Nuhu Evav khususnya dan seluruh kepulauan Maluku pada umumnya.
Kelimanya ialah Ketua Majelis ulama Indonesia (MUI) Maluku Abdullah Latuapo,
Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Elifas Maspaitella, Sekretaris Umum Keuskupan Amboina Pastor Agustinus Arbol, Ketua Walubi Maluku Wilhelmus Jauwerissa dan
Ketua Parisada Hindu Dharma I Wayan Sutapa.
Pesan ini disampaikan kelimanya, seiring terjadinya bentrok antar kelompok warga di Kota Tual, (31/1) dan (2/2) yang membuat sejumlah rumah warga terbakar dan 33 orang termasuk anggota Polri terluka.
Berikut isi pesan damai untuk Nuhu Evav dari tokoh agama di Provinsi Maluku yang diterima redaksi, Jum’at (3/2/2023).
“Jangan lagi kita mengulangi kesalahan masa silam, karena kita harus bertanggung jawab memelihara damai yang ada diantara kita.
24 tahun lalu Nuhu Evav-lah yang pertama-tama menyalakan obor damai di tanah Maluku. Obor damai Nuhu Evav itu yang menerangi hati semua orang Maluku untuk menumbuhkan kesadaran budaya demi perdamaian sejati.
Ain Ni Ain telah membentuk kesadaran bahwa kita adalah satu, sebab kita lahir dari rahim yang sama, Ain Batang Ain kita harus saling menjaga.
Sadarilah bahwa konflik adalah salah satu dari ribuan cara pembodohan masyarakat. Konflik membuat anak-anak kehilangan kesempatan belajar dan itu adalah awal dari ketertinggalan mengejar kemajuan.
Hentikanlah konflik dan jaminkanlah pendidikan anak-anak dalam situasi masyarakat yang aman dan damai demi kemajuan generasi kita ke masa depan.
Konflik telah membuat kita hilang kepekaan sebagai orang saudara dan hilang rasa cinta kepada negeri, pulau dan sesama manusia. Padahal budaya kita sesuatu yang sakral karena mengajari kita cinta kepada saudara, rasa memiliki sebagai orang basudara, cinta kepada negeri, kepada tanah sebagai ibu yang melahirkan kita semua, cinta kepada manusia agar tidak dengan mudahnya saling membakar, menyerang, melukai, apalagi membunuh.
Tidak ada pemenang sejati dalam konflik antar saudara, yang ada adalah kebodohan yang dihadapi dan luka batin yang susah disembuhkan. Maka hentikanlah konflik.
Belajarlah dari perempuan-perempuan, dari mama-mama, dari ina-ina yang berhati mulia. Dari rahim mereka lahirlah damai.
Jangan khianati rahim suci perempuan-perempuan, mama mama dan ina-ina. Mereka adalah gambaran sejati bahwa perdamaian itu suatu ikatan hidup, tulus dan suci.
Mereka yang sakit bersalin, mereka yang setia bertahan di rumah, hati mereka sakit jika anak yang lahir dari rahimnya terluka, jika rumah tempat mereka berdoa dan merawat kehidupan keluarga terbakar dan musnah.
Wujudkanlah cinta kepada Nuhu Evav, kepada anak negerinya, kepada negerinya, kepada pulaunya, kepada bahasanya, kepada persaudaraannya.
Bersatulah sebagai pemilik yang sama atas nama Nuhu Evav, berbicaralah sebagai saudara dalam bahasa Kei yang santun dan penuh hormat, bersatulah laksana telur ikan yang memberi kehidupan.
Kokohkanlah tiga dasar hidup yang luhur diantara anak Nuhu Evav yakni Tom, Snib dan hukum. Sebab sejarah Tom jadi saksi bahwa kita semua lahir dari kandungan yang sama dan itu adalah suatu hal yang tidak bisa disangkali dan menjadi snib yaitu janji yang harus dijaga dan dipelihara karena mengabaikan atau menjauhi pengajaran itu, hukum yang akan bersaksi atas kita.
Orang Kei tidak pernah berdusta, sebab hukum ada didalam jiwa dan tubuhnya, hukum ada di alamnya, hukum ada di rumahnya dan hukum ada di pulau-pulaunya.
Damai harus lahir dari kita. Sebab damai itu lahir dari hati yang tulus. Maka jangan biarkan siapapun tertawa dan menari diatas penderitaan kita. Sebab itu mari kita menjaga obor damai yang pernah kita bawa untuk menerangi tanah Maluku dan Indonesia.
Dukunglah usaha pemulihan yang dilakukan pemerintah, tokoh-tokoh adat, tokoh-tokoh agama, dan difasilitasi aparat kepolisian dan TNI.
Tanpa dukungan dari dalam diri kita tidak ada faedahnya. Sebaliknya, atas kesadaran damai diantara kita apapun yang dikerjakan pasti berhasil. (MR-02)







Comment