by

Rata-rata Anak Usia 12-13 Tahun Korban Asusila Lewat Medsos

AMBON,MRNews.com,- Pimpinan LSM Gasira Maluku Elizabeth Marantika katakan, rata-rata anak yang menjadi korban pelecehan seksual atau tindak asusila di kota Ambon melalui media sosial (Medsos) berada pada kisaran usia 12 sampai 13 tahun.

Olehnya itu aparat keamanan khususnya Polresta Pulau Ambon dan Pp Lease yang punya wilayah hukum harus melihat hal ini dengan serius.

“Kondisi ini mesti disikapi secara serius sehingga tidak banyak lagi anak-anak yang jadi korban asusila pihak-pihak tidak bertanggungjawab,” ingat Marantika saat dialog publik yang digagas Polda Maluku di Kantor RRI Ambon, Kamis (3/6/2021).

Hal ini seiring tema dialog kali ini yaitu waspada ancaman child grooming atau modus kejahatan dan pelecehan seksual terhadap anak dibawah umur melalui medsos.

Dikatakan Marantika, pengawasan yang ekstra dari orang tua dengan memperketat atau mempersempit ruang anak dalam menyerap atau mengakses informasi tidak pantas di medsos sangat dibutuhkan.

“Sebab tindakan kejahatan seksual atau asusila yang terjadi di medsos berawal dari percakapan yang tidak wajar antar anak dengan pelaku. Disini peran orang tua untuk awasi sekaligus edukasi informasi yang pantas dan tidak pantas kepada anak,” pesannya.

Bahkan, dirinya mengaku sangat miris melihat korban asusila yang mengalami infeksi atau penyakit kelamin. Hal itu terjadi akibat diperkosa pelaku yang menderita penyakit kelamin. Ini bisa berujung kepada kematian.

“Hal ini tidak terdeteksi karena mereka yang menjadi korban juga menarik diri akibat malu, atau takut karena ancaman dan sebagainya sehingga berdampak pada psikologis yang bersangkutan hingga tidak mau menceritakan kejadian yang dialaminya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kabid Pelayanan Publik Dinas Infokom Maluku Jhon Rumlawang mengaku, pengawasan orang tua yang ketat terhadap anak dalam penggunaan internet harus ditingkatkan.

Hal ini juga mengacu kepada penyampaian Presiden tentang penggunaan internat yang baik dan bertanggungjawab dalam kemajuan bangsa dan negara. Dimana saat ini mayoritas masyarakat Indonesia menggunakan medsos. Ini dapat berubah fatal kalau penggunaannya kearah negatif.

“Edukasi dan literasi digital yang positif sangat penting untuk terus disosialiasi diera digital saat ini. Kami memiliki aplikasi yang dapat melacak akun palsu atau sesat. Jika ada masyarkat yang akunnya menjadi korban di medsos dapat melaporkannya agar bisa dilacak dan diblokir,” terangnya. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed