Di saat minimnya dukungan dari lembaga-lembaga pemerintah untuk seni pertunjukan lokal, sejumlah seniman muda di Tasikmalaya memilih untuk tidak berdiam diri. Melalui pertunjukan yang bertajuk Made in China, Ngaos Art Foundation menunjukkan bahwa budaya dapat berkembang tanpa harus bergantung pada dana dari pemerintah.
Pertunjukan tersebut diadakan pada tanggal 27-28 Juni 2025 di Studio Ngaos Art di Tasikmalaya, dan menjadi pembuka bagi Lanjong Art Festival yang akan berlangsung di Kalimantan Timur pada bulan Agustus, sebuah festival seni pertunjukan berskala internasional.
– Kalender Juli 2025 Tanpa Hari Libur Nasional, Namun Penuh Dengan Peringatan Penting Nasional dan Internasional
– Nantikan Pertunjukan Teater “Made in China” dari Ngaos Art Tasikmalaya: Sebuah Cerminan Kehidupan Sehari-hari, Berikut Detailnya!
Kritik Sosial dalam Kemasan Teater yang Provokatif
Penulisan dan arahan oleh AB Asmarandana, Made in China bukan sekadar sebuah pertunjukan teater, tetapi juga merupakan refleksi mendalam tentang bagaimana masyarakat Indonesia terlalu terbuka terhadap budaya impor dan mengabaikan budaya asli mereka sendiri.
Menggunakan simbol-simbol seperti mainan plastik, proyeksi layar yang tidak asli, dan diskon besar-besaran yang disengaja, pertunjukan ini mengungkap kebiasaan konsumtif masyarakat dengan cara yang ringan, penuh satir, namun tajam.
Rika Johara dan Kahfi Nurul Ashror, sebagai pemeran utama, berhasil menginterpretasikan kompleksitas karakter masyarakat urban yang hidup dalam budaya diskon dan teknologi. Musik latar oleh Alfin Nurul Azmi dan timnya berfungsi lebih dari sekedar pengiring, tetapi sebagai narasi yang membangkitkan emosi. Tata artistik oleh Are Pekasih dan desain pencahayaan oleh Iki Tuska mengubah ruangan yang sederhana menjadi sebuah pengalaman visual yang menarik.
Pemerintah Absen, Komunitas Hadir
Fokus utama dalam pertunjukan ini bukan hanya pada konten pertunjukannya, tetapi juga pada ketiadaan dukungan dari Pemerintah Kota Tasikmalaya. Bahkan Wakil Wali Kota Dicky Chandra, yang sebelumnya dijadwalkan hadir, tidak muncul tanpa adanya konfirmasi. Tidak ada subsidi, tidak ada fasilitas, bahkan tidak ada ucapan selamat. Hanya ada seniman dan komunitas yang saling mendukung satu sama lain.
Artikel serupa :
- Pentas Teater “Made in China” Ngaos Art Tasikmalaya: Cerita Kehidupan Sehari-hari, Simak Infonya!
- Ngaos Art pameran Jakarta: karya bertema made in China angkat rindu anak pada ayah
- Hatedu di Ngaos Tasikmalaya: Seni dan Harmoni Keluarga, Refleksi yang Memikat!
- Lesbumi Tasikmalaya Luncurkan Kompetisi Teater LAF 2025: Seni Bambu Minimalis yang Memukau!
- Ngaos Art Foundation Tasikmalaya: pertunjukan kontroversial picu refleksi publik

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






