Larissa Umayta hadirkan musik Brasil yang menyatukan dua benua

Larissa Umayta, Musisi Brazil Jembatani Dua Benua dalam Satu Ritme

Maret 13, 2026

Pada senja 27 Agustus 2025, hutan Ladaya di Kutai Kartanegara berubah jadi panggung terbuka ketika ribuan penonton berkumpul di sekitar area yang dikenal sebagai pohon kehidupan. Malam penutup Lanjong Art Festival menyuguhkan pertemuan budaya yang tak terduga: musikalitas Brasil bertemu tradisi dan ruang alam Kalimantan.

Tiga penampil pembuka membuka jalur masuk penonton dengan gerak ritual—kepala diselubungi kain kuning dan flare dinyalakan—menciptakan suasana transisional sebelum panggung resmi dimulai. Setelah sambutan singkat MC, giliran bintang tamu dari jauh yang memecah keheningan.

Debut Asia dari Sobradinho

Artis yang membuka malam itu, Larissa Umayta, datang bersama Joao Pedro Mansur dari kota kecil Sobradinho. Mereka menempuh perjalanan panjang—beberapa kali transit dan lebih dari sehari di udara—semua demi satu tujuan: membawa warna suara Brazil ke tengah hutan Kalimantan Timur.

Larissa mengaku ini adalah kunjungan pertamanya ke Asia dan ke Indonesia, pengalaman yang menurutnya tak pernah lepas dari rasa takjub. Undangan dari panitia Lanjong dan bantuan seorang kolega lokal, Hukai, menjadi jalan baginya untuk menerima tantangan tampil di lokasi yang asing sekaligus ramah itu.

Di atas panggung, Larissa tampil sederhana namun kuat: rambut conrow, pakaian serba hitam, dan ekspresi yang hemat gerak. Ia menyusun fragmen lirik dalam bahasa serta dialek daerahnya, lalu mengalungkannya pada lapisan elektronik dan perkusi hidup sehingga produksi itu terasa familiar sekaligus asing bagi penonton lokal.

Menjembatani tradisi lewat ritme

Material musik yang ia bawakan tidak terikat pada satu gaya—Larissa memasukkan elemen dari samba de roda, funk carioca, hingga maracatu, memberi nuansa lintas regional dari Brasil. Kombinasi suara tradisi dan elektronik menciptakan titik temu yang memungkinkan dialog musikal antara tamu asing dan audiens Indonesia.

BACA  5 Film Horor Indonesia Terbaru untuk Ngabuburit: Nomor 5 Sedang Viral!

Selain penampilan Larissa, program malam itu juga menampilkan karya-karya lokal dan eksperimental. Salah satunya adalah proyek audio-performatif berjudul Noise://Tangsel karya M. Ramdhani, yang mengangkat kebisingan urban sebagai bahan pertunjukan. Di sisi lain, kelompok Barade Monolog Ngaos Art menyuguhkan rangkaian cerita yang menimbang antara ekspresi diri dan tubuh kolektif.

Penampil Asal Genre / Fokus Keterangan
Larissa Umayta & Joao Pedro Mansur Sobradinho, Brasil Fusion: tradisi rakyat + elektronik Debut di Asia; perjalanan lebih dari 30 jam
M. Ramdhani — Noise://Tangsel Indonesia Audio-performans Mengolah suara kota menjadi pementasan
Barade Monolog Ngaos Art Indonesia Teater monolog / naratif Menjelajahi tema ego dan tubuh

  • Festival seperti Lanjong semakin menguatkan peran ruang non-urban sebagai arena pertukaran budaya internasional.
  • Kehadiran artis asing membuka peluang kolaborasi dan eksposur bagi seniman lokal, sekaligus menarik perhatian wisata budaya.
  • Penonton mendapat akses langsung pada ragam praktik musik yang jarang ditemui di Indonesia bagian timur.
  • Logistik dan dampak lingkungan tetap menjadi aspek yang perlu diperhatikan ketika acara internasional digelar di lokasi sensitif.

Penutupan malam itu meninggalkan kesan ganda: hiburan yang memikat sekaligus pembuka kemungkinan. Lanjong Art Festival 2025 tampak bukan sekadar pentas akhir pekan, melainkan bagian dari tren yang membawa cerita global ke panggung lokal—dan sebaliknya.

Artikel serupa :

Beri nilai postingan ini

Tinggalkan komentar

Share to...