Di tengah ritme kota Tangerang Selatan yang terus bergerak, sebuah pertunjukan suara mencoba mengubah cara publik mendengar lingkungan mereka. Pada 8–9 November 2025, karya berjudul Noise://Tangsel tampil di City Gallery Tangsel dan dianggap menandai gelombang baru praktik seni suara di wilayah perkotaan ini.
Apa yang dimaksud dengan audio-performatif?
Seniman M. Ramdhani—yang akrab dipanggil Ramdhan—menempatkan suara bukan sekadar objek yang didengar, tetapi sebagai elemen yang bertindak di atas panggung. Dari sudut pandang ini, suara menjadi medium yang mempertemukan gerak tubuh, dramaturgi, dan interaksi ruang.
Ketimbang memutar rekaman statis, pertunjukan seperti ini mengandalkan pengolahan real-time, gestur penyaji, dan tata ruang untuk menciptakan pengalaman yang lebih mirip teater daripada konser biasa. Hasilnya: pendengaran penonton diarahkan untuk melihat bunyi sebagai kejadian, bukan latar belakang.
Tradisi bertabrakan dengan kebisingan kota
Dalam Noise://Tangsel, Ramdhan menggali ulang elemen bunyi tradisional dan menempatkannya dalam konteks urban. Alur pertunjukan sengaja menonjolkan kontras—bukan untuk meromantisasi masa lalu, melainkan untuk merasakan gesekan antara memori budaya dan kebisingan modern.
Persepsi tradisi tidak dibekukan; ia direngkuh, dirusak, lalu ditata kembali agar penonton bisa menyaksikan bagaimana pola bunyi lama bereaksi terhadap tekanan kota. Ini membuka peluang baru bagi pemahaman warisan bunyi dalam ruang publik kontemporer.
Kolaborasi menjadi kunci pada pertunjukan ini. Ramdhan bekerja sama dengan musisi cello Daud Catur, yang bertugas memadukan permainan akustik, benda sehari-hari, serta rekaman lapangan dengan modulasi elektronik. Teknik manipulasi suara secara langsung memberi lapisan tekstural yang terasa sinematik dan organik sekaligus.
- Tanggal & lokasi: 8–9 November 2025, City Gallery Tangerang Selatan.
- Format: pertunjukan audio-performatif—kombinasi sound art, gerak, dan tata ruang.
- Kolaborator utama: Daud Catur (cello, objek, manipulasi suara real-time).
- Ciri khas: pertemuan bunyi tradisional dengan modulasi elektronik; penggunaan rekaman lapangan.
- Implikasi: memperluas wacana seni suara di kota, menantang kebiasaan mendengar publik, dan membuka ruang bagi eksperimen kuratorial.
Apa artinya bagi kota dan penikmat seni?
Pertunjukan semacam ini punya konsekuensi praktis: ia mempertanyakan batas antara kebisingan dan musik, antara ruang publik dan instalasi artistik. Bagi penyelenggara seni lokal, ini jadi contoh model program yang dapat menarik audiens baru dan menstimulasi diskusi soal kebijakan ruang suara di kota.
Untuk penonton, pengalaman seperti Noise://Tangsel menawarkan kesempatan melatih ulang cara mendengar—lebih kritis, lebih peka terhadap lapisan-lapisan bunyi yang sehari-hari sering diabaikan.
Secara keseluruhan, penampilan Ramdhan dan rekan memberi sinyal kuat bahwa seni suara bukan lagi ruang marginal di kota-kota satelit seperti Tangerang Selatan. Ia mulai menjadi bagian dari agenda kebudayaan perkotaan—mengundang lebih banyak eksperimen dan dialog tentang bagaimana kita hidup bersama dalam lanskap suara yang terus berubah.
Artikel serupa :
- Public speaking curi perhatian di ngaos art: bahasa jadi alat sulap monolog
- Xue, butoh Singapura: karya a short history of almost pelihara memori lewat gerak tubuh
- Larissa Umayta hadirkan musik Brasil yang menyatukan dua benua
- Terap Festival #2 Guncang Bandung: “Caang Mumbul Dina Batok”, Perayaan Spektakuler Kota Kreatif!
- Gugatan Bar Cafe memicu pentas terbaru Ngaos Art akhir pekan ini: tiket terbatas

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






