by

Legislator PKS Soroti RSUP Leimena Soal “Mencovidkan” Tanpa Swab PCR

AMBON,MRNews.com,- Anggota DPRD Kota Ambon fraksi PKS Saidna Azhar Bin Tahir mengkritik serta menyorot tajam RSUP dr Leimena Ambon yang memvonis pasien terpapar Covid-19 hanya dengan mengacu pada hasil tes Antigen, bukan tes Swab PCR.

Salah satu contoh kasus yang terjadi pada almarhum Bupati Seram Bagian Barat (SBB) Yasin Payapo, yang belum di-Swab PCR namun sudah meninggal dan divonis Covid-19, hanya dengan hasil tes Antigen ketika masuk RSUP Leimena, Sabtu (31/7).

“Seperti ini yang kacau. Kalau pihak RS sudah men-justice seseorang positif C-19 menggunakan tes Rapid Antigen tanpa harus melakukan PCR. Padahal tingkat akurasi PCR lebih tinggi dibandingkan Antigen,” sesal Saidna kepada media ini, Senin (2/8).

Karena itu, menurutnya, wajar jika terjadi perampasan atau pemulangan jenazah secara paksa oleh masyarakat. Bahkan penolakan dimakamkan secara Covid-19 oleh keluarga.

“Sebab faktanya seseorang ketika tes Antigen positif tetapi belum tentu hasil PCR-nya juga positif. Sorotan ini bukan ke RSUP Leimena saja tapi semua RS rujukan Covid-19 di Maluku,” tukas sekretaris komisi I DPRD Kota Ambon itu di Ambon.

Kalau memang kewenangan menetapkan seseorang terpapar positif C-19 cukup menggunakan tes Rapid Antigen, berarti menurutnya, syarat kelengkapan administrasi bagi pelaku perjalan juga mesti cukup dengan hasil tes Antigen saja, tidak perlu sampai memakai hasil negatif PCR.

“Ia dong. Tidak bisa Antigen dipakai untuk vonis orang Covid-19, harus PCR. Seharusnya hal ini menjadi perhatian serius pemerintah, karena kasusnya bukan baru pertama kali terjadi,” jelasnya.

Sebagaimana yang dilakukan pihak RSUP Leimena pun kata dia, diduga telah mengabaikan prosedur dan ada kelalaian yang terjadi jika merujuk contoh kasusnya pada almarhum Bupati SBB.

“Sebab semestinya itu mereka harus lakukan PCR setelah hasil Antigen diketahui, apalagi positif/reaktif agar jelas PCR sesuai atau tidak dengan Antigen. Bukan menunggu sehari dan pasien meninggal baru alasan ini, itu dan sebagainya,” ingatnya.

“Harusnya setelah Antigen positif harus di-PCR dulu. Kalau hasil PCR juga positif, jika dianggap beresiko jangan biarkan pulang. Ini sebaliknya. Kan pada akhirnya memunculkan ketidakpercayaan dan antipati publik kepada pihak RS apapun,” sambungnya.

Diketahui, almarhum Bupati SBB Yasin Payapo meninggal, Minggu (1/8) di rumah pribadinya. Saat masuk RSUP Leimena dengan keluhan umum batuk, sesak nafas, Sabtu (31/7), Payapo kemudian di tes Antigen pihak RS, dengan hasil positif.

Namun belum di Swab PCR, almarhum Payapo sudah pulang dengan tujuan isolasi mandiri di rumah. Pihak RS beralasan, keluarga memaksa untuk pulang dan secara medik dari dokter spesialis yang menangani, almarhum layak pulang. (MR-02)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed