by

Stop Eksploitasi Perempuan dalam Pemberitaan Media

AMBON,MRNews.com,- Mengikuti perkembangan kasus prostitusi di Ambon yang sedang viral, saya merasa perlu bersuara terkait beberapa media yang hanya menjadikan perempuan berinisial VS sebagai satu satunya orang yang harus disorot dalam pemberitaaan media.

Perempuan selebgram, nona es batu, perempuan 21 tahun dll?.

Menempatkan citra perempuan sebagai salah satu komuditas paling laku dijual dalam eksploitasi media sosial.

Dengan judul berita yang menempatkan perempuan sebagai objek utama yang dilakukan dengan penggunaan dan pemilihan diksi kata yang memberikan julukan khusus, yang misoginis sangat tidak mengedukasi.

Padahal jelas-jelas disitu laki laki dan perempuan sebagai dua orang yang terlibat, yang dengan sadar melakukan hal tersebut.  Laki laki dan perempuan harusnya ditempatkan dalam 1 frame yang sama, bukan perempuan yang terus menjadi jualan media.

Dalam pemberitaan beberapa media menempatkan perempuan yang berinisial VS sebagai objek utama judul berita.

Disini kita melihat peran media pemberitaan sebagai apa? Wadah yang menginformasikan?, mengedukasi? Atau memanfaatkan kebutuhan pasar dengan menjadikan perempuan sebagai objek?.  Dengan menggunanakan judul berita yang lagi perempuannya yang jadi bahan jualan disitu.

Jika media memang benar-benar ingin memberi informasi kepada masyarakat dan juga berguna sebagai efek jerah, harusnya secara fair, adil dalam pemberitaan media bahwa kedua pelaku adalah orang yang sama-sama sadar melakukan hal tersebut.

Bukan melebih-lebihkan perempuan. Berhenti membuat berita yang mengambil angle berpotensi memberikan hal yang negatif kepada perempuan.

Bahkan dibeberapa video, foto mengapa hanya identitas perempuan yang diedarkan di masyarakat? SIM perempuan yang diedarkan? Seakan-akan perempuan sebagai objek yang paling bersalah atau pantas diperlakukan seperti itu dalam kasus ini? Mengapa yang dicari rumahnya dan difoto hanya perempuan?.

Dalam kenyataannya, menjual perempuan dalam pemberitaan demi keuntungan medianya masing-masing sangat merugikan perempuan.

Dan kita secara tidak sadar sudah melakukan kekerasan seksusal terhadap perempuan.

Media memberitakan sebuah berita yang akan berdampak pada eksploitasi perempuan, itu sama saja media tersebut menelanjangi harga diri dari seorang perempuan.

Dalam konteks kasus mereka melakukan kesalahan tetapi dalam konteks lain kita harus adil.

(Natalia Mahudin SE. ME; Aktifitas Perempuan Maluku, Pendiri Lembaga Perempuan Progresif Indonesia Timur)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed