Gemuruh suara pedang yang saling bertabrakan, seruan takbir, jeritan keberanian, serta derap langkah tentara yang bergerak cepat mengisi suasana di halaman Masjid MilikNya Bukan Milikku di Kota Tasikmalaya. Kabut asap yang samar di pojok panggung bersama sorotan cahaya merah yang menyeramkan menambah dramatisasi suasana pertempuran yang merenggut nyawa banyak penghafal Al Quran.
Pertunjukan yang menggambarkan pertempuran antara kaum muslimin di zaman Khalifah Utsman Bin Affan melawan pasukan nabi palsu Musailamah ini merupakan kerjasama antara santri Magrib Mengaji Masjid MilikNya Bukan Milikku dengan Teater 9 dari SMAN 9 Kota Tasikmalaya di bawah asuhan sutradara Rika Jo. Drama berjudul Para Pengumpul Mushaf ini tidak hanya bertujuan untuk menghibur, tetapi juga sebagai sarana refleksi sejarah yang menghidupkan kembali memori kolektif tentang perjalanan Al Quran sepanjang zaman.
– Hikmah Ramadan: Keutamaan dan Tanda Malam Lailatul Qadr, Oleh Sopan Sopari, MPdI, GPAI SMPN 2 Sukadana Ciamis
– Peringatan Nuzulul Quran 1446 H, Komunitas MilikNya Bukan Milikku Kota Tasikmalaya Adakan Ngopi Akbar
Dalam memperingati Nuzulul Quran 1446 H yang jatuh pada Senin (17/3), pertunjukan ini diharapkan dapat membuat penonton berkontemplasi. Di balik kemudahan mengakses dan membaca Al Quran saat ini, terdapat pengorbanan darah dan air mata yang telah dicurahkan untuk menjaga kesuciannya.
Rika Jo yang bertindak sebagai penulis naskah memilih cerita ini dengan sengaja. Alasan pemilihan tersebut tidak hanya relevan dengan tema acara, tetapi juga untuk menyampaikan pesan pentingnya bersyukur atas kemudahan dalam menjalankan ibadah dan mempelajari ayat-ayat Al Quran, sebuah anugerah terbesar bagi umat Islam.
“Nuzulul Quran merupakan momen ketika wahyu pertama, Iqra yang berarti ‘bacalah’, diturunkan. Meskipun waktu kejadian dalam narasi pertunjukan ini berbeda, saya rasa ini merupakan kesempatan yang baik untuk merefleksikan betapa mudahnya kita kini dapat membaca Al Quran. Terlebih dengan adanya teknologi digital, kita bisa mengaji di mana saja dan kapan saja. Namun, tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini adalah bagaimana mengimplementasikan nilai-nilai Al Quran dalam kehidupan sehari-hari,” papar Rika Jo.
Artikel serupa :
- Ngaos Art Tasikmalaya Bersinar di Festival Internasional: Tanpa Dukungan Pemerintah!
- Hatedu di Ngaos Tasikmalaya: Seni dan Harmoni Keluarga, Refleksi yang Memikat!
- Pentas Teater “Made in China” Ngaos Art Tasikmalaya: Cerita Kehidupan Sehari-hari, Simak Infonya!
- Lesbumi Tasikmalaya Luncurkan Kompetisi Teater LAF 2025: Seni Bambu Minimalis yang Memukau!
- Monolog Rika Jo soroti feminisme kodrati: pementasan Ngaos Art angkat suara perempuan

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






