Kabar duka datang dari dunia seni Indonesia, Subarkah Hadisarjana telah meninggal dunia, meninggalkan kesedihan yang mendalam di hati para pelaku seni, termasuk di industri film dan teater. Subarkah, yang terkenal sebagai aktor sekaligus penata rias handal, telah menyumbangkan banyak karya monumental yang memberikan nuansa unik pada panggung seni pertunjukan di Indonesia. Beliau sangat dikenal berkat keterlibatannya dalam film Pengkhianatan G 30 S/PKI dan berbagai pertunjukan teater nasional maupun internasional.
Dalam sebuah wawancara dengan Kabar Priangan melalui aplikasi Whats App pada hari Rabu (12/3), Suyadi M.Sn, dosen seni pertunjukan dari Institut Media Digital EMTEK (IMDE), berbagi kenangan tentang belajar tata rias dari Subarkah.
“Beliau pernah membuat riasan saya saat saya berperan sebagai Waskah dalam pertunjukan Ozon, yang merupakan respon terhadap polusi udara di Jakarta. Wajah saya diubah dengan detail menjadi tokoh Semar. Selama proses merias, Pak Barkah sering menceritakan pengalamannya di dunia teater, termasuk kerjasamanya dengan Teater Kecil dan Arifin C. Noer,” kenang Suyadi.
– Kenangan Rangga Riantiarno tentang Subarkah Hadisarjana: Sosok yang Tidak Tergantikan di Teater Koma
– Kepergian Subarkah Hadisarjana, Kesedihan yang Mendalam bagi Komunitas Seni di Indonesia
Menurut Suyadi, pengalaman tersebut sangat berkesan. “Saya merasa sangat terinspirasi oleh kecintaan Pak Barkah terhadap seni pertunjukan, khususnya dalam menciptakan karakter yang diinginkan oleh sutradara melalui rias wajah. Tidak hanya di teater, beliau juga sangat terkenal dengan kreasi karakter jahat dan efek darah yang realistis dalam film G 30 S/PKI,” tambahnya.
Kesedihan atas kepergian Subarkah juga dirasakan oleh rekan-rekan dan murid-muridnya. Melalui akun Instagramnya, Olif Holifah Wira dari Lab Teater Ciputat menyatakan dukanya, “Selamat jalan, Om Barkah, orang yang sangat baik. Semoga amal ibadahnya diterima. Turut berduka cita kepada keluarga yang ditinggalkan.”
Sena Sukarya, seorang penata rias yang juga terinspirasi oleh Subarkah, memberikan penghormatan melalui sebuah postingan di Facebook. “Selamat jalan guruku, Subarkah Hadisarjana.” Baginya, Subarkah tidak hanya seorang seniman yang berbakat, tetapi juga mentor yang dengan tulus membagikan pengetahuannya kepada generasi yang akan datang.
Artikel serupa :
- Rangga Riantiarno Mengenang Subarkah Hadisarjana: Sosok Legendaris Teater Koma Yang Tak Tergantikan!
- Subarkah Hadisarjana Meninggal: Duka Mendalam Bagi Dunia Seni Indonesia!
- Sena Sukarya Bongkar Emosi di Balik Riasan ‘Mencari Semar’: Rahasia Teater Koma Terungkap!
- Mengungkap Tari Topeng Bebegig Sampulur: Warisan Budaya Memukau dari Sukamantri!
- Sensasi ‘Sirkus Maling’ di Bandung: Membongkar Misteri Wajah Manusia dengan Teater Piktorial!

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






