by

Sidang ke-9 KPAT Digelar, Ini Pesan MPH Sinode

AMBON,MRNews.com,- Sidang ke-9 Gereja Protestan Maluku (GPM), Klasis Pulau Ambon Timur (KPAT) resmi tergelar, Minggu 23 Mei 2021 di Jemaat GPM Hutumuri.

Wakil Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pendeta HH Hetharie memukul tifa tanda dimulainya sidang tahunan tersebut.

Dalam sambutan pembukaan, Hetharie sampaikan, sidang-sidang gerejawi yang terlaksana selama ini, harus dipahami secara bersama, adalah untuk kepentingan membangun jemaat-jemaat secara Am, sebaliknya, bukan wahana untuk mencari siapa yang benar dan siapa yang salah.

Menurutnya, saat ini, sudah saatnya GPM menjadi gereja yang benar-benar mandiri, dengan melibatkan seluruh potensi warga jemaat, yang tersebar dari Maluku hingga Maluku Utara (Malut).

Kemandirian ini harus didorong dengan jiwa pelayan yang menghamba, dengan tetap merawat dan menjaga domba-domba yang dipercayakan Tuhan diatas pundak para pelayan.

“Gereja, yang adalah kita sebagai orang percaya, harus mampu dan berdiri menjadi sandaran bagi orang-orang termarginal, mereka yang menderita, miskin, papah, serta terbelenggu oleh tirani mayoritas, serta terbelakang oleh kemajuan teknologi, serta terpuruk akibat kondisi global Pandemi Covid-19 saat ini,” jelas Hetharie.

Diakui, masih menjadi fakta di wilayah pelayanan GPM kondisi yang dipaparkan diatas, bahkan kesenjangan pembangunan, masih sangat dirasakan oleh jemaat serta klasis yang jauh dari pusat pemerintahan. Sehingga kolaborasi dengan semua pemangku kepentingan harus segera dilakukan guna mengatasinya.

Selain kondisi tersebut, realitas juga menggambarkan kepada kita, bahwa pembobotan keluarga harus menjadi prioritas utama lainnya, ditengah serangan arus informasi dan digitalisasi yang tak terbendung saat ini.

“Olehnya, Bina Keluarga (Binakel) yang selama ini dilakukan, harus mendapat pembobotan, untuk memproteksi keluarga dari ancaman kemajuan teknologi,” tukasnya.

Sementara itu, Ketua Klasis Pulau Ambon Timur Pdt SI Sapulette, dalam pidatonya katakan, walau ada badai dan tantangan serta rintangan, namun pelayanan yang dilakukan di KPAT tetap berjalan dari waktu ke waktu, sampai pelaksanaan persidangan ini.

Sidang klasis kali ini, kata Sapulette, punya makna penting dan strategis, untuk kembali melakukan konsolidasi kekuatan umat yang ada di 30 jemaat se-KPAT, untuk dikembangkan baik dari sisi ekonomi, pendidikan, sosial budaya dan sebagainya.

“Sama seperti penjelasan MPH Sinode, KPAT kedepan, diminta untuk tetap berpihak kepada kaum lemah, serta kemanusiaan, olehnya, persidangan ini harus menyiapkan segala infrastruktur untuk melakukan konsolidasi ke arah tersebut,” ungkap Sapulette.

Pihaknya juga meminta, persidangan ini dapat menghasilkan produk yang lebih terarah untuk perbaikan tata kelola keuangan, pengawasan serta pengendalian, sehingga pelayanan kepada umat, bisa lebih maksimal.

Pada kesempatan yang sama, dia juga meminta seluruh pelayan di KPAT, agar memperhatikan betul program GPM 1 data atau Managemen Sistim Informasi Pelayanan (MSIP), sehingga kerja-kerja pelayanan kedepan lebih terukur dan terarah.

“Dengan mengacu tema sentral GPM yakni Memberitahukan Tahun Rahmat Tuhan Telah Datang, persidangan ini diharapkan mengangkat masalah-masalah sosial yang lebih konkrit, sehingga gereja bisa hadir ditengah kondisi keterpurukan umat dan jemaat. Hal ini sebagai wujud Tahun Rahmat Tuhan bagi umatnya,” bebernya.

Kedepan, KPAT diminta untuk menonjolkan pelayanan-pelayanan diakonal, agar umat merasa tersentuh dan merasakan kehadiran gereja dalam kehidupan berpelayanan, juga melakukan advokasi atas hak atas hidup anggota jemaat.

Persoalan pendidikan, lingkungan hidup, mitigasi bencana, juga harus menjadi atensi persidangan kali ini. Khusus masalah pendidikan, KPAT menetapkan SMA Kristen YPPK Passo, akan dijadikan sebagai sekolah model.

“Aspek kelembagaan, penguatan kapasitas pelayan, spiritual panggilan serta pengkajian isu pelayanan strategis jemaat, menjadi perhatian persidangan kali ini,” imbuh Sapulette yang saat ini juga Sekretaris Umum MPH Sinode GPM.

Masalah yang sangat penting juga saat ini, kata Sapulette adalah perkuatan keluarga Kristen. Penguatan ini sangat penting, untuk memproteksi umat terhadap berbagai perkembangan negative akibat kemajuan Iptek dewasa ini.

Terkait Covid-19, Sapulette berharap, warga gereja dapat mengikuti himbauan pemerintah, untuk penerapan protokol kesehatan, juga program vaksinasi yang sementara dilakukan.

“Sebab hanya dengan itu, maka kita telah bersama untuk menjaga dan merawat kehidupan ini secara bersama dengan semua ciptaan,” kuncinya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed