Teater kecil di Kota Tasikmalaya menjadi panggung diskusi sosial ketika Studio Ngaos Art menampilkan “Barade Monolog” pada 20–22 November 2025. Pertunjukan ini menyorot masalah yang tetap relevan: bagaimana peran perempuan dibentuk oleh tekanan hidup, bukan pilihan bebas—sebuah isu yang masih memicu perdebatan di ranah budaya dan kesejahteraan publik.
Festival monolog itu menampilkan 12 pementasan hasil latihan komunitas Ngaos Art, dengan pembukaan oleh aktris Rika Jo pada Kamis, 20 November 2025, pukul 16.00 WIB. Sebagai pembuka, Rika Jo membawakan naskah berjudul Feminisme Kodrati karya AB Asmarandana, yang dikemas sebagai One Man Play.
Kerangka panggung dan pesan yang disuarakan
Pertunjukan Rika Jo tidak sekadar menampilkan satu tokoh, melainkan menyampaikan narasi tentang perempuan yang dipaksa kuat oleh keadaan—bukan karena pilihan. Dialog yang muncul di atas panggung menggambarkan rutinitas, kelelahan, dan solidaritas yang sering tidak terlihat.
Cuplikan dialog yang diperdengarkan menguatkan tema itu: tokoh utama mengaku jarang mendapatkan waktu untuk dirinya sendiri, dipuji sebagai “multitalenta” padahal kenyataannya hanya menambal banyak kekurangan yang ditinggalkan oleh lingkungan. Kesaksian seperti ini membuka ruang refleksi tentang nilai kemandirian yang sering dirayakan, namun dibentuk oleh keharusan hidup.
Kenapa ini penting sekarang
Drama semacam ini relevan bagi pembaca karena menyentuh aspek keseharian yang berdampak pada kebijakan sosial: pembagian kerja rumah, akses layanan pendukung, dan pengakuan atas pekerjaan emosional. Ketika masyarakat menata ulang prioritas pasca-pandemi dan merespons tekanan ekonomi, wacana tentang beban tak terlihat pada perempuan semakin mendesak.
Secara praktis, pementasan lokal seperti Barade Monolog membantu menjembatani diskusi akademis dengan pengalaman nyata warga—mengubah konsep teoretis menjadi cerita yang mudah diidentifikasi publik.
Detail acara
| Elemen | Keterangan |
|---|---|
| Nama acara | Barade Monolog — Ngaos Art |
| Waktu | 20–22 November 2025 |
| Tempat | Studio Ngaos Art, Amanda Residence, Kota Tasikmalaya |
| Jumlah pementasan | 12 monolog |
| Pembuka | Rika Jo — Feminisme Kodrati (AB Asmarandana) |
Selain tabel ringkasan, beberapa poin penting layak dicatat:
- Format One Man Play memberi tekanan pada narasi personal dan intensitas emosional.
- Pementasan mengangkat tema pengakuan atas kerja yang tidak kompensasi—baik fisik maupun emosional.
- Dialog dan monolog digunakan untuk mempertemukan pengalaman individual dengan wacana feminis yang lebih luas.
Perspektif dan kontekstualisasi
Gambaran tokoh dalam Feminisme Kodrati mengingatkan pada analisis Simone de Beauvoir dalam The Second Sex, bahwa identitas perempuan sering dibentuk dalam relasi terhadap orang lain. Namun pertunjukan ini memindahkan teori ke ranah kehidupan sehari-hari—menjadikannya lebih konkret dan mudah dirasakan penonton.
Untuk komunitas seni lokal, inisiatif seperti Barade Monolog berfungsi ganda: sebagai ruang latihan artistik dan sebagai medium publik untuk mengangkat isu sosial. Dampaknya tidak hanya estetis; pementasan ini mendorong percakapan tentang kebijakan pendukung keluarga, akses layanan kesehatan mental, dan pengakuan kerja tak berbayar.
Meski skala acara relatif kecil, resonansinya bisa meluas bila dokumentasi dan diskusi lanjutan dilakukan—misalnya lokakarya, diskusi publik, atau kolaborasi dengan organisasi sosial.
Barade Monolog menunjukkan bahwa teater komunitas masih mampu memantik perdebatan penting: bagaimana masyarakat memberi nilai pada peran perempuan dan apakah struktur sosial menyediakan ruang untuk memilih, bukan sekadar bertahan.
Artikel serupa :
- Barade monolog ngaos art angkat kritik diri: naskah anak panggung bernada satir
- Shima Nuriadiba memukau sebagai penampil termuda Barade Monolog Ngaos Art
- Monolog Ngaos Art mengusik ego dan tubuh lewat narasi provokatif
- Gugatan Bar Cafe memicu pentas terbaru Ngaos Art akhir pekan ini: tiket terbatas
- Hatedu di Ngaos Tasikmalaya: Seni dan Harmoni Keluarga, Refleksi yang Memikat!

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






