SBB,MRNews.com,- Sabtu 3 September 2022, menjadi hari bersejarah bagi seluruh masyarakat Negeri Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku.
Bagaimana tidak, penantian melihat Makara Kubah atau dikenal dengan Tiang Alif untuk Masjid Baru Negeri Latu yang dinamakan Abdus Syukur, bisa tertancap dipuncaknya telah terealisasi.
Momen tersebut merupakan peristiwa bersejarah bagi warga disana, sebab proses realisasi dimaksud tidaklah berjalan instan. Diketahui, masyarakat Latu harus menunggu belasan tahun, untuk melihat Tiang Alif tertancap di puncaknya.
Penantian masyarakat setempat terbilang cukup lama, bahkan “Nyaris Dua Dekade” untuk melihat “Tiang Alif Memuncak”.
Pasalnya rentan waktu antara peletakan batu pertama dan pemasangan Makara Kubah terbilang sangat jauh, yakni 2003 hingga 2022, atau 19 tahun lebih.
Untuk diketahui, Latu merupakan salah satu negeri atau desa dengan mayoritas penduduk beragama Islam paling besar di Kabupaten bertajuk “Saka Messe Nusa”.
Seiring zaman, pertumbuhan penduduk terus terjadi di Ibu Kota Kecamatan Amalatu itu, sehingga jumlah warga yang menempati Negeri Latu, hingga kini tercatat sebanyak belasan ribu jiwa.
Pertumbuhan penduduk yang meningkat cukup signifikan, tentu saja berpengaruh terhadap ketersediaan infrastruktur di dalam negeri, salah satunya seperti Masjid.
Negeri Latu sendiri, selama ini diketahui hanya memiliki satu Masjid yakni Masjid Al-Fajar, yang selalu digunakan untuk beribadah oleh seluruh masyarakat (khusus laki-laki).
Untuk ukuran sebuah Rumah Ibadah di Negeri atau Desa, Masjid Al-Fajar memang memiliki ukuran yang tidak bisa dibilang kecil. Namun seiring pertumbuhan penduduk, kapasitas Masjid tersebut diketahui tak mampu lagi menampung semua jemaah.
Kapasitas Masjid Al-Fajar Negeri Latu yang tak mampu menampung jemaah, sering kali dapat dilihat ketika Bulan Ramadhan, atau saat Sholat Tarawih, dan Sholat Idul Fitri maupun Idul Adha.
Ketika masuk hari-hari besar umat Islam, seperti Idul Adha dan Idhul Fitri, Masjid Al-Fajar terlihat tak mampu mengakomodir seluruh jemaah yang notabennya adalah warga Negeri Latu.
Al-hasil, warga yang tidak mendapatkan tempat di dalam Masjid, harus rela menunaikan sholat Ied di halaman mesjid, bahkan ada yang sampai menggunakan Gedung Balai Desa (kebetulan berdekatan dengan masjid).
Penantian panjang masyarakat sejak 2003, untuk memiliki Masjid Baru sepertinya akan segera berakhir. Sebab, pemasangan Tiang Alif merupakan pertanda Masjid Abdu Syukur akan segera rampung dikerjakan dan dapat digunakan dalam waktu dekat.
Momen 3 September 2022, menjadi catatan sejarah berharga yang tak pernah dilupakan masyarakat Negeri Latu. Makara Kubah yang dikeluarkan dari Masjid Al-Fajar, pada pukul 07.00 WIT pagi, disambut antusias ribuan warga.
Dengan pakaian muslim dan muslimah serba putih, ribuan Warga Latu langsung berjalan bersama Makara Kubah, mengelilingi seisi Negeri, dan berakhir di lokasi Masjid Baru, sekitar pukul 11.00 WIT.
Dalam proses berjalan mengelilingi Negeri Latu membawa Makara Kubah, ribuan warga disemua kategori usia itu terlihat melantuntkan Sholawat Nabi Muhammad SAW, serta diiringi dengan Hadrat.
Raut wajah gembira dan penuh syukur terlihat dari setiap masyarakat Negeri Latu, ketika Tiang Alif telah tiba Lokasi Mesjid Baru Abdus Syukur yang berhadapan dengan Jalan Trans Seram, Pulau Seram, suasana pun menjadi lebih sakral.
Rasa haru bercampur bahagia kian terlihat ketika lantunan sholawat Nabi Muhammad SAW, dan seruan Takbir Allahu Akbar menggema mengantar Tiang Alif untuk dinaikan perlahan menuju puncak.
Ribuan tangan-tangan penuh harapan terlihat berusaha menggapai, seakan ingin menopang Makarah Kubah menuju puncaknya, kian menambah haru momen tersebut, seakan menunjukan bahwa mereka telah lama menanti hari itu.
Ditengah musim penghujan yang masih berada pada puncaknya di Provinsi Maluku, alam pun merestui momen bersejarah tersebut.
Langit biru yang membentang tanpa setitik awan hitam, ditambah pancaran Sang Surya yang begitu terik, semakin menyempurnakan catatan manis di Sabtu pertama September 2022.
Seruan Sholawat dan Takbir yang dikumandangkan ribuan warga tiba-tiba terhenti, ketika Tiang Alif telah berada pada puncak paling tinggi Mesjid Baru Negeri Latu.
Puluhan ribu pasang mata dan telinga spontan terdiam, dan fokus pada satu titik, ketika Adzan pertama akan dikumandangkan di Masjid Baru Negeri Latu, guna menandakan bahwa Sang Tiang Alif telah sampai di Puncaknya.
Setelah Tiang Alif tertancap kokoh pada puncaknya, ribuan warga ini kemudian meluapkan rasa bahagia dan syukur mereka dengan menari menggunakan musik Gambus, serta Tarian Khas Maluku yakni Sawat.
Ketua Panitia Acara Pemasangan Makara Kubah Masjid Abdus Syukur Yusuf Wakano disela-sela momen bersejarah tersebut mengaku sangat bersyukur dan bahagia.
“Selaku ketua panitia, mewakili teman-teman lain merasa sangat senang dan bangga sekali atas suksesnya kegiatan, yang merupakan momen bersejarah bagi masyarakat Negeri Latu,” kata Yusuf.
Yusuf mengaku, suksesnya acara Pemasangan Makara Kubah Masjid Baru itu, semata-mata bukan hanya karena panitia, melainkan berasal dari antusiasme masyarakat yang begitu besar.
“Dari antusias masyarakat ini juga kita bisa lihat, bahwa penantian dari 2003 hingga 2022 ini sangat panjang. Jadi harapan kami, agar proses pembangunan Masjid Baru bisa secepatnya selesai, paling tidak Ramadhan 2023 sudah bisa digunakan untuk sholat berjamaah,” tandasnya.
Ditempat yang sama, Sesepuh Negeri Latu, Abidin Wakano mengatakan, kegiatan tersebut adalah salah satu ritual yang merupakan kearifan lokal yang ada di Maluku.
“Karena pemasangan Tiang Alif atau Makara Kubah yang ada disetiap desa atatu Negeri di Maluku, agak beda dengan di tempat-tempat lain atau Provinsi lain,” ujarnya.
Pemasangan Tiang Alif, Lanjut mantan Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Maluku ini, menunjukkan bahwa proses pembangunan Masjid tersebut akan segera selesai.
“Dan dalam proses penancapan Tiang Alif itu, kita lihat ada Qamat dan Adzan yang menunjukkan bahwa Masjid ini, tidak lama lagi akan segera di gunakan,” paparnya.
Dijelaskan Abidin, mengapa sampai dikatakan penancapan Tiang Alif di Maluku (konteksnya di Latu) berbeda dengan tempat lain, karena dalam prosesnya terlihat masyarakat berbondong-bondong keluar dari Masjid Al-Fajar, diiringi dengan sholawat dan tarian hadrat.
“Kita lihat tadi ribuan ada yang tua, yang muda, anak kecil, perempuan, laki-laki pokoknya semua, berkeliling Negeri. Ini sebenarnya bagian dari mensyukuri nikmat Allah SWT, serta menebar rasa bahagia bersama, dan setelah sampai di lokasi Masjid Baru, disambut dengan Shalawat Badar,” jelasnya.
Dan yang menarik dari proses Pemasangan Tiang Alif di Negeri Latu, lanjut Abidin, ada empat “Mawenno” (bahasa daerah Latu). Mawenno itu, ungkapnya, akan berdiri pada empat mata angin.
“Jadi apa yang kita lihat dalam proses ini, adalah sebuah kulturasi Islam dan kearifan lokal, karena dia sudah menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Islam di Maluku, dan Empat Mawenno adalah model yang ada di negeri Latu,” bebernya.
Abidin yang juga merupakan Doktor dan Magister Agama Islam berharap, semoga masjid tersebut cepat selesai karena sejatinnya, penancapan Tiang Alif menunjukkan masjid Abdus Syukur segera siap digunakan.
“Artinya, dengan segera mungkin mari semua berbondong-bondong selesaikan pembangunan masjid ini. Dan setelah masjid ini selesai diharapkan jangan hanya sebagai pusat ritual sholat, tapi juga bisa menjadi pusat peradaban Islam, berbagai kajian, berbagai perkembangan kehidupan sosial, ekonomi, dan kebudayaan bisa disini,” paparnya.
“Saya kira gagasan awal dari para pendahulu kita atau pendiri adalah, Masjid ini bukan hanya sekedar sebagai tempat ritual shalat, tapi juga sebagai tempat kajian tempat studi dan berbagai pusat peradaban bisa dilakukan di sini,” tutupnya.
Harapan senada juga disampaikan salah satu warga yang berhasil diwawancarai, seperti Syaiban Patty. Menurutnya, turut hadir dalam momen bersejarah itu saja sudah sangat disyukuri, apalagi sampai bisa melakukan sholat berjamaah dalam waktu dekat nanti.
“Selaku masyarakat Negeri Latu, saya sangat senang sekali bisa menyaksikan langsung pemasangan Tiang Alif. Sekarang harapannya adalah Masjid ini segera rampung, dan bisa digunakan untuk Sholat berjamaah,” harapnya.
Sekedar tahu, pemasangan Tiang Alif Masjid Abdu Syukur, juga dipadati warga Latu yang berasal dari tanah rantau, seperti Jawa dan Papua, yang tak mau ketinggalan momen yang hanya terjadi sekali seumur hidup itu.
Bukan saja itu, penancapan Makara Kubah juga dihadiri oleh sejumlah warga Maluku yang bukan berasal dari Negeri Latu.
“Kami penasaran, makanya datang dari Ambon untuk nonton. Ternyata momennya khidmat sekali, bikin merinding,” tutup Anti Marasabessy, salah satu warga Non Latu, yang datang menonton. (Latupatty)











Comment