by

Rekomendasi KKJTJ Jembatan Dipul-Tettoat Dibongkar, DPRD Desak Proses Hukum

-Maluku-472 views

AMBON,MRNews.com – Menghabiskan puluhan miliar anggaran daerah, Jembatan Dipul-Tettoat Kecamatan Hoat sorbay, Kabupaten Maluku Tenggara (Malra), harus kembali menelan pil pahit.

Pasalnya, rekomendasi Komisi Keselamatan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) mengharuskan jembatan yang dibangun dari 2017 tersebut harus dibongkar dan dibangun kembali, karena beberapa persoalan mendasar, salah satunya faktor usia jembatan.

Hal tersebut dikemukakan Anggota komisi III DPRD Maluku Anos Yeremias, Senin (6/2), usai penyampaian aspirasi beberapa waktu lalu.

Yeremias mengaku, merujuk ke hasil penyampaian aspirasi, Jembatan Dipul-Tettoat harus dibongkar.

Namun DPRD dijelaskan, merasa keberatan jika harus dibongkar, karena pasti akan sulit membangun kembali.

“APBD kita terbatas kemampuan uang daerah hanya mampu membayar hutang salah satunya SMI selama lima tahun ke depan,” jelas politisi Golkar itu.

Untuk itu, lanjutnya lebih baik dibawa saja ke ranah hukum, agar baik kontraktor maupun dinas terkait dapat mempertimbangkan kerugian daerah,

“Jembatan lengkung ini spesifikasi rumit, kenapa dari awal tidak dibangun jembatan baja saja,” tegasnya.

Sementara di kesempatan lain, Benhur George Watubun yang merupakan koordinator Komisi III juga menyatakan hal yang serupa.

“Penyedia jasa bertanggungjawab secara utuh, baik material dan pekerjaannya, ganti ruginya harus dibuat. Jika kemudian terjadi sesuatu yang tidak baik atau jembatan tersebut tidak memenuhi standar kelayakan,” ungkapnya.

Watubun yang juga Ketua DPRD Maluku tegaskan, hal ini sesuai dengan perjanjian, dimana kontraknya sudah selesai. Sehingga harus ada pertanggungjawaban.

“Kita tidak main-main soal ini, kalau masih tetap mencari alasan ranah hukum lah solusinya,” tegas Sekretaris DPD PDI Perjuangan Maluku itu.

Diketahui, terdapat 13 Desa (Ohoi) yang menggantungkan aktifitas mobilitas dari jembatan tersebut, hingga kini masyarakat masih menggunakan ketinting sebagai moda penyebrangan.

Menurut keluhan warga setempat, ongkos perjalanan per satu hari bisa mencapai Rp 100 ribu, bahkan untuk menyebrang pun motor diangkut menggunakan ketinting. (MR-03)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed