AMBON,MRNews.com,- Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kementerian Agama Republik Indonesia, Prof Nizar Ali mencanangkan bulan moderasi beragama Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Ambon, Senin (3/10/22).
Pencanangan yang ditandai penekanan tombol itu bersamaan pula dengan pengukuhan Prof Dr. Yance Zadrack Rumahuru, MA selaku Guru Besar dalam bidang ilmu agama dan lintas budaya oleh Nizar di auditorium kampus harmoni dalam keberagaman.
Dikesempatan itu, Nizar katakan, perguruan tinggi harus memastikan penyelenggaraan pendidikan yang dijalankan sudah berorientasi untuk memenuhi ketrampilan abad 21.
Perguruan tinggi juga harus mampu hadirkan perguruan tinggi yang menjamin budaya organisasi yang dikembangkan telah berorientasi pada pemenuhan
ketrampilan abad 21 lulusannya.
Ketrampilan abad 21 sendiri dikembangkan tidak lepas dari 4 prinsip pendidikan
universal yang dirilis UNESCO, yakni:
- Learning to know. (Lingkungan belajar atau proses pendidikan di perguruan tinggi harus mendukung mahasiswa memperoleh pengetahuan baru yang relevan (bermakna) bagi dirinya.
- Learning to do. (Prinsip ini mendorong bahwa lingkungan perguruan tinggi harus mampu membekali berbagai
kompetensi yang mendukung mahasiswa untuk dapat berkarya sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki). - Learning to be. (Untuk menjadi seseorang yang unggul, tidak cukup hanya dibekali dengan intelektual, tapi juga harus didukung dengan kepribadian yang unggul, yaitu pribadi yang memegang teguh prinsip-prinsip kebenaran,
kejujuran, dan berkarakter). - Learning to life together. (Prinsip ini sangat bermakna bagi kehidupan di Abad 21. Kesadaran bahwa bumi ini milik
bersama, orang lain memiliki hak yang sama dengan diri kita, bahkan kesadaran bahwa bumi dan alam semesta ini diperuntukkan bagi seluruh makhluk tidak hanya diperuntukkan bagi spesies manusia, ini sangat penting).
“Untuk mewujudkan proses pendidikan yang relevan dengan 4 prinsip pendidikan itu serta menjawab kebutuhan pendidikan abad 21, maka dibutuhkan sosok pimpinan yang transformative, yakni pemimpin yang berpikiran terbuka dan berwawasan luas tentang segala perkembangan dewasa ini.,” terang Nizar.
Saat ini Indonesia kata Nizar, ada di zaman Revolusi Industri 4.0. Suatu zaman yang andalkan konsep digitalisasi dan otomisasi, bisa bekerja tanpa butuhkan tenaga manusia. Konsep otomisasi inilah yang kemudian hadirkan konsep smart campus.
Revolusi Industri 4.0 ini telah mendorong terjadinya banyak perubahan secara fundamental di segala sektor. Hal ini tentu
berdampak pada berubahnya ekosistem pendidikan, seperti; berubahnya pola hidup manusia (the changing nature of life).
Kemudian berubahnya ekosistem kerja (the changing nature of work). Tidak hanya cara hidup, disrupsi pun berdampak pada ekosistem dunia kerja yang pada akhirnya
mendorong hadirnya berbagai profesi baru dan menghilangkan profesi-profesi lama yang tidak lagi relevan.
Serta, berubahnya ekosistem pendidikan (the changing nature of education). Tanpa pandemi Covid-19 sekalipun, dunia pendidikan akan bergerak ke arah
mengintegrasikan teknologi dalam proses
pembelajaran/pendidikan.
“Berbicara ekosistem pendidikan tidak lagi sebatas pada dua pilar yaitu kampus dan lingkungan (keluarga), tapi teknologi juga menjadi pilar ketiga yang sangat penting dalam mewujudkan ekosistem pendidikan yang adaptif dan responsive dengan dinamika yang terjadi di masyarakat,” ingatnya.
Dengan peran pilar ketiga yakni teknologi ini, perguruan tinggi sambung Nizar, akan menjelma sebagai perguruan tinggi yang menjamin seluruh civitas akademika
terkoneksi dengan lingkungan dimana mereka tumbuh dan berkembang.
Momen pengukuhan Guru Besar dan pencanangan bulan Moderasi Beragama IAKN Ambon turut pula dihadiri Direktur Pendidikan Kristen Kemenag Pontas Sitorus,
Sekretaris Kota Ambon Agus Ririmasse, Ketua MPH Sinode GPM Pendeta Elifas Maspaitella, perwakilan Forkopimda Maluku, warga Desa Hattu serta civitas akademika IAKN Ambon. (MR-02)











Comment