Pada senja 27 Agustus 2025, hutan Ladaya di Kutai Kartanegara berubah jadi panggung terbuka ketika ribuan penonton berkumpul di sekitar area yang dikenal sebagai pohon kehidupan. Malam penutup Lanjong Art Festival menyuguhkan pertemuan budaya yang tak terduga: musikalitas Brasil bertemu tradisi dan ruang alam Kalimantan.
Tiga penampil pembuka membuka jalur masuk penonton dengan gerak ritual—kepala diselubungi kain kuning dan flare dinyalakan—menciptakan suasana transisional sebelum panggung resmi dimulai. Setelah sambutan singkat MC, giliran bintang tamu dari jauh yang memecah keheningan.
Debut Asia dari Sobradinho
Artis yang membuka malam itu, Larissa Umayta, datang bersama Joao Pedro Mansur dari kota kecil Sobradinho. Mereka menempuh perjalanan panjang—beberapa kali transit dan lebih dari sehari di udara—semua demi satu tujuan: membawa warna suara Brazil ke tengah hutan Kalimantan Timur.
Larissa mengaku ini adalah kunjungan pertamanya ke Asia dan ke Indonesia, pengalaman yang menurutnya tak pernah lepas dari rasa takjub. Undangan dari panitia Lanjong dan bantuan seorang kolega lokal, Hukai, menjadi jalan baginya untuk menerima tantangan tampil di lokasi yang asing sekaligus ramah itu.
Di atas panggung, Larissa tampil sederhana namun kuat: rambut conrow, pakaian serba hitam, dan ekspresi yang hemat gerak. Ia menyusun fragmen lirik dalam bahasa serta dialek daerahnya, lalu mengalungkannya pada lapisan elektronik dan perkusi hidup sehingga produksi itu terasa familiar sekaligus asing bagi penonton lokal.
Menjembatani tradisi lewat ritme
Material musik yang ia bawakan tidak terikat pada satu gaya—Larissa memasukkan elemen dari samba de roda, funk carioca, hingga maracatu, memberi nuansa lintas regional dari Brasil. Kombinasi suara tradisi dan elektronik menciptakan titik temu yang memungkinkan dialog musikal antara tamu asing dan audiens Indonesia.
Selain penampilan Larissa, program malam itu juga menampilkan karya-karya lokal dan eksperimental. Salah satunya adalah proyek audio-performatif berjudul Noise://Tangsel karya M. Ramdhani, yang mengangkat kebisingan urban sebagai bahan pertunjukan. Di sisi lain, kelompok Barade Monolog Ngaos Art menyuguhkan rangkaian cerita yang menimbang antara ekspresi diri dan tubuh kolektif.
| Penampil | Asal | Genre / Fokus | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Larissa Umayta & Joao Pedro Mansur | Sobradinho, Brasil | Fusion: tradisi rakyat + elektronik | Debut di Asia; perjalanan lebih dari 30 jam |
| M. Ramdhani — Noise://Tangsel | Indonesia | Audio-performans | Mengolah suara kota menjadi pementasan |
| Barade Monolog Ngaos Art | Indonesia | Teater monolog / naratif | Menjelajahi tema ego dan tubuh |
- Festival seperti Lanjong semakin menguatkan peran ruang non-urban sebagai arena pertukaran budaya internasional.
- Kehadiran artis asing membuka peluang kolaborasi dan eksposur bagi seniman lokal, sekaligus menarik perhatian wisata budaya.
- Penonton mendapat akses langsung pada ragam praktik musik yang jarang ditemui di Indonesia bagian timur.
- Logistik dan dampak lingkungan tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan ketika acara internasional digelar di lokasi sensitif.
Penutupan malam itu meninggalkan kesan ganda: hiburan yang memikat sekaligus pembuka kemungkinan. Lanjong Art Festival 2025 tampak bukan sekadar pentas akhir pekan, melainkan bagian dari tren yang membawa cerita global ke panggung lokal—dan sebaliknya.
Artikel serupa :
- Festival Seni Lanjong 2025: Tenggarong Kutai Kartanegara Pukau Dunia!
- Wow! Lesbumi PCNU Tasikmalaya Raih Gelar Sutradara Terbaik: Sukses di Lanjong Art Festival 2025
- Gema Lanjong Art Festival 2025 Belum Berakhir: Kisah Haru yang Masih Hidup di Media Sosial!
- Ngaos Art pameran Jakarta: karya bertema made in China angkat rindu anak pada ayah
- BUDAmFEST 2025 LTC: intip program dan peluang kolaborasi yang berdampak hari ini

Dewi Permata adalah jurnalis hiburan yang memiliki hasrat besar terhadap
dunia perfilman, musik, dan budaya populer. Dengan pengalaman lebih
dari tujuh tahun di industri media, ia telah melakukan wawancara
eksklusif dengan banyak tokoh terkenal dan mengulas berbagai tren di
industri hiburan.






